
Hari ini setelah selesai pekerjaannya di negeri orang, Bende bersama Asistemnya terbang kembali ke tanah air.
"Dav, siapa yang akan menjemput kita?" tanya Bende setibanya di bandara
"Pak Asep tuan, beliau sedang dalam perjalanan" jawabnya
"Ada apa tuan? Kenapa anda kelihatan gelisah?" tanya Dava karena boss nya itu terlihat gelisah karena terus menggerakkan sebelah kakinya
"Saya ingin segera pulang" jawabnya singkat
"Sepertinya anda merindukan Nona Denna" ujar Dava dengan tersenyum, Bende salah tingkah dibuatnya
Tak berselang lama, Pak Asep supir pribadi Bende datang, lalu mereka bergegas pulang kembali ke mansion pribadi milik Bende
Setibanya di mansion utama, ia mencari keberadaan Denna namun tak menemukannya
"Bi Emma, pergi kemana Denna?" tanyanya
"Non Denna katanya kemarin ke rumah bibinya tuan, semalam dia tidak pulang dan menginap disana, katanya sudah izin dengan Tuan Muda" jawab bi Emma
Oh shitt "Kenapa aku lupa" gumamnya lalu bergegas kembali ke kamarnya mengistirahatkan tubuhnya yang lelah
.
Disisi lain, tanpak seorang gadis cantik yang tengah tertawa gembira bersama pria tampan di sebuah toko bunga
"Kau suka bunga tapi kau alergi bunga hahaha" ledek gadis itu
"Huacimmm"
"Rasakan inii Aryaa" ucapnya dengan terus menyodorkan bunga ke hidung Arya
"Huachimmm huhh.. Denna hentikan"
Ya, Arya dan Denna tak sengaja bertemu di toko bunga. Denna berniat membeli bunga untuk sedikit menghias kamarnya, sedangkan Arya disuruh Mamanya membeli bunga untuk menghias ruang tamu dirumahnya.
"Denna jauhkann" pinta Arya
"Baiklah baiklah Adipatiii" ledeknya dengan suara yang sedikit mengejek
__ADS_1
"Kau itu sangat berbeda, semua orang memanggilku Arya, tapi kau Adipati"
"Terserahku. Ohya mbak, bunga ini berapa harganya?" tanyanya pada karyawan di toko bunga itu dengan menunjuk bunga mawar yang indah
"Lima puluh lima ribu mbak"
"Ambil saja yang kau mau, aku akan membayarnya" celah Arya
"Tidak Adi, terimakasih. Ohya mbak, saya mau bunga mawarnya 3 ya" ujarnya
"Baik mbak, silahkan urus administrasinya"
"Mbak, saya juga samakan ya" ujar Arya menimbali
"Baik mas, permisi"
Dari arah pintu masuk, seorang laki-laki datang dengan tatapan penuh amarah, ingin rasanya ia mencekik leher pria yang berani mendekati gadisnya
"Pulang" ucap Bende menarik tangan Denna
Denna yang melihatnya terkejut, bagaimana Bende tahu jika dirinya sedang berada di toko bunga. Bukankah Bemde sedang di Malaysia, pikir Denna
"Bendefidh, awh" ringis Denna kesakitan akibat cengkraman kuat tangan Bende
"Diam! Sama sekali tidak ada urusan denganmu!" jawabnya penuh penekanan
"Bende! Kau menyakitinya lepaskan tanganmu!" ujar Arya yang membantu melepaskan tangan Bende dari Denna
"Hey!! Singkirkan tangan kotormu!!!" marahnya
"Kau sedang menyakiti seorang wanita! Kau tidak lihat tangannya berdarah!" balas Arya tak kalah emosinya
"Awhh.. Shh.. Bendefidh lepaskan ini sakit" ujar Denna berlinang air mata, pergelangan tangannya mengeluarkan darah
"Bughh! Laki-laki kasar, arogan, angkuh! Tak pantas kau menjadi pria untuknya!"
"Bughh.. Bughh "Lalu apa sepertimu yang pantas untuknya? Begitukah" balas Bende dengan membalas pukulan Arya hingga di sudut bibirnya mengeluarkan darah
"Tuan hentikan, orang-orang menatap ke arah kita" cegah Dava
__ADS_1
"Kau urus bunga yang Denna beli" perintahnya pada Dava, lalu ia membawa Denna keluar dari toko itu
"Suruh boss angkuhmu sedikit lebih lembut pada wanita, sangat sayang jika wanita sebaik Denna jatuh di tangan orang sepertinya" ujar Arya pada Dava
"Sebaiknya anda intropeksi diri anda sendiri Tn. Adipati Aryano" jawab Dava lalu bergegas pergi dari toko itu
Di dalam perjalanan pulang, Bende ataupun Denna hanya saling berdiaman. Tidak ada suara di antara mereka, Denna lebih memilih memalingkan wajahnya ke luar jendela mobil dengan membiarkan tangannya yang terus meneteskan darah
Bende yang melihatnya pun segera meraih tangan yang mengeluarkan darah itu
"Denna, tanganmu" ucapnya dengan memegang tangan Denna
"Dava ambilkan kotak P3K itu" lalu Dava menyerahkannya pada Bende
Saat hendak meraih dan mengobati tangan Bende, Denna menarik tangannya kembali
"Tak usah di obati" lirihnya tanpa menoleh ke arah Bende
"Tanganmu berdarah! Jangan membantahku" ucap Bende
"Biarkan saja, tidak perlu di obati" ulang Denna
"Denna!"
"Untuk apa di obati, kau yang menyakitiku, untuk apa kau obati? Agar kau bisa menyakitiku lagi, begitukah?" lirihnya
"Ak.."
"Diamlah Bendefidh, aku sedang malas berdebat" cegahnya
Sementara Dava dan pak Asep hanya diam, mereka tak berani ikut campur urusan keduanya
Setibanya di mansion, Denna lebih dulu keluar dari mobil dan bergegas masuk ia membiarkan tangannya yang terus meneteskan darah itu tanpa memerdulikan semua pelayan yang melihatnya di kediaman Bende
Bende yang melihatnya merasa iba, ia merasa bersalah pada gadisnya lalu bergegas menyusul Denna, namun langkahnya di tahan oleh Dava
"Tuan, sebaiknya biarkan Nona Denna sendiri dulu" saran Dava
"Kau lihat tangannya? Itu karena ulahku, aku sangat sulit mengendalikan emosi jika melihatnya bersama pria lain, apalagi tadi? Adipati Aryano kau tau siapa dia bukan, musuhku!" ujarnya yang sudah mulai tersulut emosi
__ADS_1
"Tidak baik jika anda yang sedang emosi bertemu dengan Nona Denna, nanti akan masalahnya akan semakin membesar. Sebaiknya anda mengistirahatkan diri di kamar anda supanya anda lebih tenang tuan"
Menurut Bende saran yang di berikan Dava cukup bagus, benar katanya. Jika ia tak bisa merendam amarahnya, yang ia takutkan akan menyakiti Denna lagi jika ia kehilangan kendali.