
Tanpa bicara sepatah kata apapun lagi, ia berlalu meninggalkan Denna yang masih terpaku
Bende pergi ke ruang tengah sedangkan Denna kembali ke kamarnya
Di dalam kamarnya, Denna menangis terisak, dadanya terasa sakit. Bukan karena cengkraman yang Bende berikan melainkan karena bentakan yang Bende lontarkan
Sedangkan di ruang kerja, Bende tampak memijit pelipisnya pelan, ia nampak lelah.
Tak lama kemudian Dava masuk
" Tuan.. Maaf saya ti- " ucapannya terhenti
" Denna ada di kamar " jawaban Bende membuat Dava mengerti, ia tak lagi bertanya dan hendak melangkah meninggalkan ruangan Bende
" Dava.. Apa aku terlalu berlebihan padanya? " tanya Bende
Dava menghentikan langkahnya dan langsung mengerti kemana arah pembicaraan Bende
" Tidak salah jika tuan muda mencintai nona Denna, namun perlakuan yang tuan berikan kurang baik" jawabnya
" Keluarlah! Sebelum aku memenggal kepalamu " balasnya
.
.
.
.
Menjelang siang, Denna keluar menuju lantai 1, melewati Bende, asisten Dava dan sekretaris Gino yang tengah memeriksa berkas perusahaan cabang
__ADS_1
Matanya tampak bengkak dan pandangan Denna lurus tanpa menoleh, ia menuju dapur
Bende sedari tadi memperhatikan gerak gerik gadisnya, ia tak ingin semakin membuat Denna tertekan sehingga Bende lebih memilih diam
" Asisten Dava, bisakah kau menolongku? " tanya Denna perlahan
Dava menoleh ke arah Bende, ia mendapat anggukan darinya hingga Dava beranjak dari duduknya
Keduanya bergegas ke dapur
" Apa yang harus saya bantu nona? " tanya Dava
" Bisakah kau mengupas kelapa ini? Tanganku sakit jadi sedikit susah " jawabnya pelan
" Baiklah " lalu Dava mulai mengupas kelapa
Tak lama kemudian Dava selesai mengerjakan tugasnya, ia menatap wajah Denna sejenak
" Tentu aku baik-baik saja, terimakasih sudah membantu " jawab Denna tenang
Kemudian Dava mengangguk, ia kembali pada Bende dan sekretaris Gino dan mulai menyelesaikan tugasnya
Denna melewati ketiga pria yang tengah sibuk dengan berkas-berkas di tangannya, melalui seolah tidak ada hal yang terjadi sebelumnya
Setibanya di kamar, Denna tampak pusing hingga mual-mual, ia merasa seluruh tubuhnya terasa remuk pegal-pegal
Entah apa yang terjadi pada gadis ini, ia merasa aneh pada tubuhnya
" Huwekk.. Huwekk.. Huhh, sakit sekali 🥺🥺 " keluhnya sembari menumpahkan muntahnya
Sementara Bende yang tengah beristirahat di kamarnya mencoba menetralkan pendegarannya
__ADS_1
Bende mendengar dari sebelah kamarnya, ia bergegas ke kamar Denna dengan langkah cepat karena kamar mereka bersebelahan
Saat hendak membuka pintu, sayangnya pintu itu terkunci dari dalam
" Huweekk.. 🥺🥺 " dengan air mata yang mulai berlinang, ia terus menumpahkan muntahannya di wastafel
Bende yg mendengarnya merasa panik, ia mendobrak pintu kamar Denna dan bergegas mencari keberadaanya
" Sayang.. Ada apa? " paniknya dan menopang tubuh Denna
" Ya Tuhan kau pucat sekali, katakan kau kenapa! " cemas nya
" Menyingkirlah Bendefidh " lirihnya
" Hueekk.. Huwekkk.. "
Bende dengan telaten memijat tengkuk Denna lembut
" Apa masih mual? " tanyanya lembut yang di balas anggukan oleh Denna
Bende memeluk tubuh gadisnya dan memberikan ketenangan disana, ia mengelus surai Denna dengan lembut
Lalu, ia mulai menggendong tubuh Denna dan meletakkannya di atas kasur
" Badanmu panas sayang, apa ada yang sakit? " tanya Bende
" Huhuu.. Hiks.. Hikss.. " hanya di balas isak tangis oleh Denna
" Katakan yang mana yang sakit "
" Semuanya.. Hikss.. Hikss.. " jawabnya lirih
__ADS_1
Bende memeluk Denna mencoba memberikan ketenangan pada gadisnya, kali ini tanpa berteriak ia memanggil Dava menyuruhnya menghubungi Dr. Willy