
“Terima kasih, Mas.” Bilqis melingkarkan tangannya ke lengan Alex.
Alex bak pangeran yang datang dengan kuda putih dan membela cinderella yang sedang dijahati oleh saudara dan ibu tirinya.
Tidak berlangsung lama, Sharen dan ibunya pun pergi karena Alex meninggalkan kedua orang itu dengan tatapan dingin seraya berkata, “Jangan ganggu istriku!”
Aura menyeramkan itu mampu membulat mulut Sharen dan ibunya bungkam seketika.
“Untuk apa berterima kasih?” tanya Alex tersenyum.
Alex menggendong Aurel dengan satu tangannya yang gandeng oleh Bilqis.
“Untuk tadi. Kamu datang di saat yang tepat,” jawab Bilqis.
“Tidak perlu berterima kasih karena sudah seharusnya aku melakukan itu. itu adalah salah satu kewajiban seorang suami, melindungi.”
Bilqis tersenyum menatap pria itu. Ia kembali jatuh cinta. Sepertinya, semakin mengenal Alex, maka ia akan semakin dalam mencintai pria itu.
“Daddy, aku mau itu.” Aurel menunjuk kue kesukaannya.
Alex pun menurunkan Aurel dari gendongannya dan membiarkan sang putri berlari ke arah kue yang anak itu inginkan.
“Aurel lucu sekali,” ucap Bilqis berdiri melihat tingkah lucu putri Alex.
“Dia juga akan memiliki adik yang lucu dan tampan,” sahut Alex dengan tatapan lurus ke depan ke arah Aurel sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
Bilqis pun menoleh. “Aku belum hamil.”
Alex ikut menoleh ke arah istrinya. “Coming soon, Sayang. kita kan sudah berusaha setiap malam, bahkan sepanjang hari.”
Bugh
Bilqis memukul lengan itu dan pergi meninggalkan Alex untuk mendekati putri sambungnya. Di tempat Alex berdiri, pria itu tersenyum sembari menatap kebersamaan istri dan anaknya di sana.
****
Waktu terus berjalan, Bilqis sudah memerankan perannya menjadi istri dan seorang Ibu selama satu minggu ini. Ia pun mencoba menjalankan peran ini dengan baik karena peran yang ia jalankan bersinergi dengan hatinya, sehingga apa pun yang ia lakukan untuk Alex dan Aurel akan dilakukan dengan senang hati.
__ADS_1
“Sayang, mana bajuku?” tanya Alex dengan nada yang sedikit berteriak.
Alex berdiri di depan pintu kamar, hanya dengan lilitan handuk di pinggangnya. Dada bidang dan polos itu pun terlihat jelas. Dan saat ini, Bilqis sedang berada di kamar Aurel. Ia sedang menata rambut panjang dan bergelombang Aurel untuk dikuncir dua.
Hari ini adalah hari wisuda Radit. Bilqis berjanji akan datang di acara itu, mengingat ia dan sang ibu juga sudah jauh – jauh hari membuat kebaya couple untuk menyambut hari kebahagiaan sang adik yang akhirnya mampu merampungkan pendidikan S-1 nya.
Aurel juga mengenakan dres berwarna peach. Ia sengaja mencari gaun yang sewarna dengan kebayanya dan sang Ibu untuk Aurel. Bilqis juga memilihkan jas untuk suaminya dengan warna senada. Keluarga itu pun terlihat sangat kompak karena menggunakan warna pakaian yang sama.
“Di atas tempat tidur, Mas. Aku menaruh pakaianmu di tempat seperti biasa.” Bilqis juga menjawab dengan suara yang agak keras agar Alex mendengar.
Alex menghampiri kamar itu dan berdiri di depan pintu kamar Aurel. “Di mana, Sayang? Di atas tempat tidur tidak ada.”
Maya yang duduk di tepi tempat tidur anak majikannya itu pun tersipu malu saat tidak sengaja menoleh ke arah pintu dan mendapati Alex tengah berdiri diluarnya.
Bilqis melirik Maya yang tengah bersikap aneh dan menoleh ke arah pintu. “Ya, ampun Mas.”
Wanita itu berlari menghampiri sang suami dan mendorong Alex untuk kembali ke kamar. “Kamu ga malu apa sama Maya?”
“Kenapa?” tanya Alex cuek.
“Pakai tanya kenapa? Dada mu kelihatan.” Bilqis langsung mencubit dada suaminya.
“Biarin.”
Di dalam kamar Aurel. Anak kecil dan pengasuhnya itu pun tertawa. Mereka tertawa melihat tingkah laku pasanga suami istri itu.
