Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Tergantung pola asuh


__ADS_3

“Alex.”


Baru saja, Alex, Bilqis dan keluarganya memasuki rumah besar Alex, tiba – tiba ada suara yang memanggil nama si pemilik rumah dari pintu utama. Pintu yang sedang terbuka itu, tidak lantas membuat sang tamu langsung memasuki rumah. Ia tetap memanggil nama pemiliknya lebih dulu, walau penjaga kemanan di depan sudah mempersilahkan dirinya untuk masuk.


Alex pun berjalan menuju pintu utama dan melihat pria yang kemarin datang ke pernikahannya. “Om Darwis.”


Pria paruh baya yang masih terlihat tampan itu pun tersenyum pada Alex. Lalu, Alex menghampiri dan mereka pun saling berpelukan.


“Alex pikir, Om tidak datang.”


“Om Pasti datang dong,” jawab Darwis yang memang diundang Alex untuk menikmati makan siang bersama di rumah ini untuk menyambut keluarga baru Alex yaitu keluarga Laila.


“Karena Ibu Laila?” tebak Alex dengan senyum menyeringai.


Darwis pun tertawa. “Aku tidak pernah bisa bohong padamu, Lex. Kau seperti putraku sendiri.”


Alex tertawa. Ya, ini adalah salah satu kelebihan Alex. Ia bisa membaca mimik seseorang apalagi orang yang sangat dikenalnya.


“Sejak kapan?” tanya Alex sembari mengajak Darwis masuk.


“Sejak pandangan pertama mungkin.”


Keduanya pun tertawa. Alex mengangguk. “I see, aku sudah menduga itu.”


Alex dan Darwis berbincang dari hati ke hati. Pria paruh baya itu pun bertanya tentang malam pertama pada Alex. Di sisi lain, Bilqis dan Radit menatap ibunya yang sedang menoleh ke arah dua pria yang sedang berbincang itu.


“Bu, kayanya dia suka sama ibu deh,” celetuk Radit.


“Ish, apa sih? Ibu udah tua begini. Ga mungkin lah,” jawab Laila yang tidak percaya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


“Iya deh, Bu. Bilqis juga ngerasanya begitu,” ledek san putri.


“Apa sih kalian? Ngeledekin orang tua aja. Lagi pula dia dokter dan masih tampan. Pasti banyaklah wanita yang mau jadi istrinya.”


“Dan ibu mau?” tanya Radit asal.


Laila terdiam.


“Diam tandanya mau.” Bilqis ikut meledak.


“Ah, tau ah. Susah ngomong sama kalian.” Laila memilih meninggalkan kedua anaknya dan menyibukkan diri dengan membantu pembantu Alex yang sedang menyiapkan makan siang.


“Dulu ibu juga sudah memikat dokter, berarti sekarng juga bisa dong.” Radit masih meledek ibunya, karena sang ayah juga memang berprofesi sama.


Laila langsung membulatkan matanya. “Sekali lagi kamu ngomong, tak jejelin sambel.”


Sontak Radit tertawa. Ia berhasil meledek ang Ibu hingga terpaksa harus menyudahi karena tanduk sang Ibu sudah mulai berdiri.


Perlahan hati Bilqis sudah tersemat nama Alex.


Alex membuyarkan lamunan Bilqis. “Hei, ngapain bengong?”


Bilqis menggeleng. “Tidak apa. hanya memperhatikan Radit dan Ibu.”


Di sana, Radit lebih dulu menyalami Darwis dan berbincang. Entah apa yang sedang mereka bincangkan. Setelah itu, Radit memanggil Ibunya dan dengan terpaksa Laila menemui Darwis sehingga mereka pun berbincang bertiga.


“Sedih karena harus jauh dari mereka?” tanya Alex dengan mengikuti tatapan Bilqis yang tertuju pada ketiga orang di sana.


Bilqis mengangguk. “Aku mencari uang bukan untuk diriku sendiri, tapi mereka. Saat aku lelah dan melihat wajah Ibu. Perlahan lelahku sirna. Apalagi kalau melihat mereka tertawa. Rasanya hidupku memiliki arti. Lepas dari kekecewaan yang aku alami pada ayah. tapi, Allah juga mengirim kebahagiaan lain melalui mereka.”

