
“Hei, mau ke mana kamu?” tanya Lenka dengan sengit kepada Radit.
Semalam, tepat pukul sebelas ambulans datang dan membawa Ronal alias Ridho ke rumah sakit. Darwis sengaja membawa sahabatnya ke rumah sakit yang bekerja sama dengannya. Darwis langsung sibuk menangani Ronal bersama tim dokter yang ada di sana, sehingga Darwis meninggalkan Lenka bedua saja di ruang tunggu bersama Radit.
Malam itu, Radit hanya termenung. Pikirannya kosong. Ia hanya duduk dengan pandangan ke arah ruang intalasi gawat darurat yang di dalamnya terdapat sang ayah dengan kondisi memprihatinkan.
Ronal tak sadarkan diri dan dinyatakan koma. Bukan hanya kepalanya yang terganggu karena beturan hebat itu. Ternyata, kepanikan membuat detak jantung Ronal tidak sesuai ritmenya. Keluhan penyakit yang mulai terasa sejak usianya menginjak lima puluh lima tahun itu, membuat kondisi Ronal saat ini semakin parah.
Ronal jauh lebih tua dari Darwis. Saat mereka kenal di Singapura, Darwis baru akan menikah, sedangkan Ronal alias Ridho sudah membawa anak perempuan berusia enam tahun yang Darwis kenal dengan nama Tasya.
Radit yang tengah bangkit dari kursinya, menoleh sinis ke arah Lenka. “Saya bukan suami anda. Saya tidak kabur. Saya akan bertanggungjawab atas apa yang saya lakukan pada suami anda.”
“Good. Itu bagus. Karena saya akan melaporkan kasus ini ke polisi. Saya akan memejarakanmu. Enak saja memukuli orang lain seperti itu.”
Lenka belum tahu siapa Radit. Darwis yang panik, belum sempat memberitahu tentang Radit.
Radit melengos, mendengar perkataan Lenka. Ia mengabaikan ocehan wanita yang usianya lebih tua dari ibunya. Radit tahu konsekuensi yang akan ia dapatkan setelah ini. Ia pasrah jika harus dipenjara. Apalagi jika sampai Ronal kehilangan nyawa. Sungguh, bukan itu yang diinginkan Radit. Ia tidak berniat menghabiskan nyawa ayahnya sendiri karena itu adalah dosa bear. Tidak ada dalam niatan Radit untuk melakukan itu. Ia hanya ingin melampiaskan sakit hatinya dengan sedikit memberi pukulan pada pria itu. walau itu pun juga salah.
“Hei, mau ke mana kamu?” tanya Lenka lagi, setelah melihat Radit yang tetap melenggang pergi dan mengabaikan ucapannya.
Radit terus melangkah. Ia ingin melakukan sesuatu untuk sang ayah. sebenci – bencinya dia terhadap Ridho, tapi ia pun tetap ingin ayahnya hidup.
“Hei, tunggu!” teriak Lenka yang mengekori langkah Radit.
Radit berhenti tepat di sebuah musholla kecil, karena saat ia tersadar dari lamunan panjangnya, ternyata waktu menunjukkan pukul lima pagi.
Radit cukup tahu siapa wanita yang ada di hadapannya ini. Wanita yang pernah ibunya ceritakan. Radit tahu dari nama yang dipanggil Darwis saat wanita itu panik melihat kondisi Ridho. Nama itu, sama seperti nama yang pernah ibunya ceritakan tentang masa lalu sang Ibu, kala mereka berada di Malang untuk mencari wali bagi sang kakak yang akan menikah cepat.
Lagi – lagi, Radit mengabaikan panggilan Lenka. Ia tidak peduli dan tetap memasuki mushola kecil yang ada di sudut ruangan tempat Ridho dilakukan tindakan medis.
Lenka menghentikan langkahnya. Dia tidak lagi mengikuti Radit dan kembali ke ruang tunggu yang berada tepat di depan pintu ruangan Ronal alias Ridho.
Satu jam kemudian, di kediaman Alex, Bilqis sudah tampak rapi dengan pakaian olahraganya. Di luar kamar, Aurel pun sudah rapi. Bahkan anak kecil itu sudah bersama ayahnya menuju garasi.
Bilqis masih mematung di depan cermin, setelah perlakuan Alex sebelum pria itu meninggalkan kamar. Ulah Alex yang mengecup bagian samping lehernya, masih sangat terasa, hingga basah saliva Alex pun tertinggal.
Baru saja ia menghapus jejak itu, ponselnya berdering.
Dret … Dret … Dret …
Bilqis mengambil benda itu dan melihat nama sang ibu di layar. Ia pun langsung mengangkatnya.
“Assalamualaikum, Bu.”
