Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Lamaran Darwis


__ADS_3

“Sayang,” panggil Alex gugup.


Bilqis mendekati suaminya. “Ini kamar apa?”


“Ini?” Alex malah balik bertanya sembari kepalanya berpikir untuk mencari alasan. Dan Bilqis menanti jawaban dari pria itu.


“Hm.” Bilqis mengangkat kedua alisnya karena Alex tak kunjung mejawab pertanyaannya.


“Ini gudang, Sayang.” Akhirnya, Alex menjawab.


“Oh.” Bilqis pun hanya membulatkan bibirnya. Ia tidak terlalu peduli dengan ruangan itu.


Bilqis memang tidak terlalu ingin tahu banyak tentang masa lalunya. Bahkan Bilqis juga tidak pernah bertanya tentang mendiang istri Alex, selama mereka menikah. Menurut Bilqis, itu hanya masa lalu. Ia yakin bahwa saat ini Alex sudah melupakan mendiang istrnya dan menjalani cintanya yang sekarang bersama dirinya.


“Ya sudah. Ayo sarapan!” Bilqis menggandeng lengan Alex dan mengajak suaminya untuk turun, lalu bergabung duduk bersama Aurel yang sedari tadi menunggu.


Bilqis sengaja mendatangi Alex ke lantai dua, karena pria itu tak kunjung turun, sedangkan waktu bergerak cepat. Di sana, Laila dan Radit sudah menunggu kedatangannya.


Alex menurut. Ia mengikuti langkah istrinya dan mereka berjalan beriringan sembari memegang lengan Bilqis yang berada di dalam lengannya.


Saat melangkah, Bilqis menoleh sekilas ke belakang ke arah pintu ruangan itu. Sejak berada di rumah ini, ia sempat penasaran dengan ruangan yang tidak pernah terbuka ini. Hampir semua ruangan diperkenalkan oleh Maya dan Nia saat ia baru tiba di rumah ini sebagai nyonya baru untuk beradaptasi. Namun, hanya satu yang tidak pernah diperkenalkan Maya dan Nia, yaitu kamar tadi. Kamar yang baru saja Alex masuki.


Sikap yang semula tidak peduli itu pun berubah menjadi penasaran. Mungkin, suatu saat ia akan bertanya tentang kamar itu pada Nia atau Maya.


****


“Uncle tampan sekali,” ucap Aurel pada Radit yang memang terlihat tampan dengan jas hitam dan kemeja putih di dalamnya.


Radit juga mengenakan dasi yang Bilqis pakaian. Hanya untuk memakai dasi, Radit harus menunggu sang kakak datang. Pasalnya, Laila sudah lupa cara mengenakan dasi yang dulu sering ia lakukan untuk suaminya.


“Iya dong, Rel. Uncle memang selalu tampan,” jawab Radit jumawa.


Bilqis hanya mencibir dengan ekspresi yang seolah ingin muntah. Alex yang sedang menyetir di depan pun tertawa. Begitu juga dengan Laila yang duduk di belakang bersama Radit sambil memangku Aurel, cucunya. Cucu yang ternyata memang adaalh cucu kandungnya, karena Aurel lahir dari kakak Bilqis, anak Laila yang tidak pernah Laila ketahui.


“Jangan heran ya, Nak Alex. Bilqis kalau ketemu Radit itu seperti kucing dan anj*ng. selalu saja bertengkar,” ujar Laila, membuat senyum Alex pun kembali mengembang.


“Ya, namanya juga saudara, Bu,” sahut Bilqis dengan menoleh sedikit ke belakang ke arah Ibu dan adiknya, lalu kembali ke lurus ke jalan.

__ADS_1


“Alex malah iri, Bu. Karena Alex tidak punya saudara sekandung,” ceeltuk Alex dengan tetap fokus menyetir.


“Tenang, Mas. Sekarang Mas Alex sudah punya saudara. Dan itu aku.” Radit hendak memeluk Alex dari belakang. Karena kebetulan Radit memang duduk di belakang Alex.


“Ih, apa – apaan sih? Mas Aelx itu punya aku.”


“Cie ….” Sorak Radit yang mendengar kata kepemelikian dari Bilqis untuk suaminya.


Alex pun menoleh ke arah Bilqis yang wajahnya sudah memerah menahan malu. Alex senang mendengar kalimat yang diucapkan Bilqis tadi. Akhirnya, ia berhasil mendapatkan hari wanita penuh warna itu.


Di belakang, Laila dapat merasakan cinta yang terjalin di pasangan suami istri ini. Sungguh, Laila sangat bahagia melihat putrinya yang sudah mendapat kebahagiaannya.


