Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Bonchap 11 - adonannya pas


__ADS_3

"Rel, tidur di kamar tamu gih!”


“Ngga. Om aja yang tidur di kamar tamu.”


“Om mau tidur sama Tante Maya.”


“Aku juga mau tidur sama Aunty Maya, Om.”


Radit dan Maya tinggal di salah satu rumah yang tidak jauh dari tempat tinggal Alex dan Bilqis. Laila dan Darwis pun tinggal di komplek yang sama. Antara rumah Darwis, Alex, dan Radit, tidak perlu menggunakan kendaraan untuk ke sana, hanya dengan berjalan kaki saja cukup. Mereka tinggal di kawasana yang cukup elit di Singapura.


Di Nassim Road, Alex sedang mempersiapkan barang bawaan persalinan Bilqis yang dijadwalkan untuk ke rumah sakit besok. Darwis pun demikian. Darwis dan Alex sengaja mengambil jadwal yang sama. Sedangkan di rumah Radit, pria itu kesal karena sedai kemarin keponakannya selalu mensabotase sang istri.


Maya hanya tersenyum melihat perdebatan suaminya dengan keponakan yang dahulu adalah anak majikan yang ia asuh. Aurel begitu lengket dengan Maya, karena ia sudah mengasuhnya sejak anak itu berusia tiga tahun.


“Om, sana!” Aurel mendorong Radit untuk keluar dari kamar.


“Dih, songong banget ini anak,” umpat Radit kesal.


Maya hanya cekikikan.


“Ayang, malah ketawa sih. Bantuin dong,” kata radit pada istrinya.


“Bantuin apa?” tanya Maya dengan memelankan tawa.


“Bantuin bilangin ke Aurel. Udah dari kemaren aku ga tidur sama kamu,” jawab Radit yang hanya dijawab oleh Maya dengan mengangkat bahunya.


“Ayang.”


“Apa?”


"Ck.” Radit kesal karena kodenya dihiraukan sang istri.


“Rel, pulang aja yuk! Om anter pulang. Ayo!” Radit mengambil tangan Aurel.


“Ngga mau. Aurel belom mau pulang, Om! Besok aja pulangnya.”


“Ck. Nih anak ganggu orang mau ehem ehem aja.”


Maya membulatkan mata.


“Emang ehem ehem apa, Om?” tanya Aurel bingung.


“Om keselek.”

__ADS_1


"Kalau keselek, minum Om. Apa mau Aurel ambilin minum?”


“Ngga usah. Om bisa ambil sendiri. Yang penting kamu pulang. Ayo!” Radit menarik tangan Aurel.


“Ngga mau. Aurel mau tidur sama Aunty Maya.”


“Dih, besok Mommy nginep di rumah sakit. jadi mending sekarang Aurel tidur sama Mommy. Nah, Pas Mommy lagi di rumah sakit baru Aurel tidur sama Aunty.”


Mata Aurel mengerjap lucu. Ia hendak berpikir.


“Besok Mommy ke rumah sakit?” tanyanya membuat Radit mengangguk cepat.


“Iya. Besok adik kamu lahir.”


“Yeaay …” Aurel langsung berosrak.


Radit pun tersenyum senang. Ia melirik ke arah sang istri yang sedang melipat kedua tangannya di dada sembari ikut tersenyum. Ternyata radit mampu merayu Aurel untuk pulang.


“Ya udah, Ayo Om, antar Aurel pulang.”


“Dengan senang hati, Sayang.”


Radit pun dengan semangat menggandeng Aurel untuk keluar dari kamar dan mengantarkannya ke rumah sang kakak yang tak jauh dari kamar.


“Sebentar!” Radit menahan kakinya dan meninggalkan Aurel yang sudah berada di luar kamar untuk mengahampiri sang istri yang masih berada di dalam kamar.


Cup


Radit mengecup kening sang istri. Maya pun membalas senyum sang suami dengan menggelengkan kepala. “Dasar!”


Radit menoleh dan nyengir. Ia kembali menggandeng Aurel dan mengantarkan anak kecil itu untuk pulang.


“Om, nanti adik aku kembar ya?” tanya Aurel saat dalam perjalanan menuju rumahnya dengan berjalan kaki.


“Iya.”


“Anaknya Oma juga kembar?” tanya anak kecil itu lagi.


Terkadang Aurel memanggil Laila dengan sebutan Oma, terkadang Nenek. Tapi selama di sini, ia lebih sering memanggil Laila dengan sebutan Oma karena Aurel pun suda terbiasa memanggil Darwis dengan sebutan Opa.


“Ngga. Anak Oma Cuma satu. Kalau Mommy dua,” jawab Radit.


“Terus anak Om berapa?”

__ADS_1


Radit menoleh menatap Aurel. “Belum ada. Doakan ya, semoga Om juga cepat punya anak seperti Mommy dan Oma.”


Aurel mengangguk dan kembali berkata, “makanya Om harus sering membantu Aunty di dapur.”


“Emang kenapa?” tanya radit bingung.


“Supaya adonannya pas dan langsung jadi. Aku pernah dengar Oma mengatakan itu pada temannya.”


Plak


Radit menepuk keningnya sendiri. “Ya ampun, anaknya Alex dasar!”


Radit mengeratkan genggamannya di tangan Aurel dan meminta anak itu untuk berjalan cepet.


Setelah mengantarkan Aurel pulang, Radit pun kembali ke rumahnya. Rumah Radit memang tidak besar seperti miliki Alex dan Darwis. Tapi beruntung, ia masih mendapatkan rumah yang dekat dengan kakak dan ibunya.


“Ayang …” Radit memanggil sang istri sebelum ia memasuki kamar.


Perlahan, Radit pun membuka kamar itu dan ia melihat sang istri yang sudah berbaring di atas ranjang dengan membelakanginya.


“Hah.” Radit menarik nafasnya kasar. Lalu, medekati Maya. “Ayang, kok tidur sih.”


Radit menggoyangkan tubuh sang istri. “Yang, bangun dong. Baru ditinggal sebentar udah molor.”


“Hm. Ngantuk, Mas.” Maya tetap menjawab, walau matanya masih tertutup.


“Ck. Yang, gimana nasib aku?” tanya Radit memelas dengan raut wajah yang patut dikasihani.


Jika Maya melihat, mungkin ia akan tertawa.


“Nanti pagi aja ya. Abis subuh,” ujar Maya yang memang terlihat malas.


“Kalau besok pagi beda lagi. itu ronde kedua, Yang.”


“Mas,” rengek Maya yang tetap ingin tidur karena seharian ini ia cukup lelah bermain dengan Aurel dan membuat kue bersama anak kecil itu.


Radit tetap membuka kancing piyama yang dikenakan Maya.


“Mas,” rengek Maya lagi merasakan tangan Radit yang sudah mulai bergerilya di atas tubuhnya.


“Kamu tidur aja! Aku yang bekerja. Santai.”


Mata Maya pun langsung terbuka dan ….

__ADS_1


Plak


Maya memukul dada Radit, membuat pria itu pun tertawa.


__ADS_2