“Waalaikumusalam, Qis,” suara Laila terdengar panik.
“Ada apa, Bu? Kok suara Ibu panik begitu?” tanya Bilqis yang faham dengan suara ibunya.
“Qis, Radit ada di rumahmu?” tanya Laila lagi.
“Ngga.” Bilqis menggeleng dengan gelengan kepala yang tak bisa dilihat Laila.
“Semalam, adikmu pamit keluar rumah untuk bertemu teman – temannya. Ibu kira dia pulang tengah malam, tapi tadi pas ibu buka kamarnya, ternyata kosong. Ke mana Adaikmu, Qis?”
Suara Laila semakin panik dan kepanikan itu sangat jelas terdengar oleh Bilqis.
“Tenang, Bu.” jawab Bilqis. “Mungkin Radit menginap di rumah salah satu temannya.”
__ADS_1
“Tidak, Qis. Radit itu selalu bilang ke Ibu kalau menginap.”
“Ibu sudah menelepon ponsel Radit?” tanya Bilqis.
“Sudah, tapi ponselnya tergeletak di kasur. Sepertinya dia tidak membawa handphone,” jawab Laila.
Bilqis pun berpikir sejenak.
“Semalam, Radit bilang akan pulang tengah malam. Dia meminta ibu untuk tidak menunggu kepulangannya karena dia bawa kunci sendiri. Bilqis, bagaimana ini? Di mana adikmu?”
“Sebentar, Bu. Bilqis akan meminta bantuan Mas Alex. Dia akan mencari Radit.”
“Benar ya, Qis? Ibu benar – benar panik. Ibu hanya takut, adikmu ikutan nongkrong sama teman – temannya. Terus temannya ada yang narkoba dan adikmu ikut ke ciduk, walau ibu tahu adikmu tidak akan menggunakan obat terlarang itu.”
“Ibu,” panggil Bilqis lembut. “Ibu terlalu sering menonton berita kriminal. Adik Bilqis tidak akan seperti itu. lagi pula, Bilqis kenal teman – temannya.”
“Ibu tidak perlu khwatir. Mas Alex akan mencari Radit dan Bilqis akan datang ke rumah Ibu sekarang,” kata Bilqis lagi untuk menenangkan sang Ibu.
“Benar, Qis?”
“Benar, Bu. Bilqis ke rumah Ibu sekarang ya.”
“Baik lah, Nak. Ibu tunggu.”
Bilqis mengangguk dan mengucapkan salam saat sambungan telepon itu hendak diakhiri. Laila pun membalas ucapan salam itu.
“Kenapa, Sayang?” tiba – tiba suara Alex bertanya dan menghampiri istrinya yang masih berada di dalam kamar.
“Mas, Radit belum pulang dari semalam. Bisa kamu tolong carikan di mana dia berada Sekarang!”
Alex mengangguk. “Tentu saja.”
Alex langsung memerintahkan Bima untuk mencari tahu keberadaan Radit. Rencana Alex yang akan membawa keluarga kecilnya ke taman dan berolahraga pun diurungkan. Alex memilih mengantarkan sang istri ke rumah Ibunya untuk menemani Laila yang sedang panik.
“Sayang, kita akan ke rumah nenek,” ucap Bilqis pada Aurel saat ada di dalam mobil bersama Alex yang sedang mengendarai. “Tidak apa kan, ke tamannya kapan – kapan?”
Aurel mengangguk. “Iya, Mom. Tidak apa kok. Aurel juga suka ke rumah Nenek.”
Bilqis tersenyum dan mengusap kepala Aurel yang berada di tengah antara kursinya dan kursi Alex. Aurel yang berada di belakang, memilih berdiri di sana agar lebih dekat dengan tmpat duduk kedua orang tuanya.
Tak lama kemudian, mobil Alex tiba di rumah Laila. Wanita yang tak lagi muda, namun masih terlihat cantik itu pun langsung berlari menuju putri dan anak sambung putrinya. Cucu sambung yang sebenarnya adalah cucu kandungnya sendiri.
“Bilqis.” Laila langsung memeluk sang putri.
“Ibu, kenapa nangis?” tanya Bilqis yang bingung melihat keadaan sang ibu hingga seperti ini. Bilqis pikir, anak laki – laki memang sering keluyuran. Ia tidak berpikir bahwa sang adik di luar sana sedang membelanya, membela dua wanita yang sangat disayanginya.
“Tidak tahu.” Laila menggeleng. “Firasat ibu tidak enak. Dari tadi ibu gelisah menunggu kabar adikmu,” jawab Laila.
“Tenang, Bu. Mas Alex sedang mencari Radit.”
“Nenek.” Aurel langsung memanggil Laila.
