Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Cerita Laila dan Ridho part 1


__ADS_3

Laila dan Radit kembali ke hotel dengan wajah lesu.


“Sombong banget sih, adik Tuan Ridho yang terhormat itu,” sungut Radit mengingat kejadian di rumah besar milik orang tua ayah kandungnya itu.


Laila tidak fokus mendengar ocehan sang putra. Ia hanya asyik dengan pikirannya sendiri. Laila ingat lagi kejadian di rumah itu, saat melihat Andira pulang ke rumah itu bersama suaminya. Satu jam lebih, Laila dan Radit menunggu mantan adik iparnya pulang.


“Flashback on


Andira menatap Laila dan Radit saat berdiri menyambut kedatangan yang punya rumah. Namun, Andira justru menatap Laila dengan tatapan yang sulit di artikan. Tatapan antara kenal atau tidak kenal.


“Ada tamu. Siapa ya?” tanya suami Andira yang bernama Bagus.


Bagus memang tidak mengenal Laila, karena Andira baru menikah setelah Ridho meninggalkan istri dan anaknya.


“Dir, masih inget saya kan?” tanya Laila.


Andira terdiam. Jujur, sebenarnya ia masih mengenali wajah itu walau sudah dua puluh tahun lebih tidak bertemu.


“Aku Laila, mantan istri Mas Ridho.”


Sontak, Bagus pun terkejut. “Mas Ridho?”


Andira menoleh ke arah Bagus seolah mengisyaratkan untuk tak ikut campur.


“Buat apa kamu cari Kakakku? Bukannya kamu sudah hidup enak dengan mantan pacarmu itu?”


“Mantan pacar?” tanya Laila tidak mengerti.


“Halah, pura-pura bodoh,” ucap Andira lagi. “Aku masih ingat sekali, saat kakakku frustrasi melihat kamu berdua dengan mantan pacarmu di kamar.”


Laila semakin bingung. Ia pun menoleh ke arah Radit yang sedari tadi menatapnya. Lalu, Laila menggelengkan kepala seolah bicara pada Radit bahwa itu tidak benar.


Andira ikut menoleh ke arah Radit. “Ini anakmu? Anakmu dari siapa? Mantan pacarmu itu ya?”


“Jaga mulutmu, Dira! Aku ke sini bukan untuk mencari musuh atau bertengkar denganmu.” Laila mulai kesal dengan segala tudingan mantan adik iparnya itu.


Ia memang tidak pernah akur dengan Andira, karena selain ketus, adik kandung Ridho itu selalu mencari celah buruk Laila, seolah Laila memang tidak pantas bersanding dengan kakaknya.


“Aku ke sini mencari Mas Ridho karena Bilqis akan menikah. Aku ingin meminta tanggung jawabnya sebagai wali untuk putri kandungnya.”


Andira tertawa mendengar penuturan Laila. “Giliran butuh saja, baru ke sini.”


“Tante, bisa ga sih sopan pada Ibu saya. ibu tidak pernah memisahkan kami dari keluarga Tuan Ridho yang terhormat, tapi keluarga Tuan Ridho sendiri yang tidak pernah menerima kehadiran kami.” Ridho mulai terpancing emosi dan membela ibunya.

__ADS_1


“Dasar anak kuang ajar, manggil ayahnya sendiri aja Tuan Ridho. Dasar didikan orang kampung!” hardik Andira.


“Ma, jangan marah-marah! Jaga tensi Mama!” ujar pria di samping Andira.


“Aku tidak tahu di mana Kakakku sekarang. Dia pergi setelah kamu menyakitinya,” kata Andira lagi.


“Aku menyakiti? Bukannya terbalik? Mas Ridho yang meninggalkanku demi wanita itu.” Laila pun membela diri. “Mas Ridho tega meninggalkanku di saat aku memiliki anak-anak yang masih kecil. Bahkan Radit baru dua tahun saat itu.”


“Karena kamu yang mulai. Kamu selingkuh sama mantan pacarmu yang tukang AC itu.”


Laila mengernyitkan dahi.


“Tukang AC?” gumamnya dalam hati sembari mencerna perkataan Andira.


Adakah kesalahpahaman di sini? Kesalahpahaman yang tak kunjung selesai setelah lebih dari dua puluh tahun karena saat Ridho pergi, Laila pun tidak lagi menginjakkan kakinya ke tempat ini, atau mencari tahu tentang keberadaan suaminya.


Laila pikir, Ridho memang masih mencintai mantan kekasih sekaligus cinta pertamanya itu dan memilih bersama wanita itu, sehingga Laila pun tidak lagi menengok ke belakang dan hanya berfokus pada kedua anaknya saja yang saat itu masih sangat kecil.


“Kamu tahu. Almarhum Papa tahu, dan semua keluargamu tahu kalau Mas Ridho juga menikahi mantan kekasihnya saat aku sedang mengandung Bilqis. Hanya aku yang baru tahu setelah empat tahun berlalu. Dan kau bilang kalau aku yang selingkuh? Dasar keluarga gila!” kata Laila kesal.


Lalu, Laila langsung menarik tangan Radit. “Ayo, Dit! Kita pulang. Menyesal Ibu datang ke sini. Lebih baik kita memang langsung menggunakan wali hakim atau kamu saja yang menjadi wali kakakmu.”


“Hei, tunggu!” teriak Andira. “Enak saja, kamu mengatakan keluargaku gila.”


Laila dan Radit bangkit dan hendak pergi dari rumah itu.


