Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Bonchap 8 - Radit dan Maya


__ADS_3

"Yank, aku keluar temuin temenku dulu ya.”


Maya mengangguk. “Iya, aku mandi duluan ya.”


“Ngga temenin aku? Nanti temen aku tanya kamu.”


Maya menggeleng. “Ngga ah, malu.”


“Ya udah, kalau begitu aku keluar.”


Maya mengangguk lagi.


Radit langsung menemui temannya yang berada di luar. Ia berpikir siapa kira – kira, pasalnya ketiga sahabatnya sudah datang siang tadi. Ia memang tidak mengundang banyak teman, hanya teman – teman terdekatnya saja yang diundang.


Radit berjalan keluar rumah. Suasana di sana sudah tampak sepi, hanya ada segelintir orang yang sedang merapikan sisa – sisa pesta.


Radit meliht punggung seorang wanita berdiri membelakanginya. Orang itu melihat ke arah pemandangan desa yang tampak dari sana.


“Maura.”


Wanita yang disebut namanya oleh Radit pun menoleh. “Dit.”


Radit menghampiri Maura. “Hei, kamu sampai di sini.”


Maura tersenyum. Wanita ini adalah cinta pertama Radit saat SMA. Wanita yang dijodohkan oleh orang tuanya karena tidak bisa menunggu Radit yang masih kuliah. Orang tua Maura menilai Radit tidak sesukses pria yang menjadi pilihannya. Dan, atas dasar inilah Radit memutuskan untuk cepat menikahi Maya. Maura yang sedang mengalami masalah di rumah tangganya, menjadikan Radit sebagai tempat berkeluh kesah. Satu waktu, mereka bertemu karena ketidak sengajaan. Radit menolong Maura yang duduk sendiri di sebuah halte di waktu yang hampir tengah malam. dan, sejak itu Maura sering menemui Radit. Bahkan hingga ke kantornya. Radit yang tidak ingin memberi harapan pada Maura, akhirnya segera mengambil keputusan ini.


“Jadi selama ini kamu sudah punya pacar? Aku pikir belum,” ucap Maura. “Aku pikir kamu tidak bisa melupakanku.”


Radit tersenyum. “Hidup itu memang datang dan pergi, Ra.”


Maura menoleh lagi ke pemandanga itu. ia berdiri cukup jauh dari rumah Maya. Dan radit berdiri memberi jarak di samping Maura. Di jarak yang cukup jauh dari mereka berdua, terdapat sebuah mobil. Radit pun menoleh ke mobil itu.


“Kau menyetir mobil sendiri? Sejauh ini?”


Maura tersenyum. “Sudah biasa, Dit. Bahkan aku pernah ke Jogja dengan mobil ini.”


“Waw.”


Maura memang wanita mandiri. Sejak SMA, dia sudah mahir membawa kendaraan roda empat. Bahkan ia memang memiliki kendaraan itu. Maura lahir dari keluarga yang cukup berada. itu sebabnya Radit tidak yakin jika keluarganya menyetujui hubungan mereka. Benar saja, akhirnya cinta mereka pun kandas dan Maura sempat menyayangkan Radit yang tidak memperjuangkannya.


“Kamu tidak memperjuangkanku, Dit. Bahkan waktu itu.” Maura berkata sembari melipat kedua tangannya di dada.


“Apa yang bisa aku perjuangkan? Dulu aku masih kuliah dan tidak memiliki bekal untuk membawamu pergi.”


“Tapi sekarang pun tidak.” Maura menoleh ke arah Radit.


“Sekarang berbeda,” jawab Radit.


“Aku tidak pernah mencintainya, Dit. Aku dan dia ingin berpisah.”


“Terkadang apa yang menurut kita baik, belum tentu sebenarnya baik. Kita memang cocok saat masih berpacaran, tapi bisa jadi kita tidak cocok saat sudah menikah. Tidak ada yang salah dengan suamimu, hanya saja kamu belum bisa menerimanya. Terima lah semua yang ditakdirkan Tuhan. Maka, jalanmu akan ringan.”


“Kau bisa bicara seperti itu karena sudah menemukan penggantiku.”

__ADS_1


Radit tersenyum. “Ya, aku sudah melewati masa itu. Dan, aku pikir kamu pun sudah melewatinya.”


Maura menggeleng. “Ak tidak tahu.”


“Mas.”


Sontak, Radit dan Maura menoleh.


“Eh, Yank. Ini ada temen Mas Radit, namanya Maura.”


Radit langsung menggapai pinggang Maya dan memperkenalkannya pada mantan kekasih yang sampai saat ini masih berstatus istri orang.


Radit tidak mengambil kesempatan saat Maura sedang bermasalah dengan suaminya. ia tidak ingin disebut pebinor. Cinta tidak buta, jika menggunakan logika. Dan, Radit adalah pria yang penuh dengan pertimbangan. Ia dewasa karena keadaan.


