
Bibir Alex tiba – tiba tersenyum dan kembali menepuk bahu Radit, mengajak adik iparnya untuk mengikuti arah matanya.
“Itu dia, Om Drawis.”
Kepala Radit yang semula menunduk, langsung terangkat dan mengikuti arah mata Alex. “Ah, si*l. Dia sudah membuat semua orang panik.”
Walau Radit bukan tipe pria temperamen, tapi jiwa liar dan ingin memukul orang yang menyakiti ibu dan kakaknya, tetap ada.
Darwis datang dengan menggunakan sepeda motor bersama pria berjaket ojek online. Alex dan Radit melihat Darwis berantakan dan duduk di belakang pengemudi ojol itu.
“Berhenti, berhenti.” Darwis meminta pengemudi ojek online itu berhenti tepat di depan Alex dan Radit.
“Om,” panggil Radit dan Alex.
“Mengapa Om terlambat?” tanya Radit.
“Ceritanya panjang, Dit. Sekarang Om ingin langsung ke dalam. Pak penghulunya belum pulang kan?” tanya Darwis panik.
Alex hanya tersenyum melihat pria paruh baya itu. Ia yakin Darwis bukan tipe pria yang ingkar janji.
“Belum,” jawab Radit yang kini berjalan bersama Darwis dan Alex ke dalam rumah itu. “Tadinya penghulu itu mau pergi, tapi Mas Alex berhasil menahannya.”
Darwis menoleh ke arah Alex. “Kau memang selalu bisa diandalkan.”
Alex mengangkat bahunya sembari melipat kedua tangannya di dada. Saat semua orang panik, entah mengapa ia tak merasa panik. Ia yakin Darwis akan datang dan yakin bahwa keterlambatan ini terjadi hanya karena sebuah halangan teknis diperjalanan saja. Dan itu terbukti. Kini, Darwis pun sudah berada di tengah – tengah keluarga Laila dan penghulu.
Dari awal keluar apartemen bersama ketiga mobil yang membawa sanak saudaranya, perjalanan Darwis terhambat karena kemacetan yang disebabkan sebuah kecelakaan. Usai melewati kemacetan itu, mobil yang membawa Darwis mengalami pecah ban. Akhirnya, ia memilih naik motor demi mengejar waktu dan terhindar dari kemacetan. Sementara sanak saudaranya menyusul.
Sementara di dalam kamar, Laila masih sesegukan. Kamar yang sengaja Bilqis tutup rapat dan berada di ujung taman belakang itu tampak tidak merasa jika diluar sana sedang terjadi sesuatu. Laila dan Bilqis pikir keriuhan di luar sana terjadi karena kepanikan Darwis yang tak kunjung datang. Padahal keriuhan itu adalah keriuhan dari acara sakral yang hendak di mulai.
“Qis, mau ke mana?” tanya Laila menahan tangan sang putri yang ingin keluar dan melihat kondisi terkini.
“Bilqis keluar dulu ya, Bu. Ingin melihat bagaimana keadaan di luar. Om Darwis sudah datang atau belum,” sahut Bilqis.
“Belum. Dia pasti tidak jadi datang! Dia pasti malu memiliki istri seperti ibu.”
Laila tidak menyadari bahwa di luar sana justru Darwis sudah mengucapkan janji suci. Akad nikah sudah berlangsung. Bahkan Pak penghulu juga sudahh mengucapkan doa usai Darwis mengucapkan janjinya di hadapan para wali, saksi dan tentunya petugas kantor.catatan sipil dengan menyebut nama Tuhan sebagai pengawalan dari janji ia ikrarkan.
“Siapa yang malu memiliki istri sepertimu? Aku?” Tiba – tiba suara seseorang terdengar dari pintu kamar Laila yang terbuka.
Sontak, kedua wanita yang sedang berada di atas ranjang pengantin itu pun menoleh.
__ADS_1
“Om Darwis,” panggil Bilqis lirih.
Namun, Laila mengalihkan pandangan setelah sekilas melihat ke arah itu. Laila sudah kadung kecewa. Ia pun tidak ingin melihat Darwis.
BIlqis sengaja memisahkan diri dari sang Ibu. Ia memberi Darwis bersama ibunya dan memebri waktu mereka untuk bicara berdua.
“Pergi! Sudah batalkan saja pernikahan ini. Aku memang ditakdirkan untuk sendiri,” kata Laila kesal dan meminta Darwis untuk tidak mendekat.
“Pergi ke mana?” tanya Darwis lucu.
Aksi pria dan wanita yang tak lagi muda ini membuat geli para sanak saudara yang mendengar pertengkaran itu.
“Pulang sana ke negaramu! Aku tahu kamu tidak sungguh – sungguh padaku.”
“Siapa bilang?” tanya Darwis mendekati Laila.
Kini, Darwis duduk di tepi ranjang itu untuk mendekati istrinya. Ya, Laila memang sudah menjadi istrinya walau wanita itu tidak menyadari.
