
Setelah melihat pergerakan sang istri dari GPS, Alex langsung menelepon seseorang.
Tut … Tut … Tut …
“Halo.”
“Jhon, kau di apartemen Tina?” tanya Alex to the point dan tanpa basa basi.
“Ya. Kenapa? Hari ini hari libur, Lex. Jangan bicara tentang pekerjaan! Aku ingin refresh dengan Tina.”
Jhon mengira bahwa sahabat sekaligus rekan kerjanya ini menelepon dalam rangka pekerjaan. Padahal Alex justru meminta lebih dari itu.
“Pulang lah! Untuk weekend ini, kau libur dulu.”
“Kenapa?” tanya Jhon bingung.
“Karena Bilqis sedang menuju apartemen Tina. Mungkin dia akan menginap satu malam di sana.”
“What?” tanya Jhon. “Kau bertengkar dengan istrimu?”
“Sedikit. Seperti yang kau tahu dari Zavier. Ternyata tebakan kalian benar. Bilqis dan Tasya saudara kembar. Aku menikahi kakak beradik itu dan sekarang Bilqis membutuhkan waktu untuk sendiri.”
“Oh, ya Tuhan.” Jhon mengusap dahinya.
“Ada apa?” terdengar suara wanita yang bisa dipastikan Tina dari balik ponsel milik Jhon.
“Jhon,” panggil Alex.
“Kau brifieng Tina. Jelaskan padanya agar nanti saat menemani istriku, dia membagus-baguskan namaku. Oke!”
“Hahaha …” Jhon tertawa. “Kau memang selalu dominan, Lex.”
“Ya, kau tahu aku,” jawab Alex tersenyum kecil. “Kalau begitu, cepat keluar dari apartemen. Istriku akan segera sampai. Aku lebih tenang kalau dia ke sana.”
“Ya, tapi aku tidak tenang karena masa jatahku dipangkas karena urusanmu.”
Kini, Alex yang tertawa.
“Makanya cepat nikahi Tina, supaya kau dapat menggunakannya setiap malam.”
“Si*l, kau. Lex” Jhon mengumpat karena Alex memang sering menggodanya.
Jhon memang berencana akan menikahi Tina. Bahkan dia sudah resmi melamar wanita itu.
“Cepat pulang!’
“Iya, bawel. Banyak bicara.” Jhon masih kesal.
Namun, Alex justru malah tertawa. Dan tak lama kemudian, memutuskan sambungan telepon itu. ia sudah memastikan Bilqis tetap aman dan dalam pantauannya. Ia juga memastikan cctv kecil yang ditempelkan di kerah hodienya itu tetap menempel.
“Sekali masuk dalam hidupku, tidak akan pernah bisa keluar. Maaf Sayang, karena kamu sudah masuk dalam hidupku, jadi kau tidak sebebas dulu.” Alex bergumam dengan senyum kecil sembari membayangkan wajah Bilqis yang cemberut. Rasanya menggemaskan dan sepertinya, ia tidak akan bisa tidur nanti malam.
“Qis, kau yakin diturunkan di sini?” tanya Rendi saat baru saja memberhentikan mobilnya di lobby sebuah apartemen mewah.
“Ya. Aku ingin menemui temanku di sini.”
“Teman?” tanya Rendi mengernyitkan dahi.
“Ya, teman. Kau mikir apa? Pastinya teman wanita.”
__ADS_1
Rendi nyengir. “Ya, aku tahu. Dari dulu kamu memang hanya memiliki teman wanita kan.”
Bilqis melihat Rendi yang justru memarkirkan mobilnya di dekat lobby, padahal Bilqis pikir, pria itu akan langsung pergi setelah menurunkannya di depan lobby.
“loh ngapain?” tanya Bilqis melihat Rendi yang masih mengekori.
“Hanya memastikan kalau kamu sampai ke tempat temanmu dengan aman. Aku tidak ingin keluargaku punah,” jawab Rendi asal, membuat Bilqis menggelengkan kepala.
“Bilqis,” teriak Tina yang masih berada di lobby setelah mengantar Jhon pulang. Ia sengaja berada di sini untuk menunggu kedatangan Bilqis.
“Tina.” Bilqis tersenyum dan berlari menghampiri sahabatnya itu.
Bilqis dan Tina berpelukan.
“Kau di sini?” tanya Bilqis yang kebetulan bertemu Tina di lobby.
