
Radit memiih memakai headset untuk menyumbat kedua telinganya agar tidak endengar suara – suara dari balik kamar sang ibu dan sang kakak.
Kebetulan, Radit berada di ruang televisi yang ruangannya berada di tengah kedua kamar dengan suara – suara lirih terdengar berisik. Malam ini, ia terpaksa tidur di sofa ruang televisi karena kamarnya di sabotase oleh keponakan dan pengasuhnya itu. Demi sebuah motor sport yang ditawarkan Alex.
“Coba lagi, Mas. Tapi pelan – pelan.”
Di dalam kamar pengantin baru dengan usia yang tak lagi muda, sesuatu pun terjadi. Sudah lebih dari dua puluh menit, Darwis tak kunjung menerobos pertahanan itu.
“Ini sangat sempit.”
Darwis seperti akan menerobos pertahanan seorang gadis. Aset berharga yang tak pernah digunakan puluhan tahun itu membuat Laila menjadi seperti gadis lagi. Apalagi di saat dua kali melahirkan, keduanya lahir dalam proses caesar. Baik Bilqis dan kembarannya juga Radit, lahir tidak dalam pintu semestinya.
“Lailaku, kau seperti gadis saja. Ini benar – benar sempit.”
Laila tersipu malu, karena Darwis selalu memujinya. Walau fakta itu memang benar. Ditambah rudal singapur milik Darwis yang lebih menjulang dibanding sebelumnya, membuat mereka benar – benar harus ekstra malam ini.
“Lakukan saja, Mas.”
“Kalau dipaksa, pasti akan sakit, Laila sayang.”
“Tidak apa. Ayo lakukan!”
“Aaaa …”
“Mmmpphh …”
Mulut Laila yang menjerit, langsung Darwis bungkam dengan mulutnya. Di luar kamar, Radit berusaha untuk fokus dengan film yang ia tonton. Walau pikirannya melanglang buana ke mana – mana. Mata Radit menonton televisi, tapi telinganya mendengar music dari headset itu. dan suara jeritan Laila tadi, masih terdengar samar walau Radit sudah menutup telinganya dengan benda itu.
Radit menekan kedua telinga yang sudah ditempelkan benda. “Ibu, jangan menjerit!” ucapnya kesal.
Dua kamar yang diisi oleh pasangan suami istri yang sedang memadu kasih melaksanakan kewajibannya itu pun mendengar teriakan Radit dari kamar mereka masing – masing.
“Radit mendengar jeritanku, Mas?” tanya Laila pada suaminya yang masih berada di atasnya.
Darwis menjawab dengan anggukan. Sontak, Laila pun menutup mulutnya.
“Maaf, Mas,” ucapnya dengan wajah menggemaskan.
Darwis pun tersenyum dan kembali melanjutkan aktifitas itu. Apalagi kini ia sudah berhasil menerobos pertahanan yang sulit tadi.
“Oh, Lailaku. Kau sungguh nikmat,” bisik Darwis tepat di telinga Laila dengan gerakan memabukkan.
Laila kembali merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan. Lama sekali hingga ia pun lupa dengan rasa itu. Dan, malam ini Darwis kembali mengembalikan ingatan rasa itu pada Laila. Bahkan membuatnya lebih.
Lima belas menit berlalu, Laila kian menerima sesuatu yang ada dalam diri Darwis pada tubuhnya. Gerakan pria yang tak lagi muda, tapi tetap bugar itu terasa menggila. Darwis seperti seorang pemuda yang liar.
__ADS_1
“Mas pelan – pelan.”
“Tidak bisa, Sayang. Ini terlalu … Ah.”
Di kamar yang letaknya berseberangan dengan kamar pengantin pun sedang melakukan hal yang sama. Bilqis menutup mulutnya karena khwatir sang adik akan mendengar jeritannya dan berteriak seperti tadi.
Alex yang sedang memimpin itu pun tersenyum melihat ekspresi sang istri. Bilqis hanya terlihat matanya saja yang tampak sayu dengan mulut yang ia bekap sendiri.
“Jangan ditutup!” alex menarik lengan Bilqis yang menutup mulutnya sendiri.
“Aku takut radit mendengar teriakanku.”
Padahal yang Radit dengar tadi bukan teriakan Bilqis, melainkan ibunya.
“Kalau begitu akan aku tutup dengan mulutku.”
Cup
Alex langsung membungkam mulut Bilqis dengan mulutnya. Ia pun memagut bibir itu dengan ganas sembari gerakan absurd pada bagian bawah tubuh mereka yang menyatu.
