Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Hamil


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul sebelas. Sejak sampai di kantor, Bilqis menolak dipesankan makanan, mengingat pagi tadi ia belum menyentuh makanan yang dibuatnya sendiri untuk suami dan anak sambungnya.


“Mas, tanda tangan ini dulu,” kata Bilqis usai menutup pintu ruangan itu dan menghampiri suaminya yang duduk di kursi besar itu.


Mata Alex yang semula berada di depan laptop langsung tertuju pada sang istri. Kini, tidak ada jarak di antara mereka. Biasanya, Bilqis hanya akan mengantarkan berkas pada bosnya sampai meja dan duduk di depan Alex untuk menunggu pria itu membubuhkan tanda tangan di situ. Tapi sekarang, Bilqis selangkah lebih maju. Bilqis berdiri tepat di samping Alex dan berdiri menunggu sang suami membubuhkan tanda tangan itu.


Terkadang tangan Alex jahil. Usai memberi tanda tangan, tangan Alex meremas bongkahan bagian belakang Bilqis yang tepat berada dekat wajahnya atau Alex akan menarik pinggang Bilqis dan mendudukkan sekretarisnya itu di pangkuan sembari memangut bibir ranumnya. Sebenarnya, ia suka jika Bilqis masih tetap menjadi sekretarisnya, tapi ia tidak ingin memberi banyak tanggung jawab pada sang istri, mengingat tanggung jawab sebagai istri dan ibu sudah cukup berat menurutnya.


“Yang ini juga!” Bilqis membuka lembar terakhir yang harus Alex tanda tangani.


Alex pun menurut. Ia langsung membubuhkan tanda tangannya di sana. Setelah itu, Bilqis hendak kembali pergi. Namun, Alex segera menahan Bilqis dengan menarik pinggangnya dan menempelkan tubuhnya pada tubuh Alex.


“Makanan pesananku sudah di makan?” tanya Alex yang meminta Bima untuk memesankan makanan untuk sang istri dan membawanya langsung ke meja Bilqis.


Bilqis menggeleng.


“Ya ampun, Sayang. jadi kamu belum memakan makanan pesananku?” tanya Alex lagi yang dijawab dengan gelengan kepala.


Sejak pagi, ia hanya ingin makanan ringan dan tidak berselera dengan bubur yang Alex belikan. Padahal biasanya, selain makanan cepat saji yang tempatnya ada di seberang kantor ini, Bilqis juga biasa membeli bubur enak yang ada di samping kantor, karena menurut Bilqis bubur itu adalah bubur terlezat seantero raya.


“Belum,” jawab Bilqis dengan wajah inocent.


Bilqis memasang wajah imut dan menggemaskan. Kemudian, Alex membawa Bilqis ke pangkuannya.


“Kenapa? Bukannya itu bubur kesukaanmu?” tanya Alex.


“Iya sih, tapi malas aja,” jawab Bilqis.


“Malas kenapa? Apa ingin aku suapi?”


Bilqis terkikik geli. “Emang aku Aurel.”


Alex pun tertawa. “Siapa tahu, kamu mau jadi Aurel. Aku tidak keberatan kalau kamu ingin disuapi.”


Lagi – lagi, kepala Bilqis menggeleng. “Pekerjaan kamu banyak, Mas. Tuh liat berkasnya aja masih pada numpuk.”


“Buat kamu, apa sih yang enggak.”


Bilqis langsung mencibir. Sontak, ia mengibaskan tangannya ke leher.


“Aku jadi gerah mendengar pernyataanmu tadi,” ledeknya.


Alex pun tersenyum. “Kalau gerah, buka aja bajunya semua.”


Tangan Alex sudah ingin membuka kemeja yang Bilqis kenakan. Namun, Bilqis langsung menahan. “Apaan sih? Itu mah mau kamu.”


Bilqis langsung beranjak dari pangkuan. Alex pun kembali tertawa.


“Sayang,” panggil Alex sebelum sang istri keluar dari ruangannya.


“Apa?”


“Makan dulu, Sayang.”


Bilqis tersenyum. “Iya, aku mau makan. tapi sama Tina, Saskia, dan Mbak Mira ya?”


Alex melirik arloji di tangan kanannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas lewat sepuluh menit. Masih ada lima puluh menit lagi untuk waktu makan siang. Sebenarnya mengajak Tina, Saskia, dan Mira adalah pelanggaran karena saat ini mereka masih dalam masa jam kerja.

__ADS_1


“Belum waktunya makan siang, Sayang. Sama Mas aja ya. Mas temani kamu mau makan di mana saja.”


Bilqis menggeleng. “Ngga mau, Mau nya sama Tina, Saskia, dan Mba Mira. Aku sudah lama ga makan bareng mereka.”


“Udah lama apa? minggu kemarin aja kamu makan siang sama mereka kok.”


Bilqis nyengir. Ia baru ingat kalau minggu kemarin ia terpaksa meninggalkan Alex yang ingin makan berdua dengannya di ruangan ini demi ingin makan bersama ketiga sahabatnya itu.


“Ya udah sekali lagi. lagian nanti kan aku udah ga kerja lagi di sini.”


“Kata siapa?” tanya Alex.


“Lah, kan kamu udah ngasih surat pengunduran diri aku ke Bu Shinta.” Bilqis menyebut nama manager HRD.


“Ya, kamu memang mengundurkan diri sebagai karyawan tetap, tapi akan tetap ke kantor ini sesekali karena kamu dipekerjakan freelance.”


“Benarkah?” tanya Bilqis dengan mata berbinar.


Baginya, bekerja itu bukan hanya tentang uang tapi kebersamaan. Dan bertemu dengan orang – orang seperti Tina, Saskia, dan Mira mampu membuat mood Bilqis kembali normal.


