
Bilqis segera keluar dari mobil saat ia sudah memarkirkan mobilnya di basement. Ia langsung berlari ke dalam gedung. Namun, ia kembali memutar tubuhnya saat ia melupakan sesuatu di dalam mobil itu.
“Ah, ya ampun kertas itu.” Bilqis menepuk keningnya dan berlari lagi menuju mobil.
Di dalam gedung yang dilapisi pintu kaca, Alex menunggu Bilqis di balik tempok. Ia melihat dari kejauhan wanita yang unik itu. Bilqis tampak repot dengan menyelempangkan tas besar pada bahunya. Tas yang menurut Alex seperti kantong doraemon karena di dalam tas itu terdapat banyak benda penting dan tidak penting. Selain tasnya, Bilqis juga direpotkan dengan membawa laptop dan bekal makanan.
Alex kembali melihat Bilqis yang kembali menuju mobilnya saat ia sudah keluar tadi untuk mengambil sebuah map.
“Dasar wanita ceroboh!” Alex menggelengkan kepala karena ini adalah ketiga kalinya Bilqis kembali ke mobilnya untuk mengambil barangnya yang tertinggal.
Alex pun masuk ke dalam lift. Dari kejauhan ia melihat Bilqis yang mendekati pintu masuk dan hendak menuju lift.
Lagi-lagi, Bilqis harus bertemu dengan pria menyebalkan itu di pagi hari saat baru saja akan memulai aktifitasnya di gedung ini.
“Ayo masuk!” kata Alex dengan tangan yang masih meneka tombol buka agar pintu lift itu tetap terbuka.
Dari luar, terlihat beberapa orang melangkah menuju tempat Alex dan Bilqis.
“Ayo cepat, masuk! Mereka juga akan menggunakan lift ini,” kata Alex yang tidak mau ada orang lain di dalam lift kecuali ia dan sekretarisnya dan orang-orang yang datang untuk menggunakan lift itu juga mengerti.
“Kenapa Sir tidak menggunakan lift sendiri sih. Di sana kan ada lift khusus CEO,” jawab Bilqis sembari menunjuk lift yang kosong dan tidak digunakan.
“Sudah, jangan banyak bicara! Ayo!” Alex langsung menarik lengan Bilqis yang sedang memegang banyak barang.
Kaki Bilqis pun otomatis melangkah dan memasuki lift itu. Kedua tangan Bilqis penuh memegang barang. Tangan kanannya selain menyelemngkan tas, ia juga memegang bekal makanan sembari membekap tas laptopnya. Lalu di tangan kiri, Bilqis membawa paper bag dan sebuah amplop.
“Apa saja yang kau bawa? Banyak sekali,” tanya Alex sembari melihat barang di tangan Bilqis.
“Ini!” Bilqis menunjuk tangan kanannya. “Tas laptop dan bekal makanan. Dan ini!” Bilqis menunjuk tangan kirinya. “Tas Tina yang satu bulan lalu, saya pinjam dan belum dikembalikan.”
“Pinjam? Kau meminjam tas orang lain? Lihat!” Alex langsung menyambar paper bag yang semula berada di tangan Bilqis. Dengan mudah ia menyambar benda itu karena Alex tidak memegang benda apa pun di tangannya.
“Untuk apa kamu memiinjam tas orang lain?” tanya Alex sembari melihat isi paper bag itu.
“Untuk gaya-gaya an pas kondangan karena tas Tina bagus-bagus.”
Alex terkejut. Ia tidak percaya ada wanita seperti Bilqis. Padahal menurut Bilqis, itu adalah hal biasa. Sejak sekolah ia dan teman-temannya yang perempuan memang sering bertukar benda, baik itu tas, sepatu atau baju. Walau sebenarnya itu tidak diperbolehkan karena Laila pun sering mengomeli anaknya jik melakukan hal ini.
“Kami sudah biasa bertukar benda. Lagi pula, Tina sering dibelikan tas branded oleh Mr. Jhon. Jadi tas Tina banyak. Tidak masalah jika saya meminjamnya satu,” kata Bilqis lagi sembari menarik lagi pepar bag itu dari tangan Alex. “Sini, kembalikan.”
Kini justru Alex yang begidik ngeri saat Bilqis mengucapkan ‘kami sudah terbiasa bertukar benda’. Pikirannya malah tertuju pada Jhon yang menurutnya gila. Ia tahu betul perangai temannya itu. saat kuliah Jhon sering kali bermain wanita hingga bertukar pasangan dengan teman kuliahnya yang lain.
__ADS_1
“Aku bisa membelikan tas seperti ini sebanyak yang kamu mau. bahkan hingga tokonya,” ucap Alex tegas. “Jangan meminjam lagi apa pun pada orang lain! Jangan bertukar benda apa pun lagi pada orang lain! Cukup kamu bilang apa yang kamu butuhkan dan aku akan memberikannya.”
Sontak, Bilqis melongo. Lagi-lagi kata-kata yang keluar dari mulut Alex membuatnya tidak bisa berkutik.
Tring
Lift berhenti di lantai yang ditekan Alex setelah pintu itu tertutup saat masih di basement. Lalu, pintu itu pun terbuka.
