Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Semakin sayang


__ADS_3

Bilqis baru saja keluar dari kamar mandi. Ia melangkahkan kakinya dengan perlahan. Rasanya saat melangkah masih terasa tidak nyaman. Namun, sebagai wanita yang tidak lemah, ia pun tetap ingin menjalani aktifitasnya.


BIlqis mengedarkan pandangan, tidak ada sosok suaminya di sana. Ia pun bergegas untuk mengganti pakaian dan keluar kamar.


“Mommy …” teriak Aurel yang melihat Bilqis keluar dari kamar dan perlahan berjalan menuju dapur. Ia ingin menjalankan tugasnya sebagai istri. Ia ingin menyiapkan sarapan pagi untuk suami dan anaknya.


“Hai, Sayang.” Bilqis tersenyum sembari membentangkan tangan untuk menangkuo tubuh Aurel.


“Kamu sudah minum susu?” tanya Bilqis dengan lembut pada gadis kecil yang sudah ia anggap sebagai putrinya.


Aurel mengangguk. Bahkan sepertinya Aurel juga sudah mandi. Aroma tubuh gadis kecil itu khas dengan bedak dan cologne anak.


“Aku juga sudah mandi. Nih cium! Tubuhku sudah wangi kan?” ucapnya tersenyum.


Bilqis pun gemas, ia mencium pipi yang bulat seperti donat gula. “Ya, Aurel suah wangi.”


Anak kecil itu pun tertawa hingga menampilkan jejeran gigi susunya yang tersusun rapi dan kecil – kecil.


“Sekarang, ayo kita siapkan sarapan untuk Aurel dan Daddy!” kata Bilqis dengan mengajak putrinya ke dapur.


“Untuk Mommy juga.”


Bilqis tersenyum mendengar sahutan Aurel. “Ya, untuk Mommy juga.”


Keduanya pun tertawa. Lalu, berjalan menuju dapur. Bilqis menuntun tangan Aurel. Namun, langkah Bilqis tetap sama, ia belum bisa berjalan cepat karena ulah ayah anak yang sedang dituntunnya ini.


“Mommy, jalannya kenapa?” tanya Aurel dengan mendongakkan kepalanya untuk menatap Bilqis.


“Tidak apa, Sayang.” Bilqis menggeleng.


“Tapi sebelumnya, jalan Mommy tidak seperti ini?”


Bilqis pun nyengir. Ia tidak tahu apa yang harus ia jawab.


“Apa Daddy nakal? Hingga membuat Mommy seperti ini?” tanya Aurel lagi. Bilqis pun hanya menjawab dengan senyuman.


“Aku akan memarahi Daddy, karena telah membuat Mommy sakit.”

__ADS_1


Senyum Bilqis langsung mengembang. “Hm … so sweet.”


Bilqis memeluk sekilas tubuh Aurel yang sedang tertawa lebar.


“I Love you, Mommy.”


“I Love you too, Aurel.”


Pelukan yang semula sekilas itu pun menjadi benar – benar sebuah pelukan hangat. Gadis kecil itu sangat senang dengan kehadiran Bilqis di rumah ini.


Sesampainya di dapur, ternyata asisten rumah tangga di sana sudah menyiapkan sarapan.


“Loh, makanannya sudah jadi?” tanya Bilqis pada Nia. Wanita yang menurut Alex bekerja lebih lama dari Maya dan satu orang asisten rumah tangganya lagi.


“Iya, Non. Suda selesai,” jawab Nia mengangguk.


“Untuk hari ini tidak apa. tapi untuk besok dan seterusnya, biar saya yang membuat sarapan ya, Ni.”


Nia mengangguk. “Baik, Non.”


“Oh ya, makanan apa yang Aurel sukai?” tanya Bilqis pada Nia yang sudah melayani Aurel dan Alex cukup lama. Melayani dalam hal memasak.


Bilqis mengangguk sembari merekam perkataan Nia di kepalanya. “Lalu, Mas Alex. Makanan apa yang dia sukai.”


“Sir Alex juga tidak susah kok, Non. Semua makanan yang saya masak, tidak pernah ditolak Sir Alex. Tapi Sir Alex ebih suka makan – makanan tradisonal, seperti rendang, gado – gado, nasi goreng, atau sate. Sir Alex malah jarang memakan makanan western.”


Bilqis mengernyitkan dahi. Padahal jika di kantor, Alex lebih sering memesan makanan wastern. Entahlah? Mungkin ia salah.


