Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Pertemuan Ronal dan Radit


__ADS_3

“Oh ya, Om. Kemarin Radit sudah mengurus surat – surat pernikahan Om dan Ibu. Semua beres dan sudah selesai,” ujar pria berusia dua puluh tiga tahun yang baru saja lulus menyelesaikan sarjananya dengan nilai cumlaude dan rampung kurang dari lima tahun.


Darwis menoleh ke arah Radit dan tersenyum. “Terima kasih, Nak. Benar kata ibumu, kamu memang bisa diandalkan.”


“Selalu, Om.” Radit menyahut dengan jumawa dan sikapnya yang selengeyan.


Darwis kembali tersenyum dan menggelengkan kepala, lalu kembali menatap lurus ke jalan. Siang ini, Radit dan Darwis berada di mobil untuk menuju bandara. Darwis menyewa mobil lengkap dengan sopirnya selama ia berada di kota ini.


“Rasanya Om ingin menikahi ibumu besok,” kata Darwis lagi.


Radit tertawa. “Ya sudah kalau begitu besok saja menikahnya. Aku dan Mba Qis, oke aja.”


Kini giliran Darwis yang tertawa. “Senangnya mendapat dukungan penuh dari kalian. Tapi sayang, Laila tetap meminta minggu depan. Malah, sebelumnya Ibu mu meminta pernikahannya diadakan bulan depan.”


Darwis menoleh ke arah Radit. “Om takut Ibu mu berubah pikiran nantinya.”


“Tidak akan. Ibu tidak akan berubah pikiran,” jawab Radit yakin karena ia yang tinggal bersama sang ibu dan dirinya tahu gelagat sang ibu yang salah tingkah jika mendapat telepon dari Darwis.


“Ibu tuh lagi puber dan pubernya sama Om, jadi ga usah takut,” kata Radit, membuat Darwis mengulum senyum.


Sepertinya pria itu juga tengah mengalami puber kedua dan itu dengan Laila.


Mobil yang membawa Darwis dan Radit tiba di bandara. Mereka berdiri di tempat kedatangan menunggu sahabat Darwis sekaligus pemilik rumah sakit tempat Radit akan bekerja.


Tak lama kemudian, orang yang ditunggu pun tiba. Ronal datang dengan gaya yang tak jauh berbeda dari Darwis. Celana bahan panjang disertai kaos berkerah. Postur tubuh Ronal pun tidak jauh berbeda dengan Darwis. Tinggi mereka sama dan bentuk tubuhnya pun sama, hanya wajah saja yang berbeda. Darwis justru lebih kharismatik dibanding Ronal.


Ronal menoleh ke arah Darwis yang sudah melambaikan tangan. Dengan membuka kaca mata hitamnya Ronal tersenyum ke arah Darwis. Namun tiba – tiba senyum itu menghilang ketika ia mendapati sosok pemuda yang berdiri di samping sahabatnya. Jantung Ronal, tiba – tiba berdetak kencang.


“Hai, Ron.” Darwis langsung memeluk sahabatnya saat mendekat.


“Hai.” Arah mata Ronal terus tertuju pada Radit yang tersenyum melihat interaksi calon ayah sambungnya dengan sahabatnya.

__ADS_1


“Hei, kau datang sendiri? Tidak bersama Lenka?” tanya Darwis setelah melonggarkan pelukan itu. “Tumben Lenka membiarkanmu pergi sendiri. Biasanya dia sangat posesif.”


Ronal hanya tersenyum tipis. Ia tidak berniat menjawab pertanyaan Darwis, justru ia yang ingin bertanya tentang pria yang ada di samping sahabatnya ini.


“Lenka sedang banyak urusan. Oh ya, bye the way ini siapa?” tanya Ronal pada Darwis dengan menunjuk ke arah Radit.


“Oh, ya. Kenalkan. Ini Radit. Dia anak dari wanita yang akan aku nikahi.”


Radit mengulurkan tangannya sembari tersenyum. Ronal pun menjabat tangan itu dan memperhatikan wajah Radit cukup lama. “Oh jadi, kamu yang akan mengisi staf IT di tempatku?”


Radit mengangguk.


“Ya benar, Radit ini pemuda yang aku ceritakan. Dia lulus dengan nilai cumlaude,” sambung Darwis sembari menggandeng bahu Radit.


Radit cukup tersanjung dengan sanjungan pria yang tak lama lagi akan menikahi ibunya. Ini adalah salah satu hal yang membuat Radit yakin untuk menyerahkan ibunya apda Darwis. Pria itu memiliki sikap dan perangai yang baik.


Tangan Ronal masih menjabat tangan Radit. Entah rasa apa yang ia rasakan saat ini tapi rasanya berjabatan tangan dengan pemuda ini membuatnya damai.


Radit menggeleng. “Sepertinya tidak.”


“Oh.” Ronal hanya membulatkan bibirnya.


