
“Sudah selesai interview nya, Dit?” tanya Darwis pada Radit.
Radit mengangguk. Ia memang baru saja melepas headseat dari kedua telinganya. Laptop yang semula menyala pun sudah dimatikan dan sedang ditutup. Cukup lama ia melakukan interviw melalui online dan sekarang ia ingin segera makan.
“Sudah, Om,” jawab Radit.
Darwis menarik kursi dan duduk di sebelah Radit yang berada di meja belajar minimalisnya. “Mengapa kamu bekerja di perusahaan orang lain. Padahal kamu memiliki perusahaan sendiri yang harus dikelola.”
Radit tersenyum. “Aku tidak ingin memanfaatkan keadaan, Om.”
“Tapi ayahmu meminta Om untuk mengalihkan saham miliknya padamu.”
“Radit lebih suka usaha sendiri. Lagi pula ga lucu kalau orang dibenci tapi hartanya tetap mau dimiliki.”
Darwis tertawa. Entah bagaimana cara Laila mendidik anak – anaknya, tapi di sini lah terpesonanya Darwis pada wanita dua anak itu. Laila mampu mendidik kedua anaknya untuk tidak tamak dan mandiri.
“Kau tahu, Alex sudah membeli saham Lenka dan itu ditujukan untuk istrinya. jadi kalian lah pemilik rumah sakit itu,” ucap Darwis.
“Om juga pemilik rumash sakit itu kan? Jadi Om saja yang mengelola,” sahut Radit.
Darwis menarik nafasnya kasar. “Apa kamu masih membenci ayahmu?”
“Tidak sebanyak dulu,” jawab Radit santai sembari merapikan kembali meja belajarnya.
“Itu artinya, sekarang kau sudah memaafkan ayahmu?” tanya Darwis lagi. Perbincangan mereka seperti ayah dan anak, juga seperti seorang teman. Darwis memang ingin memposisikan dirinya seperti teman pada Radit.
Radit menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi. “Kalau Ibu saja bisa meaafkan ayah. kenapa aku ngga?”
Darwis tersenyum. “Good boy. Kau memang anak baik.”
Radit ikut tersenyum hingga Laila datang dan berdiri di depan pintu.
“Radit, Mas. Ayo makan!”
Kedua pria beda usia yang dipanggil oleh Laila itu pun langsung menoleh.
“Iya, Sayang.”
“Iya, Bu.”
Keduanya menjawab bersamaan. Laila pun tersenyum lbar. Rasanya kedua panggilan itu menyejukkan relung hati yang semula pincang dan sedikit gersang.
Radit dan Darwis sama – sama bangkit dan melangkahkan kakinya menuju dapur.
Ting Tong
Suara bel rumah itu pun terdengar, sebelum Laila, Radit, dan Darwis sampai ke meja makan.
“Bentar ya, Mas. Aku buka pintu dulu.”
__ADS_1
Darwis mengangguk. Pria itu tetap berjalan bersama putra sambungnya. Dan, Laila membalikkan tubuhnya ke arah ruang tamu, lalu membuka pintu utama.
Ceklek
Laila terkejut karena di depannya berdiri seorang wanita yang dulu terlihat sangat angkuh.
“Andhira.”
Tiba – tiba adik dari Ridho itu bersujud di kaki Laila. “Mbak, maafkan kami. Maaf karena selama ini kami telah membohongi Mbak Laila. Maaf karena selama dua puluh tahun aku tidak memberitahu dimana Mas Ridho berada.”
Tangis Andhira pecah, suaranya pun tidak pelan. Ingar bingar yang terjadi di luar membuat Radit dan Darwis saling bertatapan. Mereka yang penasaran dengan siapa tamu yang datang dan ada apa dengan Laila di sana, langsung bangkit untuk menghampiri Laila yang sebelumnya pamit untuk membuka pintu.
Langkah Radit perlahan memelan, saat melihat seorang wanita yang pernah ia temui di kota lain itu hanya ingin membawa wali untuk sang kakak. Jauh – jauh datang ke kota itu dan berusaha mencari keberadaan sang ayah lewat keluarganya, Radit dan Laila waktu itu malah mendapat hinaan dan diusir.
“Hei, mau kamu ke sini?” tanya Radit sengit pada Andhira.
Laila langsung menoleh ke arah putranya dengan membulatkan mata seolah memarahi Radit dengan pertanyaan yang menurutnya tidak sopan.
“Ibu lupa, kalau kemarin kita ke rumahnya aja sama dia di usir.”
“Radit,” panggil Laila lagi pada putranya untuk diam.
Di sana, Darwis hanya mengamati yang terjadi.
“Mbak Laila, tolong bebaskan Mas Ridho. Tolong, Mbak.” Andhira masih dengan posisinya, padahal Laila sudah meminta Laila untuk bangkit dan tidak bersimpuh seperti itu.
Padahal tanpa bersimpuh seperti itu, Laila memang sudah mencabut tuntutannya. Bahkan Alex sudah merealisasi keinginan ibu mertuanya itu dan di sana Ridho pun akan bebas dalam hitungan jam.
“Kami tahu kami salah. Kami sudah membuat Mbak dan anak – anak Mbak menderita tapi semua karena keadaan Mbak. Mbak tahu kan kondisi usaha Papa waktu itu sedang diujung tanduk. Kemudian, Lenka memulihkan lagi keadaan perusahaan Papa tapi dengan syarat.”
“Sudahlah, Dhir. Tidak usah diungkit lagi.” Laila kembali meminta Andhir untuk bangkit dan membantu memegang kedua bahu wanita itu bangkit. “Aku sudah menganggap semua sebagai takdir. Jalan hidup yang memang harus di lalui.”