Alex bagai kuda liar yang memacu betinanya tanpa henti. Untung saja lawan Alex kali ini juga cukup tangguh dan bertenaga, sehingga mampu mengimbangi kemampuan Alex dalam bercinta. Jiwa muda Alex yang dulu pun kembali membara. Kegilaannya dulu yang sempat tidak terlalu tersalurkan karena menerima cara bercinta mendiang sang istri yang datar dan biasa saja, kini bangkit.
Sementara di kamar Laila, Darwis mulai menunjukkan detik – detik berakhirnya kegiatan itu.
“Laila …”
Darwis terus menyebut nama wanita yang sudah melahirkan dua kali itu. Ia menggila menikmati sesuatu yang Laila miliki.
“Mas.”
“Laila ku … aku sudah … Ah.”
Akhirnya, Darwis pun tumbang. Ia tidak mampu lagi menahan gelembong yang hendak meledak itu. Darwis tumbang di atas dada Laila.
Laila pun memeluk kepala itu dengan penuh kasih sayang. Ia sampai lupa jika dahulu ia pernah mencintai pria lain, karena bersama Darwis ia seperti hanya baru mencintai satu laki – laki.
Setelah di rasa semua meledak, Darwis sedikit bangkit dari tubuh itu. Ia menatap Laila dengan penuh cinta, tatapan itu pun sampai ke hati Laila.
“Terima kasih,” ucapnya tersenyum.
Laila membalas senyum itu. “Sama – sama. Aku senang melakukannya untukmu.”
“Apa kamu merawat semua ini untukku?” tanya Darwis mengingat semua yang Laila miliki terbilang indah di usianya.
Laila mengangguk. “Ya.”
__ADS_1
“Aku cinta kamu, Lailaku.” Darwis mengakhiri aktifitas itu dengan mengecup kening Laila.
“Aku juga mencintaimu, Darwis ku.”
Laila kembali merasakan sebuah cinta setelah puluhan tahun ia menutup hati itu rapat – rapat. Darwis bukan pria pertama yang menyukainya paska ditinggal Ridho. Saat Bilqis dan Radit masih kecil dan ia masih menjadi buruh pabrik untuk menghidupi kedua anaknya. Laila bisa disebut menjadi primadona. Ia disebut janda kembang di pabrik itu dan tidak sedikit pria yang mendekatinya. Namun, pengalaman membuatnya mati rasa dan tidak lagi bergairah dengan lawan jenis, hingga di waktu dua puluh tahun mendatang Darwis hadir dan mengisi lagi kekosongan itu.
Darwis menggulirkan tubuhnya di samping Laila. “Ah.”
Tiba – tiba Darwis meringis saat bagian belakang tubuhnya menyentuh ranjang empuk yang baru dibelikan Darwis sebagai seserahan.
“Kenapa, Mas?” tanya Laila panik da sedikit bangkit untuk mendekati suaminya yang merintih.
“Pinggangku sakit,” ucap Darwis mengeluh sembari memegang pinggangnya.
Seketika, Laila tertawa renyah dan Darwis pun senang melihat tawa itu.
“Boro – boro dua kali, kalau begitu,” ledek Laila dengan masih tertawa.
“Meledek?”
“Jangan melawan takdir, Mas! Kita memang sudah tua.”
Darwis menggeleng. “Tapi aku ingin lagi.”
“Jangan! Dari pada nanti pinggangmu tambah sakit.”
“Hah!” Darwis menarik nafasnya lemah dan Laila pun kembali tertawa.
Di seberag kamar Laila, Alex baru akan berhenti. Sudah tak terhitung berapa kali, ia membuat sang istri lemas. Walau Bilqis tetap kembali bersemangat setelah ia beri rangsangan lagi.
“Sudah, Mas.”
“Iya sayang. sebentar lagi.” Sedari tadi Alex mengatakan sebentar, tapi tak kunjung berakhir.
“Arrrgg …”
Akhirnya, sebentar yang Alex ucapkan itu pun terwujud. Pria yang dikenal killer dan dingin itu tumbang di atas tubuh Bilqis. Alex takluk pada pesona sang sekretaris yang awalnya justru ingin menaklukkannya demi sebuah taruhan.
“Mas, aku ingin ke labuan bajo.” Tiba - tiba Bilqis mengingatkan lagi sebuah tempat yang selalu ia impikan untuk dikunjungi.
Alex tersenyum dengan menatap sang istri dalam posisi yang masih menyatu. “Tentu saja, aku akan membawamu ke sana, bersama orang – orang kantor untuk merayakan ulang tahun perusahaan sekaligus memberitahu pada mereka bahwa kamu istriku.”
Deg
Sontak Bilqis melongo. Sudah siap kah ia menghadapi teman – temannya di kantor dengan status ini? Ia takut di sebut sekretaris penggoda, seperti predikat yang tersemat pada Tina dan Saskia yang memiliki skandal dengan bosnya. Dan ia pun merasakan itu sekarang.
__ADS_1