“Maura, ini istriku. Maya.”


Maya dan Maura saling berjabat tangan.


“Maura.”


“Maya.”


Maura tersenyum pada Maya, begitu pun sebaliknya.


“Ternyata,kamu menyukai wanita yang berawalan M ya, Dit,” kata Maura sambil tertawa.


Maya pun mengernyitkan dahi.


“Tidak sengaja. Sedapetnya aja,” jawab Radit nyengir.


Maya tersenyum. “Terima kasih.”


Ia menganggung. Sejauh ini, Maya memang melihat Radit seperti itu dan atas dasar itu juga Maya tidak berpikir dua kali untuk menjawab iya saat Radit melamarnya.


“Baiklah, kalau begitu aku permisi.” Maura menginterupsi di tengah keheningan mereka bertiga yang tak lagi bersuara.


“Hanya itu? Tidak masuk dulu ke dalam dan menikmati hidangan yang tersedia,” ucap Radit.


“Memang masih ada?” tanya Maura.


“Ada sisanya. Paling ayamnya udah tinggal tulang atau rendangnya udah tinggal bumbunya saja.”


Sontak, Maura tertawa. “Radit, kamu selalu saja seperti ini. Dan ini yang membuatku tidak bisa melupakanmu.”


Maura menoleh ke arah Maya, wanita yang sedari tadi berada dalam genggaman tangan Radit hingga membuatnya cemburu dan sesekali menatap ke arah tangan itu.


“Aku hanya ingin bertemu wanita yang kau pilih, Dit. Ternyata kamu memang tidak salah memilihnya.” Maura melihat raut wajah Maya yang lembut.


Maura pun bergerak melangkah menuju mobilnya, diiringi oleh Maya dan Radit yang menemani tamunya pulang.


“Mbak benar tidak makan dulu? Radit bohong. Di dalam masih banyak makanan kok,” ucap Maya.


Maura menggeleng. “Tidak usah terima kasih. Aku hanya ingin mengucapkan selamat pada kalian dan …”

__ADS_1


Maura membuka pintu mobilnya, lalu mengeluarkan sebuah kado yang cukup besar. “Menyerahkan ini untuk kalian. Ini kado dariku.”


Maya menerima kado yang berbentuk persegi panjang itu. “Terima kasih, Mbak.”


Maura tersenyum. “Sama – sama.”


Kemudian, Maura masuk ke dalam mobil. Radit dan Maya melambaikan tangannya saat Maur hendak melajukan mobil dan mmebuka kaca jendela sebelum benar – benar menghilang dari pandangan.


Radit tersenyum melihat kepergian Maura sembari merangkul bahu Maya.


Maya menoleh ke arah suaminya. “Jadi, dia mantan pacar Mas yang pernah Mas ceritakan?”


Radit mengangguk. “Iya.”


Pria itu juga menoleh ke arah sang istri. “Kamu tidak cemburu kan?”


Maya menggeleng. “Semua orang punya masa lalu dan aku mengerti.”


Radit mengeratkan rangkulan itu. “Kamu tahu mengapa aku memilihmu?”


Maya menggeleng.


“Karena kamu itu tua sebelum waktunya.”


Bugh


“Aaa …” rengek Maya. “Berarti aku tua gitu?”


Radit tertawa. “Ralat, bukan tua tapi dewasa.”


“Aaa … kata – kata pertama itu terucap dari hati, tapi kata – kata kedua terucap setelah logika.”


Radit semakin tersenyum lebar dan mengacak rambut Maya. “Pintar.”


Radit membawa istrinya menunju rumah. Mereka kembali memasuki rumah dan masuk ke dalam kamar setelah terhalang oleh orang – orang yang mengajak mereka berbincang sejenak.


“Ah, akhirnya masuk ke kamar juga.” Radit membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


“Mas, mandi dulu gih!”


Radit menoleh arah sang istri yang saat ini sudah duduk di sampingnya. Radit pun kembali bangkit. Ia mendekati Maya dan mengendus leher itu.


“Hm. Udah wangi aja.”


“Mas, geli.”


Radit semakin mengusel ke tengkuk itu.


“Mas, mandi dulu ih. Dari tadi kamu belum bersih – bersih juga," ucap Maya.


“Biarin. Mas udah ga tahan, Dek. Mau praktekin yang diajarin Mas Alex.”


Dahi Maya langsung mengernyit. “Emang Sir Alex ngajarin apa?”

__ADS_1


“Ada deh.” Radit pun menyeringai dan membaringkan tubuh istrinya.


Radit akan memulai sesuatu yang baru dimulai. Ia berjanji akan menjadi suami yang baik untuk Maya dan ayah yang baik untuk anak – anaknya kelak. Radit belajar dari pengalaman dan tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti Ridho dulu.


__ADS_2