Darwis pun mendekat dan memeluk bahu Laila dari samping. “Tenang saja, sebentar lagi Ridho pasti akan bebas, karena mantan kakak iparmu ini sangat baik dan berhati lembut.”
Darwis menatap Laila dengan tatapan memuja dan itu dapat terlihat jelas oleh Andhira. “Laila sudah mencabut tuntutannya.”
Andhira senang dan hendak mengambur pelukan. Namun, Radit yang tidak rela sang ibu dipeluk oleh orang macam Andhira pun langsung menghadang aksi itu.
“Mohon maaf, kalau Ibu sudah selesai urusannya. Silahkan pulang! Pintunya masih terbuka kok”
“Radit.” Laila kembali memanggil nama itu dengan penuh penekanan.
Andhira yang sadar akan ucapan Radit pun pamit untuk pulang. Walau sebenarnya dalam hatinya kesal mendapat perlakuan dari Radit, tapi intinya sang kakak sudah bebas dan itu artinya ia bisa menikmati hasil bulanan yang biasa Ridho kirimkan untuk sang adik tiap bulannya. Andhira masih belum tahu bahwa perusahaan sang kakak sudah dialihkan oleh Radit.
****
“Sayang, kamu di mana? Masih makan siang? Setengah jam lagi akan ada rapat.”
Alex mengirim pesan pada sang istri. Saat makan siang tadi, ia sengaja memilih restoran tempat istrinya berada untuk menjemput dan pulang bersama. Namun, kebersamaan Bilqis dengan teman – temannya membuat Alex mengurungkan niat itu. Usai bertemu klien dan menikmati makan siang bersama, Alex memilih kembali ke kantor bersama Bima. Sedangkan Bilqis tidak tahu sama sekali bahwa di reatoran itu ia bersebelahan dengan suaminya.
__ADS_1
Di mejanya, Alex tersenyum melihat beberapa notifikasi datang dari bank. Sepertinya sang istri sedang menghabiskan hasil jerih payahnya bersama ketiga sahabatnya itu. Tidak mengapa, justru Alex senang karena ia memang bekerja untuk istri dan anak.
Senyum Alex menyeringai saat melihat nominal yang tertera dalam notifikasi itu. “Tidak ada yang gratis, Sayang,” gumamnya.
Alex kembali tersenyum geli saat mengingat obrolan para sekretaris itu di restoran tadi.
“Bim, istriku sudah datang?” tanya Alex pada Bima.
“Belum, Pak.”
“Ya sudah kalau begitu, tetap siapkan ruang rapat dan kita mulai sekarang,” pinta Alex.
“Tapi sekretaris Pak Ringgo, Pak Dion, dan Pak Jhon juga belum datang, Sir. Bagaimana? Apa kita tetap mulai rapatnya?”
“Ya, mulai saja. sebentar lagi mereka juga sampai,” jawab Alex.
Pengumuman untuk rapat koordinasi siang ini sudah sampai ke para karyawan, terutama karyawan inti. Alex memang sengaja meminta hampir semua karyawannya berkumpul di sana karena ia ingin memberi pengumuman penting.
“Qis, Ayo cepetan! Rapatnya udah mulai nih,” ujar Mira yang sedari takut karena sangat telat hadir di rapat itu.
“Bentar, aku pengen buang air. Tadi kebanyakan makan sih,” sahut Bilqis dengan menahan sesuatu dan berlari menuju kamar mandi.
“Qis, Jhon udah nelepon aku berkali – kali. Aku langsung ke ruang rapat ya,” teriak Tina.
Semula, Tina, Saskia, dan Mira hendak mengantar Bilqis ke bilik kamar kecil yang berada di sudut dalam lobby. Tapi akhirnya, mereka meninggalkan Bilqis sendiri.
“Qis, aku juga ya. Pak Dion udah neleponin terus nih,” sambung Mira.
“Qis, aku juga duluan. Kalau kamu yang telat sih ga masalah, tapi kalau kita bisa repot.” Saskia pun menambahkan.
“Ya udah gih sana pada duluan. Aku masih mules,” teriak Bilqis dari dalam bilik kamar mandi.
“Ya udah, ketemu di ruang rapat ya, Qis.” Tina kembali bersuara.
“Oke.”
Tina, Saskia, dan Mira pun lebih dulu ke ruang rapat. Di sana rapat baru saja di mulai. Mereka tertinggal lima menit.
Cukup lama Bilqis berada di bilik kamar mandi untuk menuntaskan hajatnya. Hingga akhirnya ia naik ke lantai tempat rapat berlangsung.
Sesampainya di lantai itu, Bilqis ragu untuk masuk karena sepertinya ia sudah sangat terlambat. Ia bisa melihat semua orang tengah tertuju pada Alex yang sedang berdiri di depan dan menyampaikan sesuatu.
Dengan keberanian tingkat dewa dan pasti akan menjadi pusat perhatian karyawan lain karena datang terlambat. Bilqis pun mengetuk pintu itu.
“Masuk,” ucap Alex yang Bilqis kira akan memarahinya di depan umum.
“Nah, ini dia. Orang yang ditunggu datang.” Alex mengampiri Bilqis dan meraih tangan wanita itu. “Bilqis Thalita adalah istri saya. Kami menikah tiga bulan yang lalu.”
Bilqis terkejut. semua orang yang hadir di sana pun terkejut. Ketakutannya menjadi pusat perhatian, ternyata terjadi. Ruangan itu pun riuh karena masing – masing peserta berbicara dengan rekan – rekan disebelahnya.
__ADS_1
“Saya menjadikan Bilqis istri bukan karena dia yang menggoda saya, tapi karena saya yang begitu terpesona padanya,” kata Alex dengan menatap wajah Bilqis memuja dan mencium punggung tangan itu.
Ah, Alex kembali membuat hati Bilqis meleleh.