Laila pun menoleh dan langsung memeluk cucunya. Pelukan itu sangat erat dan menenangkan. Entah mengapa bersama Aurel, ia serasa memiliki cucu sendiri.
Ketiga wanita itu jalan lebih dulu memasui rumah Laila dan Alex tertinggal karena saat keluar dari mobil, ponselnya berdering.
“Sayang, aku sudah menemukan di mana Radit,” ucap Alex setelah memutuskan sambungan teleponnya tadi.
__ADS_1
Sontak, Bilqis yang hendak ke dalam rumah, langsung kembali kelar.
“Bilqis, Ibu ikut,” teriak Laila yang juga ingin bertemu sang putra dan memarahinya karena telah membuat Laila panik setengah mati.
“Ayo!”
Bilqis menggandeng lengan Aurel untuk kembali ke mobil ayahnya. Laila pun ikut bersama usai mengunci semua pintu rumah.
“Mas, kok Radit ada di rumah sakit. Kenapa? Apa dia ikut tawuran?” tanya Bilqis panik setelah bertanya pada sang suami di mana adiknya dan Alex menjawab di rumah sakit.
Alex sudah lebih tahu apa yang terjadi pada Radit, berdasarkan informasi dari Bima melalui penelusuran ekspres yang dilakukan asistennya itu. memang Alex akui, Bima handal dalam hal mencari informasi. Terkadang Alex berpikir bahwa Bima lebih cocok menjadi detektif.
“Iya, Nak. Radit kenapa? Kok bisa ada di rumah sakit.”
“Tenang sayang.” Alex menggenggam tangan Bilqis yang ada di sebelahnya. Lalu, ia melirik sang ibu mertua melalui kaca spion dalam. “Tidak Ibu, Radit tidak apa – apa. Dia hanya menemani seseorang yang terluka di sana.”
“Pasti, dia menemani temannya yang terluka karena tawuran. Kamu benar Qis, anak itu pasti ikut tawuran. Dia kan selalu tidak enakan sama temannya,” ujar Laila kesal.
Sesampainya di rumah sakit, Maya dan Nia sudah berada di lobby karena Alex langsung menghubungi pengasuh dan asisten rumahnya untuk membawa Aurel pulang.
“Sayang, kamu puang dulu sama Nanny. Daddy dan Mommy ada urusan di sini. Anak kecil tidak boleh masuk rumah sakit karena di dalam banyak penyakit. Oke!”
Aurel langsung mengangguk. ia memang tidak suka dengan bau rumah sakit. Bilqis pun mencium pipi putri sambungnya saat Aurel hendak dibawa Maya dan Nia.
“Tunggu Mommy di rumah ya!”
Aurel mengangguk. “Daah Mommy. Daah Nenek.”
Laila juga mengecup pipi Aurel dengan sayang sebelum pulang.
Setelah itu, Bilqis dan Laila kembali mengikuti langkah Alex ke sebuah ruangan. ruangan ekslusif dan dingin dan tidak banyak orang di dalamnya. Namun dari kejauhan Laila, Bilqis, dan Alex melihat dua pria berseragam polisi hendak memborgol Radit.
“Radit,” panggil Laila histeris.
Lenka terkejut saat melihat Laila memeluk pria yang sejak semalam menemaninya di ruangan ini. walau mereka duduk berjauhan tapi Lenka sempat bingung dengan wajah Radit yang sedikit memiliki kemiripan dengan wajah suaminya.
“Laila.”
Panggilan Lenka, sontak membuat Laila menoleh. “Lenka.”
“Stop! Jangan bawa adik iparku!” pinta Alex kepada petugas yang hendak membawa Radit.
“Apa – apan kamu, Lex? Jangan membelapria itu,” ucap Lenka kesal. “Dia sudah membuat ayah mertuamu babak belur dan tidak sadarkan diri sampai sekarang."
Bilqis bingung. “Ayah mertua?”
“Lepaskan Radit. Dia adik iparku. Aku sudah menikahi Bilqis, kembaran Tasya.”
Jedar
Bilqis menganga. Laila terkejut dan Radit pun demikian. Di saat bersamaan, Darwis keluar dari ruangan Ronal alias Ridho.
Lenka tak kalah terkejut. ia menatap ke arah Bilqis. Ya wajahnya sama seperti anak yang telah diasuhnya dari bayi hingga dewasa dan menikah lalu meninggal diusia muda. Lalu, Lenka juga menatap Radit. Ia baru sadar bahwa dua anak itu adalah anak kandung suaminya bersama Laila.
“Lepaskan Radit atau dengan terpaksa Alex melaporkan Mama atas penyalahgunaan identitas seseorang.”
Jedar
__ADS_1
Ucapa Alex membuat Lenka mati kutu.