Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Yakin tidak akan disentuh


__ADS_3

Bilqis menangis saat bersimpuh di kaki sang Ibu. Tangisnya pecah karena melihat isakan tangis Laila. Sungguh Laila tidak pernah menyangka hari bahagia ini akan tiba. Tidak pernah terbesit di kepala Laila jika putri kesayangannya akan menikah di tahun ini. Walau sederhana dan kilat, Laila tetap bersyukur karena ia melihat jelas kasih sayang dan kesungguhan dari Alex.


“Bu, maafin Bilqis. Maaf Bilqis belum banyak membahagiakan Ibu.”


Laila tak berhenti meneteskan airmata. Keringat dan darah yang sudah ia keluarkan untuk membesarkan anaknya seorang diri, ternyata berbuah manis.


“Kamu anak yang berbakti, Sayang. Ibu sudah selalu kamu bahagiakan. Sekarang waktunya kamu membahagiakan dirimu sendiri,” kata Laila, membuat Bilqis ikut berlinang airmata.


Bahagia? Satu kata yang sudah Bilqis temui sebenarnya, tapi sang Ibu selalu mengatakan bahwa dengan menikah hidupmu akan bahagia. Padahal selama ini hidupnya memang sudah bahagia. tinggal bersama sang Ibu dan adiknya sudah membuatnya bahagia. Memiliki teman-teman dan sahabat yang baik juga sudah membuatnya bahagia. Bahkan saat sang ibu sumringah ketika ia berikan uang bulanan atau baju dan tas bagus untuk hadir dipengajian, sudah membuat Bilqis bahagia. Apa menikah memiliki kebahagiaan yang lain? Entahlah.


“Terima kasih, sudah menjadi Ibu yang baik untuk Bilqis, Bu.”


Laila mengangguk dan menjawab, “terima kasih juga, telah menjadi putri Ibu yang baik, pengertian, dan bisa diandalkan.”


“Biqis sayang Ibu.”


“Ibu juga sayang kamu.”


Ibu dan anak itu berpelukan, membuat haru suasana paska ijab qabul berlangsung. Alex yang melihat pemandangan itu pun ikut terharu. Banyak kelebihan yang sudah ia lihat di diri Bilqis. Oleh karena itu, ia langsung mengikat wanita itu dengan cepat.


Posisi Bilqis dan Alex pun berpindah. Alex yang semula berpelukan dengan Radit selaku pengganti ayah Bilqis. Kini beralih ke hadapan Laila. Sedangkan Bilqis beralih ke hadapan Radit.


“Jaga putri Ibu ya, Nak.”


“Pasti.” Alex mengangguk.


“Bantu Bilqis untuk menghilangkan traumanya. Ibu tahu kamu adalah pria yang tepat untuk putri Ibu.”


Alex kembali mengangguk, menerima wejangan dari ibu mertuanya. Ia tahu betul trauma yang dialami Bilqis tentang pernikahan. Dan, Alex memang akan membenarkan paradigma salah yang selama ini bersemayam di kepala Bilqis tentang sebuah pernikahan.


“Alex memang tidak mau janji, tapi Alex akan berusaha sepenuh hati untuk menyayangi dan menjaga putri Ibu.”


Laila terharu dan memeluk Alex. Di samping mereka, justru tidak seharu apa yang Alex dan Laila lakukan. Kedua kakak beradik itu malah terlihat tidak serius.


“Mbak, awas ya! Lu jangan sampe cerai. Soalnya nanti gue ditanya di akhirat,” kata Radit seolah ingin mengajak ribut kakaknya.


“Ish. Apaan sih? Orang baru nikah udah ngomongin cerai.” Bilqis hendak memukul sang adik yang sudah meringkuk memasang tangannya ke kepala untuk melindungi kepalanya sembari tertawa.

__ADS_1


Radit memang paling senang membuat sang kakak kesal, karena ia tahu dibalik itu ada jiwa penyayang dan ketulusan.


Bilqis mengerucutkan bibir. Jika dengan sang Ibu tadi, ia menangis hingga sesak dada. Kini bersama sang adik, dadanya juga sesak, tapi bukan karena terharu melainkan kesal.


Usai bersalaman dengan keluarga inti, Alex dan Bilqis menerima ucapan dari para tamu. Ustadz Abdullah adalah orang yang pertama memberi mereka ucapan pernikahan di selingi dengan tausiah sepatah dua patah. Setelah itu Mr. Ammar dan Salman. Kedua kolega yang cukup dekat dengan Alex itu berbincang lama dengan kedua mempelai, hingga Alex menyuruh mereka untuk menyantap hidangan yang tersedia.


Bimo mendesign rumah minumalis Bilqis seperti sebuah resepsi pernikahan sederhana. Tapi menurut Bilqis, ini bukan pernikahan sederhana, walau pun tidak di gedung mewah, tapi Alex menyiapkan pelaminan mini, prasmanan, dan gubuk – gubuk makanan yang lumayan banyak. Para tetangga Bilqi datang dadakan.


