Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Orang - orang tulus


__ADS_3

“Mbak, aku ke kamar mandi duluan,” ujar Radit menahan Bilqis yang juga tengah ingin menggunakan ruangan kecil itu.


“Mbak duluan. Sebentar.”


“Ah, pasti Mbak lama, mau keramas dulu kan?”


Bilqis mengeryitkan dahi. “Apaan sih?” ia langsung mendorong Radit dan ke kamar mandi dengan langkah agak sedikit pincang. Namun, Radit justru berpikir lain. Cara jalan sang kakak yang demikian karena sudah tidak per*w*n lagi.


Bilqis hanya berwudhu. Semalam, saat Alex terlelap, ia terbangun dan memilih untuk membersihkan diri ketika semua penghuni sudah beristirahat. Bilqis masih tidak menyangka dengan apa yang terjadi pada dirinya. Setiap sentuhan yang Alex lakukan pada tubuhnya, masih tetap ia rasakan.


Tak lama kemudian, Bilqis keluar dari kamar mandi. Di luar ruangan itu, Radit menatap sang kakak.


“Loh, kok cuma wudhu doang?” tanya Radit bingung karena sang kakak tidak mandi dan rambutnya pun tidak basah.


“Lah, emang kenapa?” Bilqis yang juga bingung, balik bertanya.


“Rambut juga ga basah,” ucap Radit lagi dengan memegang rambut kakaknya yang terlihat kering.


“Ish, apaan sih kamu.” Bilqis menepis tangan sang adik. “Kepo banget jadi orang.”


“Radit emang bukan yang pintar agama ya, Mbak. Tapi dimana – mana kalau abis begituan itu mandi junub.”


Bilqis melongo. Ia diceramahi oleh bocah ingusan menurutnya, karena menurut Bilqis, Radit tetaplah adiknya yang masih kecil, walau pria itu sudah dewasa dan memasuki usia dua puluh tiga tahun.


“Aku aja, gara – gara Mbak, jadi mau keramas nih.”


Bilqis kembali mengernyitkan dahi. “Ngomong apa sih? Ngga jelas. Lagian siapa yang begituan?”


“Lah, bukannya semalam Mbak ah, ih, uh.”


“Kamu nguping?” tanya Bilqis kesal.

__ADS_1


“Ngga nguping, tapi kedengeran,” jawab Radit tak mau kalah.


“Kaki aku terkilir. Nih liat!” Bilqis menunjukkan Kakinya yang memakai perban elastis. “Jadi yang kamu dengar itu karena Mas Alex mengobati kaki Kakak.”


Radit pun terdiam sembari mencerna apa yang ia dengar semalam dengan kenyataan yang ada. Bilqis menndektai sang adik dan menekan dahi Radit dengan jari telunjuknya.


“Makanya jangan suka liat video p*n*!”


Kemudian, Bilqis berlalu dari hadapan sang adik yang masih diam mematung. Radit menutup wajahnya dengan menahan rasa malu. Akhirnya, kemesumannya diketahui sang kakak.


Di dalam kamar, Alex menunggu Bilqis. Pria itu tampak tampan dengan balutan koko berwarna putih dan celana panjang cokelat muda yang digulung hingga diatas mata kaki. Untungnya, Alex terbangun lebih dulu dan menggunakan kamar mandi sebelum penghuni yang lain terbangun.


Ceklek


Bilqis membuka pintu kamar dan melangkah perlahan.


“Lama sekali?” tanya Alex yang menunggu Bilqis dengan duduk di tepi ranjang untuk sholat subuh berjamaah.


Bilqis memandang suaminya. Wajah Alex terlihat putih bersinar dan koko yang dipakainya pun menambah ketampanan pria itu. Bilqis pun terpesona dan tersenyum.


Bilqis kembali melangkah dan memakai mukena yang sudah tersedia di atas sajadah. Alex pun bangkit dan mendekati sang istri. Ia membantu Bilqis untuk memakai mukena.


“Kakimu masih sakit?” tanya Alex di sela – sela aktifitasnya memakaikan pakaian sholat.


Bilqis menggeleng. “Lebih baik dengan krim yang kamu berikan semalam. Hanya masih sakit sedikit.”


Sebelumnya, Alex menawarkan diri untuk menggendong sang istri, jika kakinya masih terasa sakit. tapi, Bilqis menolak. Ia malu jika dilihat oleh adik dan ibunya.