“Hei bagaimana bisa kau mengenal anak ini?” ucap Darwis. “Hampir dua puluh tahun lebih kau tinggal di Singapura. Bisa jadi kau di sana saat Radit masih berusia dua tahun, mana mungkin kalian pernah bertemu.”


Darwis meledek sahabatnya yang terkadang linglung. Ronal tersenyum dan mebenarkan perkataan sahabatnya. Lalu, melepaskan jabatan tangan itu.


“Ayo akan aku antar kau ke hotel!” ajak Darwis pada Ronal.


Radit pun mengambil alih dengan membawakan koper Ronal yang semula dibawakan oleh pria paruh baya itu sendiri.


Baik Radit atau pun Ronal, tidak tahu bahwa mereka adalah ayah dan anak kandung. Darwis pun tidak mengetahui itu. Saat Ronal alias Ridho pergi meninggalkan rumah yang diberitahu Lenka, Radit masih berusia dua tahun. Setelah Ridho pergi, Laila menunggu kedatangannya hingga enam bulan. kelaurga Laila yang tak terima meminta Laila menemui keluarga Ridho di Malang untuk kejelasan. Sayang, di sana mereka bukan mendapat kejelasan tentang keberadaan Ridho, justu yang didapat malah makian. Orang tua Laila yang kala itu masih hidup merasa tidak terima dan langsung mengajukan surat cerai. Walau Laila masih mengharapkan kedatangan Ridho, tapi keluarga Laila tetap mengurus surat cerai itu dan hingga kedua orang tua Laila yang meninggal, Ridho pun tak kembali. Tepat, Radit berusia tiga tahun, Laila membakar semua kenangannya dengan Ridho sampai tak tersisa. Alhasil, Radit pun tidak tahu persis rupa ayah kandungnya.

__ADS_1


“anak itu sopan,” ujar Ronal pada Darwis sembari memperhatikan Radit.


Di sana, Radit membantu sopir untuk mengangkat koper dan bawaan Ronal ke dalam bagasi. Radit memang cekatan, ia tidak perlu disuruh untuk membantu jika melihat ada yang kesusahan.


“Ya, ibunya sangat hebat. Walau dia single parent, tapi dia mampu mendidik kedua anaknya dengan baik,” jawab Darwis dengan penuh kekaguman pada Laila.


“Wah sepertinya, kau sangat mengagumi wanita itu. Aku tidak sabar untuk berkenalan.”


Darwis tertawa. Mereka sama - sama memasuki mobil.


“Untung kau ke sini tidak dengan Lenka. Jika iya, kau tidak akan diperbolehkan berkenalan dengan calon istriku,” kata Darwis saat sudah berada di dalam mobil.


Ronal ikut duduk di samping Darwis di kursi penumpang belakang. “Ya, aku juga heran kenapa dia se posesif itu. Padahal aku tidak pernah berselingkuh.”


“Ya, tapi dulu kau juga pernah membantu janda beranak dua. Makanya, Lenka sangat posesif.” Darwis kembali tertawa, Sedangkan Radit baru saja membuka pintu mobil depan dan duduk di samping kursi sopir.


“Ya, ya .. aku ingat. Aku juga ingat waktu aku meninggalkannya. Dia menangis, tapi saat itu aku benar – benar tidak mengenal wanita itu,” jawab Ronal alias Ridho.


Ironis sekali nasib Ridho. Dia membohongi Laila dan memberikan satu anak kembar yang dikandung Laila pada Lenka, tapi seumur hidupnya justru Ridho telah dibohongi Lenka.


Radit tidak mengerti pembicaraan dua pria paruh baya dibelakangnya itu. Ia hanya melirik Ronal lewat kaca spion depan dan menggeser sedikit tubuhnya untuk melihat Darwis yang sedang tersenyum.


"Ya, Hanya itu yang aku tahu tentangmu dulu,” ujar Darwis yang memang baru mengenal Ronal saat pria itu sudah tinggal di Singapura dan menetap di sana.


Ronal menoleh lagi ke arah sahabatnya. “Kapan kau mengenalkan calon istrimu padaku?”


“Hm. Lusa. Saat pertemuan ikatan dokter di hotel xxx. Aku akan membawanya,” jawab Darwis yakin, karena Laila memang bersedia diajak ke acara itu.


Darwis sudah membujuknya dari jauh – jauh hari untuk meminta Laila menemaninya di acara itu. walau semula Laila menolak, tapi akhirnya wanita itu pun mau juga. Dan, dua hari setelah acara itu, rencananya pernikahan Laila dan Darwis pun digelar sederhana di rumah Laila, seperti acara pernikahan Bilqis kemarin.


Ronal melihat wajah Radit dari kaca spion depan yang dapat ia lihat jelas. Ronal seperti memiliki ikatan pada pemuda itu. Tapi ikatan apa? Ronal pun tidak mengerti.

__ADS_1


__ADS_2