“Ya, tadi aku menemani Jhon pulang,” jawab Tina.
“Ah ya. Aku sampai lupa. Memang biasanya Jhon menginap di apartemenmu kalau weekend. Ah, seharusnya aku tidak ke sini.”
“Hei.” Tina langsung menahan lengan Bilqis. “Jhon ada urusan, makanya tadi dia ke sini cuma memberi kabar dan pergi lagi.”
“Jadi, aku tidak mengganggumu dan Jhon?” tanya Bilqis tidak enak.
“Tidak.” Tina menggeleng. Tina menjawab karena murni sebagai sahabat sekaligus karyawan yang dalam tekanan bosnya.
“Terima kasih.” Bilqis kembali memeluk Tina. Lalu arah matanya tertuju pada pria di belakang Bilqis. “Siapa dia?”
Bilqis menoleh ke belakang. “Oh, ini temanku. Namanya Rendi. Dia bekerja di perusahaan Mister Ammar.”
“Kau pergi bersamanya? Apa Alex tidak marah?”
Bilqis, Tina, Sazkiya, dan Mira memang memanggil bos mereka dengan sebutan nama saja jika diluar kantor. Malah terkadang menyebut mereka dengan julukannya masing – masing.
Kemudian, Bilqis menoleh ke arah Rendi. “Terima kasih sudah mengantarku, Ren. Aku akan mentransfermu untuk ini.”
“Santai saja, Qis. Tidak perlu dibayar. Untukmu gratis. Yang penting itu.”
“Apa?” tanya Bilqis.
“Aku ingin kenalan dengan temanmu,” jawab Rendi tak malu – malu. Tina pun mengernyitkan dahinya.
“Loh, bukannya tadi aku sudah mengenalkanmu pada temanku?”
“Tapi aku belum berjabat tangan.”
Sontak, Tina tertawa. “Pengen banget jabat tangan sama aku? Oke!”
Wanita itu mengulurkan tangannya ke arah Rendi.
“Ren, temanku sudah punya pacar. Bahkan sudah tunangan. Jadi jangan macam – macam!” ucap Bilqis saat melihat Rendi menyambut tangan Tina dengan suka cita.
“Benarkah?” tanya Rendi terkejut sembari memasang keterkejutan itu ke arah Tina.
Tina mengangguk.
“Ya salam. Jomblo lagi deh.” Rendi menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Sementara Bilqis dan Tina hanya tertawa, lalu meninggalkan pria itu sendiri di lobby.
“Temanmu lucu sekali,” ujar Tina di sela langkahnya menuju lobby bersama Bilqis.
__ADS_1
“Ya, memang seperti itu.” Bilqis mengangguk.
“Tapi ganteng juga sih,” ucap Tina lagi dengan menoleh ke belakang dan tersenyum pada Rendi yang masih mematung melihat ke arah mereka.
“Dasar!” Bilqis mendorong pelan pipi Tina. “Udah punya Jhon, masih aja bilang cowok lain ganteng. Bisa ngamuk si Jhon nanti.”
Tina tertawa. Terkadang ia pun ragu dengan Jhon, karena masih ada masa lalu yang belum selesai antara tunangannya itu dengan mantan pacarnya di sana. Tapi, Tina tidak mau ambil pusing.
Tring
Lift menuju lantai apartemen Tina pun berhenti. Mereka keluar dari lift dan berjalan lagi menuju unit itu.
“Mau minum apa, Qis?” tanya Tina yang langsung menuju dapur setelah pintu apartemennya terbuka.
Bilqis mengikuti langkah sang empunya rumah. “Apa aja yang penting dingin, karena hatiku lagi panas.”
“Panas kenapa?” tanya Tina dengan melirik sedikit ke arah Bilqis, lalu melanjutkan kembali membuat minuman dingin.
Bilqis duduk di kursi mini bar. Arah matanya tepat tertuju pada Tina yang berdiri di depan kitchen set minimalis berwarna putih itu.
“Aku dan mendiang ibu Aurel ternyata bersaudara.”
“Apa?” tanya Tina terkejut. Pasalnya, Jhon tidak menceritakan detail tentang masalah Bilqis dan Alex.
Pria itu hanya bercerita pada kekasihnya bahwa mereka sedang bermasalah dan Bilqis hendak menenangkan diri di sini. Jhon mengalah dan beralih pulang. Padahal pria itu pun belum lama tiba.
