Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Jadi TKI


__ADS_3

Dret … Drett … Dret …


Ponsel Laila berdering.


Laila yang sedang mencoba kebaya hasil jahitan di tetangganya itu pun menoleh. Ia melirik ke arah ponselnya.


“Ibu, teleponnya diangkat tuh, dari tadi bunyi terus,” ucap Radit yang melewati kamar sang ibu dan berdiri di depan pintu yang terbuka.


“Biarin aja.”


“Kok biarin? Siapa tahu penting.” Radit memasuki kamar dan mendekati benda pintar milik sang ibu yang tergeletak di atas tempat tidur.


Radit melihat nama di layar ponsel itu. Di sana tertera nama Darwis.


“Ciye, dari Om darwis nih bu,” katanya meledek.


“Biarin aja. Udah diemin. Ga usah diangkat nanti juga mati sendiri,” ucap Laila agar sang putra mengabaikan panggilan telepon yang saat ini masih berdering itu.


Radit pun tertawa. “Ibu udah kaya anak abege aja sih.”


“Lagian kamu sih, ngasih – ngasih nomor thape ibu ke dia, waktu di rumah Nak Alex kemarin. Dia tuh jadi sering WA ibu, terus sering telepon juga.”


Radit kembali tergelak. “Bagus dong, namanya juga lagi PDKT.”


“Apa itu PDKT?” tanya Laila seirus.


“Pendekatan, Ibu. Om Darwis itu lagi pendekatan sama Ibu, karena dia suka sama Ibu.”


“Masa sih?” tanya Laila dengan nada antara memang benar tidak percaya atau justru terbang karena senang.


“Beneran. Kalau cowok lagi suka sama cewek itu ya kaya gitu,” jawab Radit.


“Jadi kamu juga pernah kaya gitu?” Laila balik bertanya.


“Ya, pernah lah. Radit kan juga udah gede. Pasti pernah suka sama cewek. Dan ya, kaya gitu pengennya sms in, neleponin. Pokoknya pengen tahu kesehariannya aja.”

__ADS_1


Laila menarik nafasnya kasar dan duduk di samping sang putra sembari memegang kebaya berwarna peach itu. kebaya yang bahannya dipilihkan oleh Bilqis untuk menghadiri acara wisuda Radit pada hari sabtu nanti. Bilqis juga akan mengenakan bahan dan warna yang sama dengan sang ibu agar terlihat kompak.


“Itu dia masalahnya. Ibu tidak ingin menanggapi. Kalau ditanggapi, nanti dia semakin menjadi. Dan ibu bingung kalau ternyaa dia menyataka sesuatu ke Ibu,” kata Laila lirih.


“Emangnya kenapa? Ibu masih cinta sama Tuan Ridho yang terhormat? Ya ampun, Bu. Ngapain sih? Dia itu orang yang tidak bertanggung jawab. Dia aja ga mikirin Ibu apalagi masih cinta sama ibu. Terus di sini ibu masih mikirin dia gitu?” Tiba – tiba Radit emosi.


“Loh kok kamu emosi sih, Dit. Lagian Ayahmu tidak sejelek itu. Dia hanya salah paham pada Ibu.”


“Ya, dia salah paham ga jelas. Lagian Ibu juga ga selingkuh kan sama tukang AC itu. toh ibu juga ga komunikasi lagi sama tukang AC itu sampai sekarang. Malah radit juga ga tahu tukang AC, mantan pacar Ibu itu yang mana?”


Radit tidak suka jika sang ibu tidak mau membahagiakan dirinya. Menurut Bilqis, orang yang susa move on adalah orang bodoh. Padahal ia pun demikina. Buktinya hingga saat ini, Radit masih belum memiliki pacar lagi setelah mantan pacarnya menikah.


“Ibu ga mikirin ayahmu kok. Ibu juga udah ga cinta sama ayahmu. Buktinya ibu ngumpulin uang waktu itu demi membereskan surat surat cerai kami,” sanggah Laila.


“Terus?” Radit bertanya pada sang Ibu. “Bu, Setelah lulus nanti. Radit pasti akan bekerja dan entah kerja di mana, bisa diluar kota atau mungkin diluar negeri.”


“Loh, kan Ibu bilang, jangan pernah keluar dari kota ini, Dit. Jangan ambil perusahaan yang diluar kota apalagi luar negeri.”