Sesampainya di gedung itu, Alex disambut oleh teman – temannya.


“Mana pacarmu?” tanya Alex pada Radit yang sudah tidak lagi dikerubungi temannya.


“Belum ada, Mas.”


“Masa?” tanya Alex tak percaya.


“Lumayan.”


“Cuma lumayan?” tanya Radit.


“Ya, karena menurutku yang cantik cuma kakakmu,” jawab Alex cuek dengan gaya seeprti biasa, yaitu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Lalu berjalan lebih dulu dari Radit.


“Ish, dasar bucin,” ucap Radit kesal pada Alex. Lalu menghampiri Bilqis. “Ternyata ga sia – sia lu mbak ke ki jono dodo, karena pelet Mbak Qis mujarab.”


Bugh


Bilqis memukul lengan Adiknya. “Enak aja. Ga dipelet juga, dia udah suka gue.”


“Ish, percaya diri sekali.” Radit menggelengkan kepalanya sembari menatap sang kakak yang juga berjalan lebih dulu.


“Ibu, putrinya percaya diri sekali,” ujar Radit pada sang Ibu.


“Iya dong, soalnya Ibunya juga cantik sih,” jawab Laila sambil berlalu dari hadapan radit dan duduk di kursi yang disediakan panitia.

__ADS_1


Weeek … Radit melongo. Ternyata sang Ibu jauh lebih percaya diri dari kakaknya.


Alex duduk bersama Bilqis dan Aurel di sana. Sedangkan Laila duduk di ujung dengan di samping kiri Aurel dan di samping kanannya kosong.


Tiba – tiba seseorang duduk di samping kanan Laila.


“Hai, Laila. Lama tidak bertemu.”


Laila menoleh dan mendapat sepasang mata indah dari Darwis yang sedang memandangnya.


“Mas, kok bisa di sini?” tanya Laila bingung campur gugup.


“Radit mengundangku,” jawab Darwis santai. Lalu ia ke belakang tubuh Laila untuk menyapa Aurel, lalu Alex, dan Bilqis.


Laila bergerak gelisah, karena gerakan Darwis membuat tubuh mereka menempel. Posisi Darwis yang sedang menyapa Alex dan keluarganya yang berada di saping kiri Laila, membuat tubuh pria itu sedikit menunduk dan seolah tengah memeluk tubuh Laila.


Acara wisuda radit pun berjalan khidmat. Laila terkejut, saat nama Radit disebut di mimbar dan pira itu maju untuk memberi sambutan karena ternyata Radit mendapatkan predikat cumlaude dengan IPk tertinggi.


Laila bersorak kencang melebihi suara lantang para tamu yang bertepuk tangan.


“Ya ampun, Qis. Radit ternyata menjadi mahasiswa teladan. Ibu benar – benar tidak menyangka.”


“Iya, Bu. Bilqis juga tidak menyangka.”


Ibu dan anak itu saling bertautan lengan dan menggengamnya walau posisi duduk mereka tidak bersebelahan.


“Mas, Radit, Mas.” Tanpa disadari aatu tangan Laila menggenggam tangan Darwis karena begitu bahagia.


Keduanya saling bertatapan dan setelah sadar, Laila langsung menarik tangannya.


Darwis tersenyum. Sejak awal ia mengagumi Laila. Kekagumannya terhadap wanita itu semakin besar. Laila memang istimewa menurutnya. Seorang single parent yang mampu mengantar cita – cita anaknya dengan baik, bahkan sampai kedua anaknya meraih kebahagiaan. Walau Radit belum menikah dan belum terlihat kebahagiaannya berumah tangga, tapi pria itu cukup bahagia dengan awalan kesuksesannya ini.


Radit sudah dipastikan diterima di perusahaan rumah sakit yang ada di singapura itu. satu minggu ini, Radit mengikuti serangkaian test melalui zoom, juga melalui Darwis yang ikut membawa Radit karena ia baru mengetahui bahwa pria yang akan menjadi putranya itu melamar pekerjaan di ruamh sakit yang dirintis Darwis dan didanai Lenka juga dedikasi waktu dan pengembangan dari Ridho atau Ronal, suami Lenka.


“Laila, jadilah istriku.” Dengan sedikit memaksa, Darwis memperlihatkan kotak cincin yag berisi cincin polos dengan permata kecil di depannya.


Sontak, jantung Laila berdegup kencang. Degupan yang kembali hadir setelah sekian puluh tahun. Ia menatap Darwis bingung antara ingin dan malu. Ingin memiliki suami lagi, tapi malu karena usianya yang tak lagi muda.

__ADS_1


__ADS_2