“Ingat! Sebentar lagi, kau akan jadi istriku. Jadi tinggalkan kebiasaan burukmu ini.” Alex langsung melangkahkan kakinya lebih dulu setelah berucap demikian.
Bilqis pun mengernyitkan dahinya. “Istri?” mendengar Alex menyebutnya calon istri membuat Bilqis pun begidik ngeri.
Setelah Alex keluar dari lift lebih dulu, Bilqis mengikuti pria itu dari belakang. Bilqis terus melangkah sembari membenahi barang bawaannya yang terkadang hampir jatuh. Di depan, Alex tidak berinisiatif untuk membantu membawakan barang yang membuat wanita di belakangnya itu terlihat repot.
Bilqis pun hanya mendengus kesal. Bagaimana menjadi suami? jika seperti saja pria itu tidak peka. Rasanya Bilqis tidak yakin. Mungkin ia harus menambah satu poin lagi pada perjanjian yang sudah ia buat semalam.
Dug
Kepala Bilqis yang sedang menunduk sambil berjalan itu, tiba-tiba tersundul dada Alex lagi.
“Ck. Jalan itu lurus ke depan Bilqis. Jangan menunduk!” ucap Alex.
Bilqis pun mendongak. “Lagian ngapain sih, Sir berhenti?”
Bilqis memonyongkan bibirnya. Lalu, ia melihat arah mata Alex yang tertuju pada map cokelat yang ia pegang.
“Ini apa?” tanya Alex.
“Map,” jawawb Bilqis tanpa merasa bersalah dengan jawabannya.
“Ya, aku tahu ini map. Ini memang bukan pakaian d*l*m mu yang bergambar sofia.”
Sontak Bilqis membuatkan matanya dan Alex pun tertawa. Lalu, Alex mengambil map itu tanpa permisi dan kembali berjalan.
“Sir, tunggu. Jangan di buka!” Bilqis berjalan mendahului Alex dan mengambil kembali map itu. “Ini akan saya berikan nanti. Anda tidak boleh tahu lebih dulu.”
Alex mengernyitkan dahi. “Memang map apa itu? Berkas pekerjaan kan?”
“Bukan.” Bilqis menggeleng. “Ini surat perjanjian …”
Bilqis menghentikan kalimatnya dan melirik ke kanan ke kiri. Ia memastikan bawah di lorong menuju ruangan bosnya ini tidak ada orang yang menguping.
__ADS_1
“Perjanjian pra nikah,” sambung Bilqis lagi.
“Oh, begitu.” Alex menanggapi dengan santai. Ternyata keinginan sang sekretaris untuk membuat perjanjian pra nikah bukan hisapan jempol semata atau hanya sekedar gertakan. Padahal Alex sendiri belum memiliki persiapan untuk mengelak surat perjanjian itu.
Alex berpikir dan menerka isi dari surat perjanjian itu.
Bilqis berhenti tepat di mejanya dan Alex pun berhenti saat hendak memasuki ruangannya.
“Setelah ini, langsung ke ruangan saya,” ucap Alex.
“Oke.” Bilqis pun langsung mengangguk.
Wanita itu seolah siap menghadapi sejuta kelicikan Alex dan Alex hanya tersenyum menyeringai sembari melangkah memasuki ruangannya.
“Bilqis,” panggil Tina yang baru saja melihat Bilqis duduk di kursi kerjanya sembari meletakkan barang bawaannya tadi pada tempatnya.
Tina berlari menghampiri Bilqis dan memastikan pintu ruangan Alex tertutup sempurna. “Si bos udah dateng?”
Bilqis mengangguk. “Udah.”
“Gimana? Udah dapet belom buktinya? Aku ingin pesan tiket nih.”
“Sebentar lagi,” jawab Bilqis.
“Kapan?” tanya Tina lagi.
“Hari ini,” jawab Bilqis yakin. Sepertinya ia akan meminta sesuatu lagi pada Alex sebelum surat perjanjian itu diketuk palu tanda mereka sepakat.
“Oh ya? Beneran ya!” Tina tersenyum.
“Iya.” Bilqis mengangguk. Lalu, ia memberi paper bag pada Tina. “Oh ya, ini tas mu. Maaf aku kembaliinnya telat.”
“It’s oke. Santai aja. Lagian aku udah dibeliin tas yang baru kok,” jawab Tina santai.
“Sombong,” sahut Bilqis pura-pura kesal, karena tak ada keirian di hati Bilqis untuk Tina.
Tina tertawa. “Kalau kamu sama Si Bos. Kamu juga bakal dapat tas yang lebih mahal dari ini. udah cepet lobby,” ledek Tina dan meninggalkan Bilqis yang masih berpikir.
Bilqis hanya tersenyum. Ia mengingat perkataan Alex yang tidak memperbolehkan dirinya meminjam benda orang lain. “Cukup Kamu bilang apa yang kamu butuhkan dan aku akan memberikannya.”
Sontak senyum Bilqis pun melebar saat perkataan Alex itu terngiang di kepalanya.
__ADS_1
“Hei, Bilqis.” Panggilan Alex mengejutkan Bilqis yang sedang melamun. “Kenapa kamu masih di situ? Ayo masuk!”
Alex mengingatkan Bilqis untuk memasuki ruangannya. Ia sudah tidak sabar untuk membahas perjanjian pra nikah yang Bilqis ajukan.