“Ibu, Radit anak laki – laki. Langkah Radit harus lebar dan setelah mendapat ijazah, Radit memang berniat untuk bekerja di luar, entah luar kota atau luar negeri.”


“Kamu jahat, Dit. Kamu mau ninggalin Ibu?”


Tapi kalau Ibu menahan Radit di sini, itu artinya Ibu tidak ingin melihat radit sukses. Ibu pengen kan liat Radit sukses.”


Seketika, airmata Laila menetes. Rasanya, belum lama ia menimang Radit, kini pria itu sudah dewasa. Sewaktu melepas Bilqis, ia juga merasa seperti baru kemarin mengajarkan anak itu huruf R. Kini, satu persatu anaknya pun pergi, pergi untuk mencari kebahagiaan dan cita – citanya masing – masing.


“Radit juga ga bisa meninggalkan Ibu sendirian di sini. Radit pernah bicarakan ini ke Mbak Qis. Kalau seandainya Radit bekerja di luar kota atau di luar negeri, Mba Qis akan bawa Ibu ke rumah suaminya. Tapi, Radit justru lebih senang kalau nanti Ibu memiliki pendamping.”


Radit menggenggam tangan sang Ibu. “Menikahlah lagi, Bu. Selama ini ibu tidak pernah membahagiakan diri Ibu sendiri. Dan sekarang waktunya.”


Pembicaraan yang semula hanya senda gurau, berubah menjadi melow. Laila menangis, Radit pujn ikut sedih. Pria yang di didik Laila dengan baik itu pun mengapus jejak airmata di pipi sang Ibu.


“Udah, Bu. Jangan sedih ya!”


“Rasanya baru kemarin melihat kalian lari – larian, kejar – kejaran. Sekarang kalian sudah besar. Malah Bilqis sudah menikah.” Laila menarik nafasnya kasar. Ia juga menjauhkan diri dari sang putra dan menyeka lagi airmata yang tersisa.

__ADS_1


“Menurut Radit, Om Darwis pria baik. Setia lagi.”


“Tau dari mana kamu?” tanya Laila ketus.


“Ya, buktinya dia belum menikah lagi padahal almarhumah istrinya menikah sudah lama. Berarti dia kan setia, Bu.”


Laila terdiam meresapi kata – kata yang dilontarkan sang putra. Lalu, Laila menatap Radit.


“Memang kamu mau kerja di luar negeri?” tanyanya.


Radit mengangguk. “Iya.”


“Ke mana?” tanya Laila lagi.


“Singapura. Kebetulan ada kakak kelas Radit yang sudah sukses di sana. RAdit cukup dekat sama dia. Jadi waktu kemarin Radit bilang kalau Radit sudah lulus dan mau wisuda, dia minta CV Radit buat kut dia kerja di sana.”


Radit bercerita dengan antusias. Ia sangat ingin mengeksplore dirinya, maklum masih fresh graduate.


“Terus di terima?” tanya Laila.


“Belum, Bu. Baru ngasih lamarannya aja lewat email. Tapi Radit yakin sih bakal di terima, soalnya di sana kakak kelas Radit itu udah punya jabatan.”


“Di perusahaan apa?” tanya Laila lagi.


“Rumah sakit. jadi nanti, RAdit pegang pengelolaan manajemennya,” jawab Radit. “Katany rumah sakit itu yang punya orang Indonesia, jadi sebagian besar karyawannya juga diambil dari orang kita.”


“Kamu jadi TKI dong nanti, Dit.”


“Ya gpp, Bu.” Radit tersenyum pada sang Ibu.


Laila pun sedikit demi sedikit mengerti keinganan sang putra. Ia memang tidak bisa menahan keinginan anak – anaknya. Yang penting tugasnya sekarang hanya berdoa, mendoakan agar anak – anaknya tetap selalu berada di jalan yang benar dan bahagia.


“Ibu ga apa – apa kan, kalau Radit bekerja di Singapura?”


Laila terdiam mendengar pertanyaan sang putra.

__ADS_1


“Atau, ibu memang harus menikah dengan Om Darwis. Dia kan berdomisili kewarganegaraan sana, jadi Ibu di bawa ke sana dan kita bisa sering ketemu.”


Spontan, Laila memukul lengan putranya dan tersenyum. “Kamu tuh ya, ngeledek ibu terus.”


__ADS_2