
Usai melaksanakan sholat isya dan mendapatkan pukulan secara tidak sengaja dari Aurel, Alex terpaksa meninggalkan kamar itu. dengan berat hati ia terpaksa tkembali ke ruang kerja dan tidur di sana.
Bilqis yang sedari tadi terbangun karena gerakan sang suami yang mencium keningnya sebelum mengambil air wudhu. Bilqis tak bisa kembali tidur. Ia sempat menahan tawa saat tangan Aurel secara tidak sengaja memukul wajah ayahnya. Bilqis pun menoleh ke arah anak kecil yang lucu dan menggemaskan itu.
Bilqis tersenyum sembari memegang tangan Aurel yang berada di atas dadanya. Ia mengambil tangan Aurel dan menciumnya. Sungguh, Bilqis sangat menyayangi gadis kecil ini. Aurel bagai malaikat yang penjadi pelindung sekaligus pelipur lara untuknya.
Bilqis bangkit dan membenarkan posisi Aurel yang semula berbaring miring menghadapnya. Ia juga sengaja memberi guling di tepi tempat tidur agar anak itu tidak terjatuh. Tangan Bilqis terangkat untuk mengusap wajah bidadari kecil itu. Sesaat ia merasa bersalah karena telah cemburu dengan ibu dari anak kecil ini.
“Kakakmu?” Bilqis bergumam teringat dengan perkataan Alex yang menyebut Tasya dengan sebutan “kakakmu” pada Bilqis.
“Ah, aku lupa menanyakan maksud perkataan itu. Apa aku punya kakak?” tanya Bilqis lagi pada dirinya sendiri.
Namun, jika dilihat Aurel memang seperti anaknya, mengingat wajah Aurel yang juga mirip Tasya dan itu berarti Aurel juga mirip dengan dirinya karena Tasya juga mirip dengan dirinya.
Bilqis menggelengkan kepala. Rasanya ia terlalu pusing jika memikirkan hal ini. Ia pun kembali merebahkan tubuhnya di samping Aurel. Bilqis memeluk tubuh mungil yang terlelap dengan pulas itu. Bilqis mencoba untuk memejamkan matanya kembali walau agak sulit mengingat selama hampir tiga minggu ini, ia selalu tidur dalam pelukan Alex. Rasanya ia sudah nyaman dengan aroma tubuh khas laki – laki dari bos killer yang sekarang menjadi suaminya.
Di ruang kerja, Alex merebahkan dirinya di atas sofa. Sudah hampir satu jam ia berada di sana, tapi matanya tak kunjung terpejam. Entah sudah berapa kali tubuh Alex berbolak balik dari kiri ke kanan, lalu terlentang. Ia juga sudah menutup matanya dengan bantak kecil yang ada di sofa agar terpejam. Namun tak junjung terpejam.
Alex kesal dan menjauhkan bantal kecil itu dari wajahnya. Ia melempar benda itu sembarang. “Si*l. mengpa dari tadi aku tidak bisa tidur?”
Alex mengumpat pada dirinya sendiri, lalu bangkit. Ia duduk dan mengusap wajahnya kasar. “Oh, aku tidak bisa tidur, jika tidak memelukmu, Qis.”
__ADS_1
Dengan modal nekat, Alex bangkit untuk kembali menuju kamarnya, karena jika terus seperti ini, ia yakin tidak akan bisa tidur sampai pagi. Alex akan tetap tidur di samping Bilqis. Ia tidak peduli jika nanti pagi sang putri akan mengomeli. Ia juga tidak peduli jika sang istri pun akan memarahi. Yang penting, malam ini ia bisa tertidur karena esok masih banyak pekerjaan yang akan ia kerjakan.
Ceklek
Seperti ketika ia akan melaksanakan sholat isya tadi, Alex kembali memasuki kamar itu dengan penuh hati – hati dan gerakan perlahan agar tidak membangunkan dua bidadari yang sedang tidur di atas ranjangnya.
