
Suasana hatinya sedang tidak baik, Bende takut jika ia menemui gadisnya ia akan hilang kendali. Ia merasa takut, kesal, kecewa, marah pada keadaan. Pasalnya ia sudah trauma ditinggalkan orang-orang yang dia sayangi
Ia mengingat tangan Denna tadi yang terus meneteskan darah akibat ulahnya, emosi menguasai dirinya saat ini. Ia membuka lemari kecil di samping ranjangnya untuk mengambil sebutir obat penenang. Saat hendak meminumnya tiba-tiba Dava menghentikannya
"Tuan muda! hentikan!" teriak Dava karena panik, ia langsung membuang obat itu dari genggaman Bende
"Jangan berteriak padaku!!"
"Tuan muda, tenanglah. Maafkan ucapan saya"
"Keluar!!" bentaknya yang tengah diselimuti tebal oleh amarah
"Tuan muda, jika Nona Denna tau tentang hal ini. Tidak menutup kemungkinan jika Nona Denna akan pergi me.."
"Dava!!! TUTUP MULUTMU" ucapnya dengan mata memerah dengan penuh amarah
Bughh.. Satu pukulan lagi-lagi mendarat di pipi Dava
"Pukul saya tuan! pukul saya!" bantah Dava
Bughh.. bughh Bende terus menghajar Dava hingga asistennya itu kehabisan tenanga
"Arghhh.. Tidak puas!" lalu bende memukulkan tangannya ke Dinding
"Tuan muda! jika anda marah lampiasan kepada saya, jangan terus bergantung pada obat itu!"
"Saya ingin tenang" ucap Bende lemas, ia menghempaskan tubuhnya ke lantai
Dava beranjak keluar meninggalkan bossnya itu, yang penting dia berhasil menghentikan Bende untuk meminum obat itu
.
"Bende" tegur seorang pria yang sejak kecil selalu mendampinginya menggatikan sosok Ayah yang selama ini tak di rasakannya, Bendinath.
"Aku baik-baik saja" jawabnya yang sudah mengerti dengan tatapan Bendi
"Siapa yang mengenalmu lebih baik daripada aku" jawab Bendi
__ADS_1
"Bendi keluarlah, aku sedang tidak ingin di ganggu"
"Aku datang bukan untuk mengganggu, berdirilah!" perintah Bendi
"Tidak!" bantah Bende
"Bende aku bilang berdirilah!! jangan seperti anak kecil!"
Bende berdiri mengikuti perintah kakaknya itu, ia menundukkan dirinya di hadapan Bendinath
"Pergi dan minta maaflah pada Denna" ujarnya dengan menepuk Bahu adiknya
"Dari mana kau tau masalahku?" tanya Bende
"Aku kakakmu, aku tadi melefon Dava untuk datang kesini. Saat aku datang, aku di kejutkan dengan Dava yang babak belur. Dia menceritakan semuanya, aku kakakmu aku berhak tahu semua masalahmu" jelasnya
Bende hanya diam tak menjawab sepatah kata pun
"Pergi temui gadismu, minta maaf padanya"
"Bendi, aku.. aku. Diaa" jawab Bende gelagapan
"DIAM!! Jangan sebut kata itu!" ia mulai tersulut emosi lagi, entah megapa saat mendengar kata "meninggalkan/kehilangan" itu membuatnya takut
"Kalau begitu temui dia dan minta maaf!! kau laki-laki kau harus bisa bertanggung jawab atas perbuatanmu Bendefidh Reginaldo Wilson!!" kini Bendi juga mulai tersulut emosi, ia sangat ingin menghajar adiknya ini namun ia berfikir tak ada gunanya dan hanya membuang tenaga
Bende langsung meninggalkan Bendi dan beranjak ke kamar Denna, ia melihat gadisnya itu sedang tertidur dengan tangan kirinya yang menjuntai ke bawah. Ia melihat darah itu terus menetes, Bende merasakan sesak di dadanya melihat itu
Ia mengambil kotak P3K dan mulai mengobati tangan Denna dengan telaten
"Maafkan aku, aku selalu menyakitimu" Bende mulai tak bisa menahan dirinya, air matanya meluruh sudah. Hanya penyesalan yang tersisa, memandang wajah gadisnya dengan mata yang membengkak akibat menangis bertambah membuat hatinya teriris.
"Lagi-lagi aku gagal menjagamu, aku terus menyakitimu hikss..hikss" Bende menangis dengan memeluk tubuh Denna
"Sayang.. Ku mohon maafkan aku lagi"
Denna terbangun karena merasa lengan bajunya basah, saat ia menyadari satuhal bahwa Bende sedng menangis menyesali perbuatannya
__ADS_1
"Bendefidh" lirihnya
Bende mendonggakan kepalanya, ia menatap lekat wajah yang selalu ada untuknya setiap hari itu
"Maaf hikss..hikss" ucap Bende dengan air mata yang terus mengalir
"Sudah-sudah, kau tidak malu seorang CEO muda ternama, yang dikenal cuek, dingin, dan angkuh ini sedang menangis" hibur Denna
"Kenapa? apa tidak boleh? CEO juga manusia" jawab Bende, Denna hanya memperlihatkan senyum manisnya pada Bende
"Maafkan aku, aku tidak suka melihatmu bersama pria lain sudah sering aku katakan bukan? kenapa kau sangat suka membantahku?"
"Aku hanya berteman Bendefidh, sudahlah berhenti menangis"
"Lagi-lagi aku menyakitimu" ungkap Bende
"Bendef.."
"Aku hilang kendali, aku tak bis berfikir hernih saat sudah di kuasai emosi" ulangnya
"Bendefidh dengarkan aku. Kau sudah dewasa, ku mohon jangan seperti anak kecil. Kau tak segan menghajar orang di depan umum, pertama di caffe, kedua di taman kota, ketiga di kantor, sekarang di toko bunga. Ku mohon kendalikan dirimu dulu, sebelum kau bertindak"
"Aku tak suka melihatnya, kau harus mengerti!" jawab Bende
"Kenapa?" tanya Denna
"Karena aku mencintaimu, aku menyayangimu. Aku tak mau jika kau bersama pria lain, aku takut kau akan menyukainya dan meninggalkanku lagi!"
"Kau sayang padaku kan?" tanya Denna
"Lebih dari diriku sendiri"
"Kalau begitu kau harus percaya padaku Bendefidh"
"Jalan pikiranku buntu setiap aku melihatmu bersama pria lain, terlebih pria itu adalah musuh terbesarku Adipati Aryano"
"Aku hanya berteman dengannya. aku mengenal Arya sejak SMA sebelum aku mengenalmu dia pria yang.."
__ADS_1
"Berenti! jangan bicarakan dia!" Bende mulai kesal
"Hmm" balas Denna acuh