“Jeng, maaf ya, kami ga bawa apa-apa. habis, jeng sih undangannya dadakan,” ucap salah satu tetangga Bilqis yang bersalaman dengan Laila.


Bilqis tahu, Alex tidak akan mempermasalahkan sama sekali tentang biaya yang sudah ia keluarkan untuk hari ini. Laila pun tidak berharap yang datang memberi ucapan akan memberinya amplop, karena diluar memang tidak disediakan kotak amlpop seperti pesta pernikahan pada umumnya. Padahal yang datang tetap diberikan souvenir.


“Bilqis,” panggil Alana yang sedari tadi hanya mendapat senyum dari mempelai wanita yang berdiri di atas pelaminan kecil.


“Alana …” Bilqis yang antusias melihat sahabatnya itu pun, langsung membentangkan kedua tangan.


Alana berlari ke arah Bilqis dan berpelukan. Mereka berpelukan sangat erat hingga kedua tubuh mereka bergoyang. Reno, suami Alanan yang sedang menggendong bayi berusia enam bulan itu ikut berjalan di belakang istrinya. Ia lebih dulu menyalami Alex. Pria yang pernah menjadi rivalnya karena saat pernikahan mereka renggang, Alana dan Alex semapt dekat.


“Selamat, Sir. Semoga Sakinah, Mawaddah, Warrahmah.”


“Terima kasih atas doanya. Aamin,” jawab Alex.


“Perempuan kalau udah ketemu, rame ya.” Reno menambahi sembari menatap istri dan mempelai wanita yang saling berpelukan dengan suara riang.


“Ya, gitu deh.” Alex mengangguk setuju.


Setelah rindu tersalurkan melalui pelukan, Bilqis dan Alana melonggarkan pelukan itu.


“Qis, kamu tuh ya malu-maluin banget sih, tadi,” ucap Alana.


Bilqis tersenyum. Ia tahu maksud perkataan Alana. Pasti, sahabatnya itu sedang membahas kesalahpahamannya saat Pak penghulu meminta dirinya untuk mencium Alex.


Bilqis nyengir.


“Udah ga tahan ya, Qis.” Reno menimpali dengan meledek sahabat istrinya itu.


“Dih, apaan sih, Mas Reno.” Bilqis melirik Alex yang juga tengah tersenyum padanya.

__ADS_1


“Makanya, kamu tuh kalo dapet undangan, dateng pas akad. Jangan cuma datengnya pas mau makan doang.”


BIlqis kembali nyengir. “Ah, kamu Al. malah ngingetin lagi.”


“Ya, kan jadi ga pengalaman,” kata Alana lagi.


“Dia tuh, kebanyakan nonton drama korea yang abis nikah langsung nyosor.” Reno tertawa.


“Dih, sejak kapan Mas Reno bisa ngeledekin orang. Wah … wah … ga beres.” Bilqis menggelengkan kepala.


Sontak, Alana dan Reno pun tertawa. Apalagi Alex. Pria itu juga ikut tertawa.


“Kamu belain aku napa, Mas. Istrinya diledekin malah ikut ketawa,” ujar Bilqis pada Alex dengan bibir cemberut.


“Mas?” tanya Reno.


“Wah … ternyata, kalian sudah pacaran sebelumnya?” tanya Alana pada Bilqis. “Kamu hutang cerita ssama aku ya.”


“Bukan pacaran lagi, tapi udah DP,” sahut Alex dengan kalimat ambigu.


“Mas!” Bilqis membulatkan matanya ke arah Alex. “Bohong. Jangan dengerin!”


Alana dan Reno kembali tertawa.


“Baru DP bibirnya aja sih,” sambung Alex membenarkan ucapannya yang ambigu tadi.


“Santai, Sir. kita mah udah ngerti. Cuma Bilqis yang belu ngerti,” sahut Reno, membuat Bilqis kembali mengerucutkan bibirnya.


“Sabar ya, Sir. nanti pelan-pelan. Kasihan Bilqis.” Alana menambahi saat ia akan beranjak pergi dari pelaminan.


“Oke.” Alex menjawab Alana dengan menaikkan ibu jarinya.


Kemudian, Alex menoleh ke arah istrinya yang menatapnya tajam.


“Di depan orang lain, kita memang benar-benar harus terlihat sebagai pasangan pengantin baru sungguhan kan?" bisik Alex yang tahu jika Bilqis akan mengingatkannya tentang perjanjian pra nikah itu.


Bilqis sangat yakin, walau status mereka sudah menikah, dirinya tidak akan disentuh Alex karena perjanjian brilian itu. Berbeda pemikiran dengan Bilqis, justru Alex yakin akan setiap saat menyentuh istrinya tanpa wanita itu sadari.

__ADS_1


__ADS_2