Bagus yang tidak tahu apa-apa hanya menoleh ke arah istri dan kedua tamunya itu. “Ma, ada apa sih ini? Aku ga ngerti. Siapa dia?”


Andira diam dan hanya melipat kedua tangannya di dada dengan nafas tersengal mengatur emosi.


“Flashback off


Radit menoleh ke arah sang Ibu yang sedang menangis. Mereka masih berada di dalam taksi menuju hotel.


“Bu,” panggil Radit lirih pada Ibunya. Ia memang tidak tahu persis kejadian itu.


Kejadian saat sang ayah meninggalkannya, tapi Radit yakin bahwa Ibunya tidak bersalah. Ibunya hanya difitnah oleh orang-orang yang tidak menyukainya.


“Mengapa hidup Ibu seperti ini, Dit?” Laila menangis.


Radit pun memasang dadanya. Anak laki-laki yang bisa diandalkan itu, memeluk sang Ibu.


“Jadi selama ini, keluarga ayahmu mengira Ibu yang berselingkuh? Padahal mereka semua tahu bahwa ayahmu menikah lagi dengan kekasihnya. Bahkan Ibu baru tahu setelah melahirkanmu.”

__ADS_1


Laila menangis di dada Radit. Radit pun mengelus punggung sang Ibu untuk menenangkan.


“Ibu memang punya mantan pacar yang tinggal di Jakarta. Dia memang tukang service AC dan Ibu kembali bertemu dengannya saat dia membersihkan AC rumah kita, menggantikan temannya yang biasa menjadi langganan Ibu.” Laila melonggarkan pelukan dan menatap wajah putranya untuk meluruskan apa yang dikatakan Andira tadi. Laila khawatir Radit akan terdoktrin dengan perkataan buruk Andira.


“Waktu itu, kamu baru berusia delapan bulan. Mantan pacar Ibu membersihkan AC di kamar Ibu. Lalu, lampu mati, ternyata kata tetangga memang ada pemadaman sementara. Dia membuka bajunya dan Ibu ke dalam kamar untuk memberinya minuman dingin karena saat itu memang panas sekali.”


“Apa ayahmu melihat Ibu dan dia di dalam kamar dan mengira Ibu melakukan sesuatu dengannya?” tanya Laila pada Radit setelah menceritakan apa yang dituduhkan Andira tadi.


Untung saja, Radit sudah menjadi pria dewasa. Ia yakin bahwa sang putra tidak akan menelan mentah-mentah perkataan tantenya tadi.


Radit mengangguk. “Mungkin.”


“Karena setelah itu, ayahmu tidak pulang. Dua minggu ayahmu meninggal kita dan kembali hanya untuk mengambil barang-barangnya. Lalu, pergi sampai saat ini.” Laila kembali menangis.


“Ibu tidak tahu, Dit. Andai Ibu tahu kalau ayahmu marah karena kejadian itu. Ibu pasti akan menjelaskan padanya kalau apa yang dia lihat itu tidak benar.”


Radit mengangguk. “Ya, memang. Terkadang apa yang kita lihat tidak sepenuhnya itu yang terjadi.”


Radit mengingat tentang seorang wanita. wanita yang ia sukai di masa SMA. Apa yang Ridho dan Lail alami di masa itu, juga pernah Radit dan wanita yang baru satu minggu dijadikan pacarnya itu alami. Radit pernah diposisi Ridho, menangkap basah sang pacar dengan mantan pacarnya, lalu Radit langsung meminta putus. Belakang, Radit bertemu dengan wanita itu dan mengetahui duduk perkaranya. Namun, semua sudah terjadi. Mantan pacarnya semasa SMA itu pun sekarang sudah menikah.


“Sekarang, dimana orang itu, Bu?” tanya Radit, setelah mereka sampai di hotel dan hendak menaiki lift.


“Siapa?” Laila balik bertanya.


“Tukang AC itu?”


Laila mengangkat bahunya. “Mana ibu tahu. Komunikasi kami hanya saat dia membersihkan AC di hari itu dan itu hanya satu kali. Ibu juga tidak tahu dia sekarang dimana karena Ibu tidak pernah berpikir tentang dia.”


Radit tersenyum. Ya, semua hanya karena kesalah pahaman. Namun kesalah pahaman itu semakin menjadi karena banyak orang disekekeliling sang ayah yang tidak menyukai ibunya, ditambah sang ayah pun memang bukan hanya memiliki Laila sebagai istri.


Tring


Pintu lift terbuka. Radit menyuruh sang Ibu untuk keluar lebih dulu dan ia menyusul. Kemudian, Radit merangul bahu sang Ibu.


“Yang penting sekarang Ibu bahagia kan? Ada aku sama kak Qis yang akan selalu membahagiakan Ibu.”


Laila terharu dan memeluk memeluk pinggang putranya. Ia mengangguk. “Ya, Ibu bahagia. apalagi kakakmu akan menikah.”


“Kalau begitu, besok kita langsung pulang. Tidak perlu lagi mencari Tuan Ridho yang terhomat karena keluarganya sendiri menutupi keberadaannya. Biar Radit yang menjadi wali Mbak Qis.”


Laila tersenyum. “Benar, kamu mau?”


Radit mengangguk. “Ya, walau pun berat dengan tanggung jawab itu. Mau bagaimana lagi? Berarti mulai sekarang Sholat Radit ga boleh bolong nih?”

__ADS_1


“Mau kamu jadi wali atau tidak. Sholat kamu memang tidak boleh bolong, Radit.” Laila tampak kesal.


Radit pun nyengir saat sang ibu memukul pelan bahunya.


__ADS_2