
Rumah minimalis Bilqis yang semula selalu sepi karena hanya diisi tiga orang penghuni yang padat aktifitas itu, kini tampak ramai. Bimo tampak sibuk wara wiri memastikan prosesi pernikahan akan berjalan sesuai rencana.
Di sana juga terlihat Mr. Ammar yang baru saja datang. Pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu pun duduk di samping Mr. Salman. Keduanya yang pernah bertemu beberapa waktu pun terlihat berbincang.
“Apa mempelainya sudah siap?” tanya Pak penghulu pada pria yang duduk di sampingnya, siapa lagi kalau bukan Radit.
Radit tampak tegang. Beban yang diamanahinya hari ini memang sangat berat.
“Sebentar, saya lihat dulu ke dalam,” jawab Laila yang juga sudah siap duduk di sana.
Ruang keluarga yang biasa tempat Bilqis bersama Ibu dan adiknya bercengkerama, kini menjadi luas tanpa adanya sofa di sana. Hanya ada permadani yang terbentang panjang dengan para tamu yang duduk lesehan. Laila juga mengundang keluarga dekatnya yang tinggal di kota ini.
Di dalam kamar, Alex yang sudah selesai didandani belum beranja pergi. Ia setia menunggu Bilqis yang hampir selesai menyanggul rambut dengan menggunakan rambutnya sendiri dan ditata ala sanggul modern.
“Mas, kamu keluar duluan gih!” pinta Bilqis pada Alex. Tapi Alex menggeleng dan tetap duduk di sampingnya sembari menatapnya.
“Ish, ngapain sih diliatin mulu. Malu tau,” kesal Bilqis.
Namun, Alex semakin tersenyum.
Penata rias itu pun ikut tersenyum. “Sepertinya, Sir Alex sangat mengagumimu.”
Bilqis mencibir sembari memonyongkan bibirnya. Dan hal itu, semakin membuat Alex gemar. Jika para wanita di luar sana senang diperhatikan oleh Alex. Bilqis justru berbanding terbalik. Wanita itu malah tidak mau mendapat perhatian dari Alex, apalagi tatapan mematikan seperti sekarang. Padahal yang diucapkan penata rias itu benar. Tatapan yang Alex lakukan saat ini adalah tatapan kekaguman. Bilqis memang tampak sangat cantik dengan menggunakan kebaya modern berwarna putih.
“Bilqis,” panggil Laila sembari membuka kamar.
Alex menoleh, begitu pun dengan Bilqis dan wanita yang meriasnya.
“Kalian sudah siap?” tanya Laila pada kedua orang yang berpakaian pengantin.
Alex mengangguk. “Sudah, Bu.” Ia segera bangkit dari duduknya dan berdiri di depan Bilqis. “Kamu juga sudah siap? Ayo keluar bersamaku!”
Alex mengulurkan tangannya di hadapan Bilqis. Bilqis pun terdiam dan menengadahkan kepalanya menatap pria itu.
“Tuhan, ini tidak mimpi kan?” tanya Bilqis sembari mengerjapkan matanya beberapa kali dan menggelengkan kepala.
__ADS_1
“Kamu tidak sedang bermimpi,” ucap Alex tersenyum. “Sebentar lagi kita akan menjadi pasangan suami istri.”
“Ayo!” Alex kembali mengajak Bilqis.
Riasan dan tatanan rambut Bilqis pun sudah selesai. Bilqis bak bidadari turun dari surga. Wajahnya yang ceria, kini memancarkan kelembutan. Pipinya yang merona menambah kecantikan itu.
Bilqis berdiri dan menerima uluran tangan Alex. Mereka pun keluar dari kamar itu bersama-sama menuju ruang tengah. Di sana, semua orang menanti kedatangan mereka.
“Mommy, Daddy,” panggil Aurel saat melihat Bilqis dan Alex keluar dari kamar.
Anak kecil itu langsung berlari ke arah ayahnya dan Alex dengan sigap menangkap tubuh mungil sang putri. Alex tertawa melihat Aurel yang terlihat bahagia.
“Sebentar lagi, Mommy akan tinggal di rumah kita?” tanya Aurel.
Alex mengangguk sembari berjalan ke meja tempat untuk ia melakukan ijab qabul. Bilqis ikut tersenyum dan ikut berjalan di samping Alex yang menggending putrinya.
“Mommy cantik sekali, Dad.”
Alex menoleh ke arah Bilqis. “Tentu saja, Mommy memang cantik.”