__ADS_1


Alex tersenyum dengan menatap Bilqis penuh cinta. Ia semakin terpesona dengan sang istri. Selalu saja ada moment yang membuat Alex jatuh cinta pada wanita itu. padahal semula ia hanya ingin dekat dengan Bilqis karena parasnya yang persis dengan Tasya.


Alex menarik kepala Bilqis dan menaruh di pundaknya. “Setiap weekend, kita pasti akan menemui Ibu.”


“Benarkah?” tanya Bilqis dengan menoleh ke arah Alex. Mata itu berbinar.


Alex mengangguk dan tersenyum. “Tentu saja.”


Rumah besar yang biasanya sepi, terlihat ramai. Kehadiran Radit, Laila, dan Darwis semakin menambah keceriaan siang itu. Mereka saling berbincang dan bercengkerama. Terkadang celotehan Radit membuat Darwis dan Alex tertawa. Belum lagi Bilqis dan Laila. Ketiga orang yang datang dari belahan planet lain itu pun membuat suasana menjadi hidup dan menghidupkan pria seperti Alex dan Darwis yang kaku dan hidup hanya untuk mengabdi pada pekerjaan.


****


Hari mulai larut. Langit pun semakin gelap. Laila dan Radit pulang dengan diantar oleh Darwis. Sebelumnya, padahal Alex sudah menyiapkan sopirnya untuk mengantar adik dan ibu mertuanya itu. namun, Darwis bersikeras untuk mengantar mereka sendiri. Dan, Alex mengalah, ia memaklumi usaha Darwis yang tengah mendekati Laila.


Sebelum Laila pergi, ia member banyak wejangan pada putrinya, termasuk pada menantunya. Laila hanya meminta Alex untuk bersabar saat mendapati sikap Bilqis yang kurang berkenan. Ia juga memberi wejangan pada sang putri bahwa saat ini dia bukan lagi wani single yang bisa main atau pergi keluar seenaknya seperti dulu, walau saat Bilqis masih belum menikah pun, ia tidak pernah melakukan itu. Bilqis selalu keluar rumah atas izin sang ibu dan tidak pernah pulang lebih dari jam sepuluh malam.


Alex salut dengan cara Laila mendidik kedua anaknya. Walau tanpa ayah, Laila mampu membesarkan kedua anaknya dengan baik dan membentuk pribadi yang juga baik. Sebagian orang memang memandang anak broken home dengan sebelah mata atau sering disebut pembuat onar, padahal tidak sepenuhnya demikian. Semua tergantung pola asuh. Bahkan yang memiliki orang tua utuh pun tidak menutupi kemungkinan menjadi anak biang onar. Karena semua itu, lagi – lagi tergantung pada pola asuh dan besarnya perhatian.


“Huft, akhirnya bisa rebahan juga,” ucap Alex sembari merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur king size itu. tempat tidur yang besarnya dua kali lipat dari tempat tidur milik Bilqis.


Ceklek


Bilqis membuka pintu kamar Alex. Ia terkesima dengan dekorasi kamar itu. Tampak indah. Bibirnya pun mengulas senyum saat mendapati foto pernikahannya terpampang besar di sana. Ia tidak menyangka Alex secepat itu mencetak foto pernikahan mereka. Bahkan di ruang tamu, Alex juga sudah mencetak foto pernikahan mereka yang lengkap dengan Aurel di pangkuan Bilqis, sedangkan Alex berdiri sembari memegang bahu istrinya.


“Aurel sudah tidur?” tanya Alex saat mendengar pintu terbuka dan melihat sang istri yang memasuki kamarnya.


Bilqis mengangguk. “Sudah.”


“Asyik.” Alex bangkit dan mengusap kedua tangannya.

__ADS_1


Pria itu langsung mendekati sang istri dan menggendong Bilqis. Sontak, Bilqis pun berteriak karena tubuhnya yang tiba – tiba melayang.


__ADS_2