
Setelah pertengkaran yang terjadi antara Bende dan Denna, Nayla berhasil meyakinkan Denna untuk tetap tinggal walaupun keraguan masih terlintas dalam benaknya
Dengan berat hati Bende melangkahkan kaki meninggalkan Mansion bersama Asisten Dava
" Pergilah lebih dulu, aku harus bicara pada Bendi " ucapnya berbicara pada Asisten Dava kemudian ia melangkah keluar lebih dulu
" Jaga dia untukku Bendi, aku berangkat " ucap Bende yang di balas anggukan oleh kakaknya itu
Ia berlalu tanpa berpamitan pada Denna, ia tak mau memberatkan langkahnya saat melihat wanita itu menangis.
Raut rasa tak rela pun di rasakan Mama Wina, pasalnya sudah 2 tahun lebih ia tak melihat wajah putranya, kini anak bungsunya itu harus meninggalkan rumah.
" Hati-hati Bende " ucap Mama Wina menatap punggung anaknya yang semakin melangkah keluar
...***...
Keduanya telah tiba di Negara Menara Pisa, Selepas turun dari Bandara menuju apartementnya mobil Bende diiringi pasukan mobil hitam di belakangnya yang kemudian mobil itu melaju lebih kencang dan mengepung mobil yang dikendarai Bende dan Asisten Dava
" Berikan sinyal pada staf " Perintah Bende santai, kemudian Dava mulai memberikan sinyal biru pada Staf bermaksud memberitahu anak buahnya untuk bersiap dan segera bergegas
" Lama tak bertemu denganmu Regi " seru seorang pria berkulit coklat dan memiliki sorot mata tajam berbicara begitu lantang ketika ia melihat Bende keluar dari mobilnya
__ADS_1
Bende lantas menoleh ke sumber suara, ia menyungging senyum sinisnya " Malvin Moreno, setelah lama kau bersembunyi akhirnya wajahmu terpampang juga "
" Ku anggap kau takut dengan kembalinya aku " tanyanya dengan meninggi
" Wow aku sangat takut sekali cihh.. " ledek Bende dengan wajah dibuat-buat takut
" Sepertinya kau tak ada persiapan dengan kedatanganku, kurasa kau cukup pintar untuk mengetahui munculnya keluarga Moreno "
Bende lantas tersenyum sinis, pria angkuh didepannya ini berbicara seolah ia adalah seorang dewa
" Ku rasa kau sangat tak sabar sehingga kau yang menemui ku lebih dulu " ucap Bende dengan santai
Malvin hendak menghajar Bende melangkahkan kakinya bermaksud memukul pria yang terlihat seolah tak ada badai yang menentang di hadapannya
" Bagaimana pria ini terlihat begitu santai saat ia tahu ia sedang di kepung " batin Malvin
Langkahnya terhenti saat Calvin datang dari arah belakang yang menghentikan langkahnya
" Jangan gegabah, apa kau tahu bahwa Regi lah penyebab kematian seluruh keturunan Diko Aryano! " ucap Calvin, yakni kakaknya sendiri
" Maksudmu Adipati Aryano dan keluarganya? " tanya Malvin penasaran
__ADS_1
" Ya " Malvin lantas menggeleng tak percaya bahwa Bende lah penyebab musnahnya keturunan Aryano yang sempat mengguncang berita Italia
" Sudah selesai berunding? Ku harap kekuatanmu sudah lebih dari penuh untuk menyerang ku Marvino! " ucap Bende dengan suara baritonnya
Dari arah samping kiri, seseorang mencoba mengarahkan anak panah ke tubuh kekar Bende, dengan sekejap mata panah itu melesat ke arahnya
Mengarah lurus tepat akan mengenai dadanya, namun dengan gerakan santai ia menggenggam anak panah itu di tangannya lalu menyunging senyum sinisnya
" Hei bodoh! Harusnya kau menembak menggunakan pistolmu bukan anak panah seperti ini " ucap Bende dengan tawa meledek
Kemudian dengan kelima jarinya ia melempar ke udara anak panah itu, seketika kemudian berhasil mengenai pada sasaran
" Akh! Arghh" ucap pria itu yakni anak buah dari Marvino sedetik kemudian ia mati, karena tancapan itu sangat menusuk dan mengenai titik lemah manusia
" Kau lihat anak buahmu itu bahkan sangat lemah, baru seperti itu saja dia sudah mati "
Bende berbicara santai namun penuh penekanan, lawan di hadapannya tak begitu berat namun ia harus tetap hati-hati
Melihat hal itu kakak beradik Malvin dan Calvin itu melangkah mundur
Berikan dukungan kalian untuk Novel ini jika kalian menyukainya
__ADS_1