Untung saja, pipi Bilqis sudah menggunakan perona. Jika tidak, mungkin saat ini ia ketahuan tengah dilanda rasa malu tingkat tinggi karena pujian seorang Alexander Kenneth si bos killer.
Aurel menurut. Gadis kecil yang cantik dan imut itu pun diturunkan oleh sang ayah dan langsung dihampiri oleh pengasuhnya.
"Aku ingin di sebelah Mommy,” rengek Aurel yang ingin ikut menjadi bagian berarti dalam proses itu.
Bimo masih menahan Aurel. Ia berusaha agar prosesi ijab qobul berjalan lancar. Dan di meja itu sudah duduk penghulu bersama petugas, wali nikah, dan dua saksi dari kedua mempelai.
“Daddy, aku ingin duduk di situ.” Aurel masih merengek dan minta duduk di antara kedua mempelai.
“Mas, tidak apa. Ajak Aurel duduk di sini,” ucap Bilqis pada Alex.
Alex pun mengangguk dan melambaikan tangannya untuk mengajak sang putri duduk di antara mereka.
Proses ijab qobul pun segera di mulai. Dengan keringat dingin, Radit memegang tangan Alex. Kepalan tangan Alex lebih kuat dari kepalan tangannya, seolah menggambarkan bahwa Alex bersungguh-gungguh.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Pak penghulu itu pun berkata untuk mengawali proses ini dan memulainya dengan kalimat basmalah. Lalu, pak penghulu itu menuntun Radit dan disambut oleh Alex.
“Saya terima nikah dan kawinnya Adinda Bilqis Talitha Putri binti Ridho Dharmawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”
“Sah.”
“Sah.”
“Sah,” teriak Pak penghulu itu sebanyak tiga kali dengan kata yang sama dan diangguki oleh semua yang hadir.
Sah. Akhirnya, Alex menikahi Bilqis tanpa sepengetahuan orang-orang dkantor kecuali Bimo dan Jhon. Karena itu adalah permintaan Bilqis sendiri.
“Yeay, Daddy dan Mommy menikah,” sorak Aurel yang langsung mencium pipi sang ayah dan ibu sambungnya, setelah pak penghulu memanjatkan doa dan diaminkan oleh semua yang hadir.
Laila meneteskan airmata. Antara sedih dan terharu, semua jadi satu. Sedih karena pernikahan putrinya tidak diwalikan oleh Ridho, padahal ayah kandung Bilqis masih hidup, Laila yakin itu. terharu karena akhirnya sang putri menemukan kebahagiaan. Akhirnya, Bilqis menikah seperti yang ia inginkan. Padahal sebelumnya, Laila sangat khawatir dengan cara pandang putrinya tentang pernikahan. Sebelumnya, Bilqis memang selalu berikrar jika dia tidak akan menikah.
Ditengah para tamu yang hadir. Alana dan Reno pun ikut hadir. Mereka membawa seorang bayi berusia enam bulan. Bayi yang sedang lucu-lucunya karena memiliki pipi yang chubby.
“Ayo cium!” ucap pak penghulu, meminta mempelai wanita untuk mencium punggung tangan suaminya.
Namun, Bilqis justru salah tangkap. Ia memajukan wajahnya dan bersiap untuk dicium oleh Alex.
“Wah mempelai wanitanya udah nyosor aja,” kata pak penghulu membuat Alex tertawa dan Bilqis terlihat bingung.
Alex tahu maksud pak penghulu itu. Dan ia, tertawa melihat kepolosan istri barunya.
“Bukan cium bibir, Neng, Cium tangan dulu. Cium bibirnya nanti di dalam kamar,” Ujar Mr. Ammar meledek Bilqis.
Seketika, Bilqis kembali dilanda rasa malu tingkat dewa. Sementara orang-orang yang hadir di sana malah tertawa.
Bilqis mengalihkan rasa malunya dengan langsung mengambil tangan Alex dan mencium punggung tangan itu. Mereka tampak dekat dan tak berjarak. Alex pun membisikkan sesuatu di telinga Bilqis.
“Sudah tidak sabar ingin aku cium? Dibagian mana?”
Sontak, Bilqis langsung melotot, membuat Alex tertawa.
__ADS_1
“Ingat perjanjian kita,” kata Bilqis mengingatkan Alex tentang perjanjian pra nikah yang mereka tanda tangani sebelumnya.
“Ya, ya. Aku tidak lupa,” jawab Alex dengan senyum menyeringai.