Bilqis pun berlari mendekati suaminya dan memeluknya. “Makasih, Mas. Kamu memang selalu ngertiin aku.”


Alex tersenyum. Selain ia memenuhi keinginan Bilqis. Ia juga memenuhi keinginannya sendiri yang selalu ingin dekat dengan sang istri atau menjahilinya, karena membuat Bilqis cemberut adalah mood booster untuknya.


“Jadi, aku akan tetap ke sini nanti?” tanya Bilqis lagi, usai membekap kepala suaminya erat.


Alex mengangguk. “Terserah, mau setiap hari ke sini boleh, tidak setiap hari juga tidak apa, karena job des kamu ga akan sebanyak sebelumnya.”


Bilqis tersenyum. “Terus, nanti kamu punya sekretaris baru lagi?”


“Oh ya? Kok lama – lama kamu manis ya, Mas?”


Sontak, Alex pun tertawa. “Kan aku sugar daddy."


Alex sengaja menaik turunkan alisnya.


Bilqis pun ikut tertawa. "Dasar mesum!"


Pria killer ini ternyata sudah bisa bercanda. Padahal dulu, wajahnya selalu ditekuk dan tidak pernah tertawa. Jangan kan tertawa, tersenyum pun tidak. Tapi sikap bar – bar Bilqis dan kelucuan keluarganya, membuat Alex sedikit terbawa.


****


“Wah, Qis sering – sering ajak kita makan ke sini,” ucap Mira senang saat Bilqis membawa ketiga temannya itu ke restoran yang rata – rata menunya di-gril dengan konsep Amerika.


“Eh, by the way. Kita kok dibolehin keluar sebelum jam kerja? Tadi tuh Mas Ringgo boleh aja biarinin aku keluar,” sahut Saskia.


“Iya, aku juga.” Mira ikut menambahi. Sementara Tina hanya tersenyum.


“Ya, iya lah boleh. Soalnya yang beri perintah pemiliknya langsung.” Akhirnya, Tina bersuara.


Bilqis membiarkan Tina berbicara. Ia memang ingin membuka statusnya kepada Saskia dan Mira. Karena menurutnya, untuk mereka memang tidak ada rahasia.


“Maksudnya?” tanya Mira yang mulai mengambil makanan yang tersaji banyak di meja, sesuai yang mereka pesan.


“Ih masih pada belum mudeng ya. Kita tuh disuruh nemenin istrinya bos. Jadi ya dibolehin lah keluar sebelum jam kerja.”


Mira dan Saskia bingung. Keduanya menatap Tina. Ia bingung dengan perkataan wanita itu.

__ADS_1


“Siapa? Saskia?” Mira menatap ke arah Saskia yang memang sudah menjadi istri Ringgo, bosnya.


“Bukan lah. Di atas Pak Ringgo masih ada bos lagi,” ucap Tina tersirat.


Lalu, Tina menoleh ke arah Bilqis. Sontak, Mira dan Saskia pun mengikuti arah mata Tina.


“Bilqis?” tanya Mira.


“Jangan bilang kamu udah naklukin si killer?” tanya Saskia.


Keduanya tersenyum menyeringai.


“Bukan cuma naklukin tapi udah bikin klepek – klepek,” sahut Tina tertawa.


“Bilqis …” teriak Saskia dan Mira.


“Beneran? Lu udah nikah sama si killer?” tanya Saskia girang.


“Dia udah ngga killer kok. Udah manis kaya brownis,” jawab Bilqis tersenyum.


Mira dan Saskia langsung berpindah tempat duduk. Mereka yang semula duduk di depan Bilqis, kini memilih mendekati wanita itu dan duduk di sampingnya.


“Ya, ampun. Kalian apaan sih?” tanya Tina yang tempat duduknya disabotase Mira dan Saskia.


“Aku pengen denger cerita Bilqis, Tin.”


“Ketinggalan tau,” ledek Tina yang bangga karena tahu lebih dulu tentang cerita Bilqis.


“Iya, aku udah menikah dengan Sir Alex. Nih cincinnya. Tara!”


Bilqis mengangkat jarinya ke atas dan memperlihatkan berlian yang mengkilau itu.


“Aaa …” sontak Mira dan Saskia berteriak sebagai ekspresi dan terkejut.


“Bilqis.” Saskia dan Mira bergantian memeluk Bilqis dan mengucapkan selamat.


Sementara Tina tersenyum dan lebih dulu menikmati makanan yang terhidang itu.


“Hoek.” Bilqis mual saat berpelukan dengan Mira.


“Sorry, Mba. Parfumnya nyengat banget,” kata Bilqis sopan agar Mira tidak tersinggung. Walau keempat wanita itu dikenal anti baper dan selalu blak – blakan.


“Masa sih? Kayanya aku pakai parfum ga kebanyakan deh. Malah sedikit – sedikit karena ini parfum harganya lumayan,” jawab Mira sembari mencium ketiak kiri dan kanannya.


“Sebenernya sih ngga ya, tapi ga tahu nih hidung aku aja yang sensitif kali ya,” sambung Bilqis yang tidak enak dengan Mira.


“Lu emang pake parfum baru?” tanya Saskia sembari mencium aroma kemeja Mira. “Ngga kok, sama.”


“Bilqis, jangan – jangan kamu?” Tina memprediksi sesuatu.


“Ah, ya. Jangan – jangan kamu …” Saskia pun mengatakan yang sama.


Senyum Mira terurai lebar. “Bener. Aku juga waktu hamil Razan kaya gitu, ga suka banget sama parfum suami.”


“Apa? Hamil?” tanya Bilqis dengan menatap ketiga temannya bergantian.


Saskia, Tina, dan Mira pun mengangguk dengan senyum yang terulas jelas.

__ADS_1


__ADS_2