“Mas, nanti siang kamu langsung bawa aku ke rumah kamu?” tanya Bilqis pada suaminya.


Rencananya malah, selesai akad dan resepsi sederhana kemarin, Alex hendak langsung membawa Bilqis ke rumahnya. Namun karena permintaan Laila, Alex pun mengurungkan niat itu. Ia menghargai keinginan Laila yang masih ingin bersama putrinya.

__ADS_1


Alex mengangguk. “Rencananya begitu. Tapi kalau kamu masih ingin di sini, tidak apa. hari ini masih hari sabtu. Aurel juga masih libur. Kita bisa menginap satu malam lagi.”


Bilqis menggeleng. “Tidak, Mas. Kita ke rumahmu aja siang ini.”


“Kenapa?” tanya Alex bingung.


“Aku ga mau kegiatan kita mengkontaminasi pikiran adikku.”


“Maksudnya?” Alex tersenyum dan kembali bertanya.


“Semalam Radit tuh nguping aktifitas kita, Mas.”


Sontak Alex tertawa. “Oh ya?”


“Ish, kok kamu malah tertawa,” rengek Bilqis.


Alex hanya baru menemukan keluarga yang seperti keluarga Bilqis. Karena semua anggtoa keluarga itu memang lucu tak terkecuali sang ibu. Alex senang menjadi bagian dari keluarga yang harmmonis dan humoris ini.


“Ya, ya, ya … di sini memang tidak aman,” sahut Alex dengen menyudahi tawanya.


Kemudian, Alex berdiri di depan Bilqis. Ia memimpin sholat berjamaah itu, seperti ia yang juga memimpin keluarga kecilnya nanti. Alex akui, bahwa dirinya bukanlah pria sempurna. Masa mudanya jauh dari agama. Namun, semua itu perlahan menjadi lebih baik setelah kehadiran Tasya dan Aurel. Menikah menjadikannya hidup tak lagi untuk dirinya sendiri. Menikah, membuatnya berarti dan dinanti. Oleh sebab itu ia selalu ingin menjadi suami dan ayah sempurna untuk keluargnya. Dan sekarang, ia juga ingin menjadi suami yang sempurna untuk Bilqis.


****


Setelah drama panjang, akhirnya Alex membawa Bilqis ke rumah besarnya. Alex juga membawa adik ipar serta ibu mertuanya.


“Nenek, ini rumahku,” ucap Aurel pada Laila.


Selama di rumah Bilqis, Aurel merasakan kasih sayang Laila. Anak kecil itu seperti sedang bersama neneknya sendiri. Di saat Aurel terbangun di tengah malam dan ingin membuang air kecil, Laila dengan sigap ikut terbangun dan mengantarkan anak kecil itu ke kamar mandi, padahal saat itu Laila belum lama terlelap.


“Wah, rumah Aurel besar sekali,” jawab Laila ketika baru keluar dari mobil, setelah Aurel yang lebih dulu keluar dari kendaraan roda empat itu.

__ADS_1


Di sisi lain, Radit malah sudah berpoto ria. Ia brselfie dan memoto taman rumah Alex yang memang indah, ditambah air mancur buatan di kolam yang di dalamnya terdapat banyak ikan – ikan berwarna emas yang cukup besar.


Alex tersenyum sembari menuntun sang istri untuk memasuki rumahnya. Bilqis masih berjalan dengan tertatih. Walau keluarga Bilqis datang dari keluarga sederhana, tapi Alex tidak melihat ketamakan dari anggota keluarganya itu. Baik Radit, Laila, dan juga Bilqis, semua terlihat tulus. Itu terbukti dari cara mereka memperlakukan putrinya. Dan, hal itu pula yang menjadi poin besar ketika Alex memutuskan untuk segera menikahi Bilqis. Selain karena paras Bilqis yang mirip dengan mendiang istri, sikap Bilqis juga mampu membuat hidupnya penuh tawa dan warna. Dan yang terpenting, Bilqis menyayangi putrinya, itu adalah poin yang lebih penting dari poin lain sebelumnya. Alex tidak hanya mencari teman hidup untuk dirinya sendiri, tapi yang terpenting adalah ibu untuk putrinya.


__ADS_2