Tina meletakkan minuman dingin itu di depan Bilqis dan iku duduk di depannya. Ia mendenagr semua cerita Bilqis dari A sampai Z.
Tina berpangku tangan, karena serius mendengarkan cerita itu, termasuk cerita masa lalu ayah dan ibunya. Tina ikut sedih melihat Bilqis yang tampak sedih. Bahkan Tina berpindah tempat duduk dengan duduk di samping Bilqis dan memeluk sahabatnya itu untuk memberi ketenangan.
Tangis Bilqis pun pecah. Rasanya, ia memang butuh tempat bercerita dan meluapkan emosi.
“Kau kuat, Qis. Kau kuat. Aku tahu itu. Tuhan tidak akan memberikan ujian diluar dari kemampuannya. Dan kamu diberikan jalan hidup seperti ini, karena kamu mampu.”
“Ya, padahal aku merasa juga tidak mampu. Tapi aku buat untuk mampu.” Bilqis kembali menangis, membuat Tina ikut menangis.
“Siapa yang membuatmu kecewa? Ayahmu atau suamimu?” tanya Tina.
Bilqis menggeleng. “Tidak ada alasan untuk membenci keduanya,” jawab Bilqis mengingat ternyata sang ayah pergi karena sedang mengalami amnesia, sementara Alex juga sebelumnya tidak tahu bahwa ia dan Tasya adalah saudara kembar. Walau awal ketertarikan Alex padanya bermula dari kemiripan itu, tapi yang penting saat ini pria itu mencintainya dengan tulus dan Bilqis dapat merasakan ketulusan itu.
“Aku justru benci pada diriku sendiri,” ucap Bilqis pada Tina. “Hatiku terlalu diliputi kebencian hingga tidak pernah bisa melihat kebaikan orang.”
Tina mengangguk. “Kita memang harus bisa melepaskan kebencian. Meninggalkan kenangan yang menyesakkan itu tanpa menolehnya lagi atau pun kembali dan tetap berada di sana. Karena hal itu akan membuat kita terus dalam mimpi buruk. Lepaskan dan tinggalkan, Qis! Itu kuncinya.”
Bilqis mengangguk. “Ya, kamu benar.”
Bilqis menatap Tina dengan senyum yang lebar. Walau mungkin sebagian orang menghujat Tina dan menganggap wanita itu rendah dengan segala masa lalu dan kebiasaan buruknya dulu. Tapi terkadang apa yang dikatakannya benar.
****
Malam ini, Alex terpaksa harus tidur sendiri. Setelah menemani sang buah hati hingga matanya terpejam dan memberi sejuta alasan padanya karena ketidakpulangan Bilqis, akhirnya Alex kembali ke kamar. Rasanya hari ini begitu melelahkan. Lebih melelahkan dari hari – harinya kemarin.
Di dalam kamar, Alex merebahkan tubuhnya. Ia memegang ponsel dan melihat galeri fotonya bersama Bilqis. Lalu, ia juga melihat fotonya bersama sang mendiang istri yang masih berada dalam ponsel itu.
Alex langsung beranjak dari ranjangnya. Menuju sebuah kamar. Ia berdiri di depan kamar itu dan membukanya. Kamar rahasia yang membuat Bilqis murka.
Alex memasuki kamar itu dan melihat sekeliling penjuru. Ia menarik nafasnya kasar. Ia mencoba memposisikan dirinya sebagai Bilqis. Mungkin ia juga akan murka jika Bilqis memiliki seorang mantan suami dan mendirikan sebuah kamar untuk mantan suaminya seperti ini.
“Sayang, Maaf. Sepertinhya aku harus mengubur kenangan kita, demi menjaga perasaan adikmu,” gumam Alex saat menatap foto Tasya.
__ADS_1
“Kamu akan tetap ada di hatiku. Dan, semoga kelak kita bertemu lagi di syurgaNya. Aku beruntung memiliki kalian. Dua istri yang baik dan cantik walau tidak dalam satu waktu.” Alex tersenyum dan mulai mengambil foto – foto Tasya dari dindng.
Alex tidak akan membuang kenangan itu, hanya saja ia tidak akan membuat kamar khusus ini sebagai bukti bahwa dirinya benar- benar mencintai Bilqis bukan karena kemiripan semata, tapi memang murni karena ia terpesona pada wanita bar bar yang selalu membuatnya tersenyum dan mengembalikan hidupnya yang semula monoton menjadi penuh warna.