“Ini apa sih, Mas. Ya ampun.” Bilqis mendengus kesal saat ia melihat pakaian yang disiapkannya itu teronggok di sofa.
“Tadi katamu diletakkan di atas tempat tidur. Jadi aku bilang tidak ada karena memang tidak ada di sana.” Alex menunjuk ranjang mereka.
“Iya, kalau tidak ada di sana, berari di sini. Biasanya aku kan meletakkan pakaianmu di kedua tempat ini.”
“Ya, mana kutangku. Eh salah, mana ku tahu kamu meletakkannya di sini.”
Bilqis mencibir karena Alex mengatakan kata yang pernah ia ucapkan. “Au ah. Ga lucu.”
Alex pun tertawa melihat istrinya yang kembali hendak pergi untuk melihat Aurel di kamarnya. Sontak, Alex langsung menangkap tubuh yang sudah berbaut rapi dengan kebaya dan riasan natural yang terlihat sangat cantik.
__ADS_1
“Mas, pakai bajumu.”
“Nanti, sekarang aku ingin menciummu.”
“Mas, aku sudah dandan rapi. Nanti rusak. Lipstikku pasti akan berantakan,” jawab Bilqis sembari menatap wajah suaminya yang dekat tanpa jarak karena tubuhnya sedang dalam pelukan berdada polos itu.
“Tidak akan. Hanya ditempelkan sekilas.”
Bilqis pun menyerah. Ia memajukan wajahnya dan mengecup bibir Alex.
Cup
Bilqis menarik lagi wajahnya. “Udah kan.”
“Ah, itu sih bukan ciuman.” Kini, Alex yang memajukan wajahnya untuk memimnta ciuman lebih.
Sontak, Bilqis langsung mendorong dada suaminya dengan keras hingga tubuh Alex pun terjatuh duduk di atas tempat tidur.
Bilqis tertawa dan segera berlari keluar. Alex yang masih terduduk di sana pun ikut tertawa. “Awas ya, nanti malam ga akan aku lepasin.”
Bilqis pun menjulurkan lidahnya ke arah pria itu. “Siapa kentut. Eh siapa takut.”
Alex kembali tertawa dan menggelengkan kepalanya. Usai berpakain rapi, Alex keluar dari kamar dan mendapati sang istri sudah tidak ada di kamar putrinya. Ia melongok dari pagar lantai dua yang terhubung dengan aktifitas di lantai satu dan melihat Bilqis tengah menyiapkan sarapan untuk Aurel.
Aurel tampak cantik dan ceria duduk di sana. Bilqis juga menyiapkan sarapan untuk Alex. Pagi ini, mereka akan menjemput Radit dan Laila terlebih dahulu, lalu bersama – sama menuju Aula yang ditunjuk oleh kampus Radit untuk menyelenggarakan acara khidmat itu.
Alex pun hendak bergabung ke lantai satu dan duduk bersama anak istrinya di meja makan. Namun saat hendak menuruni tangga. Arah matanya tertuju pada kamar rahasia. Hampir satu minggu, ia tidak mengunjungi kamar itu. Kaki Alex pun beralih menuju kamar yang dipenuhi dengan sejuta kenanagan bersama sang mantan yang kini sudah memiliki alam berbeda.
Ceklek
Alex memasuki kamar itu dan menutupnya sempurna, lalu menguncinya. Ia berencana akan sebentar berada di kamar ini.
“Hai, Sayang.” Alex menatap foto Tasya. “Ternyata aku menikahi adikmu.”
Alex tersenyum. Ia memang sudah mendapati bukti konkrit tentang Tasya dan Bilqis yang ternyata kembar. Tasya lahir beberapa menit sebelum Bilqis.
Alex sudah menemui rumah sakit tempat Tasya dan Bilqis dilahirkan. Saat itu, Alex hanya bertemu dengan Ben, teman sejawat Ridho yang sekarang sudah menjadi kepala rumah sakit di tempat itu. Sementara Vinny, dokter Obgyn yang membantu kelahiran Tasya dan Bilqis tidak bisa Alex temukan, karena saat ini dokter itu sudah tinggal di Jerman bersama suaminya. padahal Alex sangat ingin bertemu dengan Vinny, dokter yang membantu Ridho untuk tidak memberitahu Laila yang mengandung anak kembar setiap kali pemeriksaan dilakukan.
__ADS_1
Alex keluar dari kamar itu. ia menutup lagi pintu itu dengan sempurna dan menguncinya.
“Mas,” panggil Bilqis dari belakang, membuat Alex terkejut dan menoleh.