“Sana! Jangan dekat – dekat!” kata Laila dengan mendorong Darwis yang terus mendekati.
“Ayo keluar! Para tamu menunggu kita. Mereka ingin mengucapkan selamat.”
“Selamat apa? Pernikahan kita sudah batal.”
“Apa sih pegang – pegang?”
Darwis kembali tertawa. Ia gemas melihat Laila. Walau riasan Laila sudah bercampur air mata. Namun, wanita yang tak lagi muda itu masih tetap terlihat cantik.
“Hei, kau menangisiku?” tanya Darwis meledek sembari mengusap jejak air mata di pipi Laila.
Laila kembali menepis tangan itu. “Tidak. Aku hanya menangisi biaya persiapan pernikahan yang sudah dikeluarkan.”
Darwis kembali tertawa. Benar kata Alex, Ibu dari istri Alex itu memang sebelas dua belas dengan putrinya.
“Bukan kah biaya persiapan ini semua dariku?” tanya Darwis terenyum menatap Laila. Bahkan tubuh laila pun sudah berada dalam kungkungannya.
“Iya, itu memang uangmu. Tapi tetap saja sayang kalau akhirnya tidak jadi.”
Di luar kamar itu, Alex, Radit, dan Bilqis terpaksa menemani para tamu, menggantikan posisi Laila dan Darwis yang seharusnya bersama mereka. Bilqis beralasan pada para tamu bahwa sang ibu tengah merapikan riasannya. Padahal di dalam sana sepasang suami istri sedang berinteraksi lucu. Darwis tengah berusaha membujuk Laila yang sedang merajuk karena mengira dirinya pembohong dan hanya berjanji manis.
“Memang apa yang tidak jadi?” tanya Darwis dengan mengerlingkan tatapannya ke arah yang lain.
__ADS_1
Laila pun merasakan bahwa tatapan Darwis mulai mengarah pada dadanya. Tiba – tiba tangan Darwis pun menyentuh dua benda kenyal itu dengan kedua tangannya.
“Mas, kamu kurang ajar,” ucap Laila marah karena Darwis meremas kedua dadanya.
Darwis tertawa.
“Ternyata selain pembohong dan hanya janji manis. Kamu juga kurang ajar.” Laila mendorong dada Darwis dan bangkit dari ranjang itu. “Untung saja kita belum sempat menikah.”
Dariws mendekati Laila yang hendak keluar dari kamarnya dengan memeluk Laila dari belakang. “Jika tidak ada tamu diluar, aku sudah ingin memakanmu, Laila ku.”
“Mas, kamu sudah gila!” Laila kembali memberi jarak pada Darwis dan hendak keluar. Wanita itu berlari ke arah Radit, Alex, dan Bilqis.
“Akhirnya, Ibu keluar juga. Sini tanda tangan,” ucap penghulu yang meminta Laila untuk menandatangani buku nikah itu.
“Hah, tanda tangan apa?” tanya polos.
“Lah, kan ibu udah nikah. Ayo tanda tangan!”
“Kapan?” tanya Laila lagi dengan wajah polos membuat semua orang tertawa.
Darwis yang kini ikut duduk di samping Laila pun ikut tertawa. “Aku sudah mengucapkan ijab qobul. Apa kamu tidak dengar?”
Laila menggeleng. “Tidak.”
“Uuuuuhhhh …” Sontak suara sorak itu pun menmggema.
Wajah Laila memerah, Ia tampak malu. “Jadi kamu?”
“Sekarang kita sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Aku suamimu dan kamu istriku, Laila ku.”
Laila kembali malu. Apalagi mendengar Darwis kembali menyebut namanya dengan sebutan "Laila ku".
Laila menutup wajahnya dengan kedua tangan, mengundang sorak lagi dari para tamu yang gemas melihat ekspresi Laila.
Radit yang semula ingin marah karena keterlambatan Darwis pun tertawa. Bilqis ikut tertawa dan Alex juga demikian.
Alex yang berdiri tepat di belakang sang istri, menempelkan bibirnya di belakang telinga itu. “Si jery masih belum tidur.”
Bilqis menoleh dengan wajah cemberut. Ia menatap kesal pada Alex karena lagi – lagi yang ada di kepala pria itu hanya jerry.
Di luar keriuhan dan kebahagiaan itu, berdiri seorang pria yang menatap ke arah dalam rumah Laila yang terbuka. Pria itu melihat senyum sumringah yang terpancar dari wajah cantik Laila yang dirias pengantin. Ia ingat saat pertama kali meminang wanita itu. kecantikannya masih sama. Keluguannya pun tidak berubah.
__ADS_1
“Laila ku,” ujarnya dengan meneteskan airmata.
Setelah lima menit berdiri, Ridho kembali memasuki mobil petugas. Walau hatinya nyeri melihat Laila bersanding dengan orang lain, tapi Ridho ikut bahagia melihat senyum itu. Senyum dari Laila, Bilqis, dan Radit.