Sesaat Alex mematung, melihat Bilqis yang sedang memeluk putrinya dengan sayang. Ia tidak mengira bahwa Aurel akan diasuh oleh tantenya sendiri. Mungkin itu sebabnya sang putri yang tidak mudah dekat dengan orang lain justru begitu mudah saat dekat dengan Bilqis.
Alex sendiri tidak menyangka akan memiliki memperistri dua bersaudara itu, walau ia tidak memperistri keduanya sekaligus. Tapi dihati ini memang ada nama kedua wanita kembar itu sekaligus.
“Ah, Alex. Kau memang serakah,” ujar Alex pada dirinya sendiri sembari tersenyum tipis. Ia sadar bahwa dirinya memang terlalu egois untuk hal ini.
Tepat di samping tubuh Bilqis yang sedang miring dan memeluk Aurel, ada bagian yang kosong untuk bisa ditempati. Alex pun langsung menduduki tempat itu dan merebahkan tubuhnya tepat di samping sang istri.
Grep
Bilqis merasakan tangan yang sedang memeluk pinggangnya. Ia juga merasakan hangat ditubuhnya karena tubuh seseorang yang menempel dari belakang. Sontak, Bilqis pun menolehkan kepalanya sedikit ke belakang.
“Mas.”
“Ssttt …” Alex menutu bibir Bilqis dengan jari telunjuknya. “Tidur lah, Sayang. Aku tidak akan menganggumu, hanya ingin tidur di sampungmu saja.”
__ADS_1
Suara lirih Alex tepat berada di belakang telinga Bilqis. Tubuh itu sangat dekat dan memeluk erat.
“Aku tidak bisa tidur jika tidak memelukmu, Qis. Tolong jangan usir aku, please!”
Sejenak Bilqis merasa lucu. Ini adalah kamar Alex, ini juga rumahnya. Mana mungkin Bilqis akan mengusir pria itu.
Bilqis tidak mengubah posisinya. Ia tetap memiringkan tubuhnya menghadap Aurel dan memeluk anak itu, sementara Alex memiringkan tubuhnya menghadap Bilqis dan memeluk sang istri dari belakang. Kini, Bilqis berada di tengah antara bapak dan anak itu. Ia pun membiarkan Alex dengan posisinya dan membiarkan bibir pria itu menciumi tengkuk lehernya.
“Kau benar – benar candu, Sayang. Aroma tubuhmu membuatku tenang,” kata Alex dengan terpaan nafasnya yang hangat hingga terasa sampai di kulit leher yang sedang dicumbunya itu.
Bilqis yang merasakan hal itu pun hanya bisa memejamkan mata sembari menggigit bibir bawahnya. Entah dari mana gelora itu datang, tapi yang pasti ia juga menyukai segala bentuk sentuhan yang dilakukan sang suami.
Keduanya pun terlelap dengan posisi yang saling berpelukan. Walau hati dan sikap Bilqis masih dingin dan belum bisa mencair seperti sebelumnya. Namun, ia tetap membiarkan sang suami tidur dalam posisi ini.
Di tempat berbeda, Radit baru saja berhasil membuntuti Darwis. Motornya terparkir di basement di area parkiran kendaraan roda dua, sementara Darwis memarkirkan mobilnya di parkiran khusus kendaraan roda empat. Untungnya tempat parkiran itu masih satu lantai dan bersebelahan, walau mereka memiliki kendaraan jenis berbeda.
Radit segera berdiri di depan lift yang baru saja Darwis naiki. Arah mata Radit tertuju pada angka yang tertera di atas lift. Ia terus melihat di mana angka itu akan berdiam lama.
“Delapan,” gumam Radit yang yakin bahwa apartemen Darwis ada di lantai itu.
Untung saja sebelumnya, Radit pernah bertanya iseng nomor berapa unit apartemen pria yang akan menjadi ayah sambungnya itu. sebelumnya ia mempertanyaka hal itu hanya untuk basa basi, tapi malam ini ternyata pertanyaan itu ada gunanya.
__ADS_1
Lift yang tadi Darwis gunakan kembali turun ke B1, tempat Radit dan Darwis memarkirkan kendaraannya tadi.