
Hari ini adalah hari pertama Bilqis kembali bekerja, setelah melewati berbagai prahara yang terjadi dikeluarganya. Kemungkinan, minggu ini juga hari terakhirnya bekerja, mengingat sang suami sudah memberikan surat pengunduran dirinya ke bagian HRD.
“Mas, aku diturunin di sana aja,” ucap Bilqis yang masih berada di dalam mobil bersama sang suami.
Pagi ini, Alex menyetir mobilnya sendiri dan sang istri setia duduk menemani di sampingnya. Bilqis menunjuk trotoar yang ada di samping gedung kentornya itu.
“Ngapain? Panas,” sahut Alex yang memang terlihat matahari begitu terik, padahal waktu baru menunjukkan pukul sembilan kurang sepuluh menit. Namun, Matahari sudah tampak berinsar terang sejak pukul enam lewat tiga puluh menit.
“Mas, nanti orang – orang gosipin aku yang ga enak, klo kita jalan bersama.”
Sejak kedekatannya dengan Alex, Bilqis memang menjadi bahan obrolan karyawan lan, terutama wanita. Sosok Bilqis yang praktis tidak memiliki track record buruk selama menjadi sekretaris, kini tidak lagi. ia disamakan dengan Tina dan Saskia, terlebih mereka memang akrab.
“Tidak akan.” Alex tetap tetap menjalankan mobilnya hingga memasuki area gedung. Ia tidak menyetujui permintaan sang istri yang memintanya diturunan sebelum memasuki area itu.
“Mas, tuh kan udah banyak orang,” kata Bilqis yang melihat ke arah lobby dan banyak orang berlalu lalang masuk, lalu mengantri di lift.
“Biar saja,” ucap Alex. Ia memang berniat ingin semua orang kantor tahu, bahwa antara dirinya dan Bilqis memiliki hubungan. Dan dengan waktu yang sudah ia rencanakan, ia akan mengumumkan status Bilqis sebenarnya.
“Ayo turun!” pinta Alex pada Bilqis saat ia sudah memberhentikan mobilnya tepat di depan lobby. Di samping mobil Alex, pria berseragam safari warna hitam sudah siap mengambil alih kendaraan itu dan membawanya ke basement.
Bilqis pun tidak punya pilihan. Biasanya, Alex akan langsung membawa mobilnya ke basement dan mereka melewati pintu basement yang lebih sepi dibanding pintu lobby. karena, di pintu ini semua orang melewati, baik yang memiliki kendaraan atau tidak. sedangkan melalui pintu basement hanya ada orang – orang yang membawa kendaraan roda empat saja, maka lebih aman dan tidak terlihat banyak orang, walau mereka datang bersama.
Alex sengaja menunggu Bilqis, setelah mereka sama – sama membuka pintu untuk keluar dari mobil. Pria itu juga sengaja mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Bilqis dan menggenggamnya ketika berjalan beriringan memasuki gedung itu.
“Tuh, kan gue bilang apa. mereka tuh ada hubungan.”
“Iya. Sekarang udah terang – terangan.”
“Ternyata, Bilqis sama aja kaya Tina dan Saskia. Denger – denger Saskia udah di nikahin loh sama Pak Ringgo.”
“Oh ya?”
“Iya lah, orang dah hamil. Ya harus tanggung jawab.”
Para penggosip itu pun berbisik, saat Alex dan Bilqis melintas. Memang samar terdengar, tapi Bilqis yakin para wanita itu sedang membicarakannya, karena arah mata mereka memang tertuju pada bos killer dan sekretarisnya.
“Hebat Bilqis, bisa menaklukan bos killer,” celetuk salah seorang karyawan yang Bilqis lewati.
Keposesifan Alex pun semakin menjadi. Di depan orang banyak seperti ini, ia semakin ingin menunjukkan kepemilikannya dengan beralih meraih pinggang Bilqis. Alex berjalan beriringan dengan sang istri sembari memegang pinggang belakang Bilqis.
__ADS_1
“Mas, lepas,” kata Bilqis berbisik.
“Kenapa?”
“Ga enak jadi psat perhatian, Mas.”
“Biarin.”
Bilqis memutar bola matanya, mala. Berdebat dengan Alex memang percuma, ia tidak pernah menang.
Alex tetap pada posisinya hingga mereka melewati lift umum dan memasuki lift khusus CEO.
“Ish.” Bilqis melepas tangan Alex yang bertengger di belakang pinggangnya saat mereka sudah berada di lift, berdua.
“Kenapa sih? Galak banget,’ ujar Alex menggoda dan justru menghimpit tubuh Bilqis di dinding lift yang berwarna silver.
“Mas, ini di kantor. Malu diliatin. Ini bukan di rumah. Kalau di rumah, aku ga akan ngelarang kamu pegang, kamu cium, atau kamu gigit sekali pun bagian tubuh aku yang mana aja, terserah.”
“Oh ya? Bener nih?” tanya Alex menyeringai.
Bilqis menatap mimik wajah yang mesum dan penuh arti itu. “Dasar mesum!”
Bilqis pun mendorong pelan wajah Alex, sembari menahan tawa. Ia kesal dengan wajah itu, tapi merindukan selalu sentuhan itu.