Kemudian, Bilqis mengambil cangkir dan hendak membuat kopi untuk Alex seperti yang sering ia lakukan saat di kantor. Bilqis memang tidak mengetahui detal makanan kesukaan Alex. Yang ia tahu, saat makan siang, Alex sering memintanya untu memesan makanan yang bukan makanan tradisional.


Setelah cukup lama di kamar rahasia, Alex pun keluar dan kembali mengunci kamar itu lalu memasukkan kunci ke saku celananya. Ia bergegas bergabung dengan anak dan istrinya di meja makan. Dari lantai dua, Alex bisa melihat Bilqis yang sedang berdiri di depan marmer kitchen set berwarna hitam yang terlihat elegan. Sementara Aurel sudah terlihat duduk manis di meja makan. sesampainya di ruangan itu, Alex melihat interaksi hangat antara sang putri dengan ibu sambungnya. Seketika senyum Alex pun mengembang.


Baru saja Alex ingin menghampiri dan menyapa sang istri, Bilqis sudah kembali lagi ke dapur. Alhasil, Alex hanya menyapa putrinya.


“Morning, Sayang.”


“Daddy …” jawab Aurel ceria. “Morning, Daddy.”

__ADS_1


Aurel tidak mau kalah dengan ayahnya. Gadis kecil itu pun meminta untuk mencium kening sang ayah setelah sang ayah mencium keningnya.


Lalu, Alex beralih pada Bilqis. Pria itu memeluk istrinya dari belakang. “Morning, Sayang.”


Bilqis menoleh dan tersenyum. “Morning.”


Alex bergelayut di belakang tubuh Bilqis. Dagunya pun sengaja ditempelkan pada bahu kanan Bilqis. Pria itu terlihat manja, sangat berbeda dengan sikapnya ketika berada di kantor.


Bilqis kembali menoleh dan tersenyum.


“Kenapa senyum?” tanya Alex dengan dagu yang bergerak. Dan Bilqis dapat merasakan gerakan dagu itu di bahunya.


“Kamu tidak seperti Sir Alex yang aku kenal.” Bilqis tertawa.


“Ya, karena saat di rumah, aku adalah Mas Alex. Tapi di kantor, aku tetap Sir Alex – mu.”


Bilqis mengernyitkan dahi. “Ya … Ya … terserah kamu. Yang penting orang kantor tidak tahu tentang pernikahan kita.”


“Ya, mereka tidak tahu jika kamu menginginkan itu. tapi jika kamu mau status kita diumumkan, itu pun tidak masalah bagiku.”


Bilqis menggeleng. “Tidak sekarang.”


Alex pun mengangguk. Ia menyerahkan kenyamanan itu pada Bilqis.


“Tapi kenapa Mr. Jhon datang? Aku khawatir dia akan memberitahu Tina.”


Kini, Alex yang menggelengkan kepalanya. “Tidak mungkin. Jhon orang yang bisa menjaga rahasia.”


Bilqis setuju saja, karena untuk penilain tentang Jhon memang hanya pria itu yang lebih tahu. Selain Jhon, Alex memang cukup jeli jika mengambil penilaian untuk orang lain. oleh karena itu, untuk jabatan penting biasanya Alex yang merekrut karyawannya langsung.


Hari ini masih hari Minggu. Alex sengaja menghabiskan hari liburnya kali ini di rumah. Selain ajang waktu untuk memperkenalkan Bilqis dengan rumah ini, Alex juga ingin kebersamaan mereka terjalin di mulai dari rumah. Aurel tampak senang ketika bermain bersama ibu sambungnya itu, membuat Maya yang biaanya akan direpotkan Aurel sepanjang ahri pun, bisa sedikit memiliki waktu luang.


****


“Hi, kamu mau ke kantor?” tanya Alex saat keesokan pagi mendapati Bilqis yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya.


“Iya.” Bilqis mengangguk. “Oh ya, pakaianmu sudah aku siapkan.”

__ADS_1


Alex mengikuti arah tangan Bilqis yang sudah menyiapkan baju kerjanya. Walau Alex memulai pernikahan ini dengan paksaan. Namun, apa yang Bilqis lakukan tampak tidak terpaksa. Wanita itu melayani Alex dan putrinya dengan senang hati.


Semalam pun, Alex kembali meminta jatahnya dan Bilqis tidak keberatan. Ia memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri tanpa terkecuali. Alex pun semakin menyayangi Bilqis.


__ADS_2