
Tanpa memperdulikan ucapan Bende, ia berlalu meninggalkan pria itu sendirian di kamar
" Denna! " serunya
Kemudian Bende segera mengenakkan pakaiannya dan menyusul gadisnya buru-buru
Sesampainya di luar ia bertanya pada semua pengurus apart atas keberadaan Denna namun tidak ada satupun manusia yang melihatnya
" Untuk apa aku membayarmu jika bekerja tidak becus!! " sentak Bende
Dengan amarah bercampur rasa khawatir ia melajukan mobilnya dengan cepat, hingga ia mengecek GPS keberadaan Denna dan berhasil menemukannya.
" Kenapa kau menuju Kota Venezia, itu bahkan sangat jauh " gumam Bende dan secepat kilat mengemudikan mobilnya
Ia melihat plat mobil yang di kenakkan Denna di depan hingga ia berhasil menghadang mobilnya
" Noona, maaf saya harus berhenti. Di depan ada Tuan Muda " ucap supir Denna
" Keluar!! " ucap Bende dengan nada ingin marah namun juga khawatir
Hingga ia berhasil membuka pintu dan menarik tangan Denna lalu membawanya kedalam pelukannya
" Kau mau kemana! " ucap Bende dengan sedikit bentakan
" Pergi jauh darimu " balas Denna dengan air mata yang meluruh
__ADS_1
" Kau gila hah! Kita pulang " ucapnya menahan emosinya lalu menarik tangan Denna membawanya masuk kedalam mobil miliknya
" Lepaskan aku Bendefidh! " ucapnya pelan dengan air mata yang terus meluncur
" Tidak! " kini bahkan mata Bende telah memerah, ia menahan amarah juga rasa takutnya
Hingga mereka tiba di apartemen dan membawa Denna masuk dan mengunci pintu kamar
Tanpa aba-aba Bende langsung memeluk gadisnya erat " Bukan begitu maksudku, ku mohon jangan seperti ini " ucap Bende mencoba menjelaskan
" Aku sudah cukup mendengarnya tadi dari mulutmu, itu sangat menyakitiku jadi tolong lepaskan saja aku "
" AKU BILANG TIDAK! KAU TIDAK AKAN KEMANA-MANA APA KAU MENGERTI " tubuh Bende sedikit gemetar, ia tak suka ucapan yang baru saja dilontarkan Denna hingga ia sulit mengendalikan emosinya
Tanpa menjawab apapun kini bahkan air mata Denna semakin meluruh, ia belum terbiasa meskipun sudah berkali-kali di bentak oleh pria dihadapannya itu
Isakan tangis gadis itu terhenti, bahkan tak mengeluarkan suara apapun. Denna pingsan dalam pelukannya
" Denna.. Heii, buka matamu! " ucap Bende menepuk-nepuk pipinya pelan
Sementara Denna tak bergeming, tubuhnya terkulai lemas dalam dekapan Bende
" Sayang.. Heii jangan membuatku takut. Denna maafkan aku bangunlah.. Heii " Bende semakin panik dan bingung, ia bingung harus bagaimana sekarang
Ia merebahkan tubuh gadisnya diatas kasur empuk miliknya, mencoba menyadarkan Denna namun nihil, ia tetap menutup matanya
__ADS_1
" Davaaaaaa!! " seru Bende mengandalkan suara baritonnya
Asisten Dava berlari secepat kilat, semua orang terkejut dengan teriakan itu
" Ada apa tuan? " tanya Asisten Dava yang kini telah berada di depan pintu
" Hubungi dokter, suruh datang kesini CEPAT!! " ucapan Bende tegas namun juga bercampur dengan rasa panik
" Baik tuan " balas Asisten Dava yang kemudian langsung menghubungi dokter
Tak lama dokter pun tiba, ia mulai memeriksa keadaan Denna, bahkan menatap wajahnya penuh iba
" È in buona forma, signore, ma la leggera pressione lo ha fatto svenire "
" Keadaannya baik Pak, namun karena sedikit tekanan itulah yang membuatnya pingsan " ujar dokter itu setelah memeriksa keadaan Denna
" Grazie, quando si sveglierà? "
" Terima kasih, kapan dia akan sadar? " tanya Bende dengan berbahasa Italy
" Vacci piano signore, presto se ne accorgerà "
" Anda tenang saja pak, ia akan segera sadar " balas sang Dokter
Kemudian dokter paruh baya itu meninggalkan apartemen Bende dengan di antar Asisten Dava
__ADS_1
" Bangunlah.. Maafkan aku " lirih Bende membelai rambut panjang Denna
Bersambung...