“Tadi kamu belum sarapan. Pasti sekarang lapar. Nanti aku suruh Bima buat pesankan makanan. Kamu mau apa?” tanya Alex yang sadar bahwa saat sarapan bersama tadi, Bilqis tidak menyentuh makanan di meja dan hanya meminum coklat hangat saja.
“Ngg tahu, Mas. Aku males makan. kayanya perut aku kembung.”
Alex mengernyitkan dahi. “Memang salah makan apa sebelumnya?”
“Hmm …” Bilqis mulai berpikir. “Ngga tahu. Perasaan sih ngga. Kayanya aku kenyang melayani orang yang maunya makan aku terus.”
Sontak, Alex tertawa. Ia sungguh gemas. Bilqis selalu membuat hari – harinya berwarna dan ceria. Perkataan yang dilontarkan Bilqis spontan dan penuh kelucuan. Belum lagi ekspresi wanita itu yang lugu. Ah, bagaimana bisa ia tidak memakan wanita itu setiap hari.
Mata Alex tertuju pada bibir ranum berwarna peach itu. Seingat Alex, pagi ini ia belum mengecup bibir itu karena mereka mendebatkan tentang perubahan kamar rahasia.
Alex memiringkan wajahnya dan mengecup bibir itu lembut. Bilqis membalas kecupan itu, karena pikirnya Alex hanya akan mengecupnya sekilas saja. Tapi ternyaa tidak. Pagutan itu semakin menuntut, walau tangan Bilqis sudah berada di dada Alex dan meminta pria itu untuk melepaskan.
Namun, bibir Bilqis terasa candu. Ia tidak bisa kalau hanya mengecupnya sekilas saja.
__ADS_1
Tring
“Mmpphh …”
Pintu lift sudah berbunyi dan akan terbuka. Bilqis juga sudah memberi kode pada Alex untuk melepaskan pagutannya. Namun, pria itu abai, Ia tetap meneruskan aktifitas menyenangkan itu, hingga seseorang di depan lift itu menganga.
“Oh. Maaf, Sir. sepertinya saya harus menggunakan lift yang lain,” ujar Dion, direktur operasional yang sebelumnya menjadi bos Bilqis.
Sontak, Alex melepas pagutan itu dan Bilqis berusaha untuk menjauhkan tububh Alex. Tapi percuma, semua sudah terlihat oleh Dion.
“Sorry, Sir.” Dion kembali berkata. “Silahkan dilanjutkan.”
“It’s oke. Kebetulan sebentar lagi kami akan sampai,” sahut Alex sembari melihat ke arah angka, ternyata ia belum sampai di lantanya. Butuh satu angka lagi untuk sampai di lantainya sendiri. Tapi sudah kepergok Dion.
“Saya boleh masuk, Sir?” tanya Dion yang tetap hendak menggunakan lift itu.
“Silahkan.” Alex memberi jalan agar Dion dapat masuk ke dalam lift.
Tubuh Alex lebih menghimpit sang istri dan tetap memeluk pinggangnya. Sesekali Dion pun melirik Bilqis. Sama seperti anggapan karyawan lain. Selama menjadi sekretarisnya, Bilqis tidak pernah berbuat aneh. Bahkan mencoba menggodanya. Tidak. oleh karena itu, ia cukup lama menjadikan Bilqis sebagai sekeretarisnya karena wanita itu memang mengandalkan isi kepalanya, bukan isi di balik pakaian kerjanya.
“Jangan berpikir macam – macam!” celetuk Alex pada Dion, seolah pria itu tahu isi kepala pria paruh baya yang turut memiliki andil membesarkan perusahaannya.
“Tidak.” Dion menggeleng dan tersenyum. “Mana saya berani, Sir.”
“Good. Karena Bilqis tetap sekeretaris yang seperti anda tahu. Bukan dia yang menggoda saya, saya yang menggodanya,” ucap Alex dengan menatap ke arah Dion dan bergantian ke arah Bilqis. “Bukan begitu, Sayang?”
Bilqis pun malu. Pipinya merona. Ia menjadi kikuk. Sementara, Dion hanya tersenyum. Ia ingat bagaimana waktu itu Bilqis menolak ketika akan dipindahkan menjadi sekretaris Alex.
Tring
Lift kembali berhenti setelah sampai di lantai yang ditekan Alex saat pertama kali berada di sini.
“Baiklah, saya tunggu pengumumannya saja,” ujar Dion tersenyum dan pamit untuk berjalan lebih dulu keluar dari lift.
“Aaah,” teriak Alex pelan saat Bilqis mencubit pinggangnya, ketika Dion sudah menjauh.
“Kamu sih, malu – maluin aja. Ketauan Pak Dion kan?” Bilqis benar- benar malu. Apalagi ia sudah cukup lama mengenal Dion.
“Biarin.”
__ADS_1
“Ayo!” Alex mengajak Bilqis keluar dari lift dengan menggandeng tangan itu.
Usai makan siang nanti, ia sengaja meminta Bima untuk mengadakan rapat intern dadakan. Di ruang rapat nanti, rencananya ia akan mengumumkan status ini. Dan, itu diluar sepengetahuan Bilqis.