
" Bagaimana? " tanya Bendi saat melihat Bende keluar dari kamarnya
" Entahlah, aku tidak tega melihat keadaannya Bend " ucapnya sedikit memijit pelipisnya pelan
" Memangnya apa yang terjadi? "
" Denna meminta ikut, sangat sulit meyakinkan nya Bendi. Ucapannya terasa pilu, trauma itu belum juga pergi darinya " jawabnya
" Lalu apa yang akan kau lakukan Bende? Membawanya? "
" Tidak, Denna harus tetap disini. Aku percaya kau akan menjaganya untukku bukan? "
Bendi lantas menganggukkan kepalanya tanda setuju, sejujurnya ia sendiri juga bingung bagaimana cara membantu adiknya untuk meyakinkan Denna
Suara dering telepon Bende berbunyi, tertera nama Asisten Dava disana dengan segara ia mengangkatnya
" Bicaralah " ucap Bende dengan menempelkan telepon di telinganya
" Saya sedang menyiapkan alat anda tuan, apa saja yang ingin ada bawa? " tanya Asisten Dava di seberang telepon
" Bawa yang seperti biasanya kugunakan Dava, kirimkan alat itu hari ini juga pada staf di Italy. Biarkan mereka disana yang memeriksanya "
" Baik tuan " balas Asisten Dava lalu memutuskan sambungan teleponnya
Bendi yang melihat adiknya yang tampak kebingungan hanya menepuk bahunya pelan " Segera selesaikan masalah ini dan cepatlah kembali brother "
Dukungan dari Bendi membuatnya sedikit terasa lebih baik, ia tak ragu meninggalkan Denna di Mansion Induk jika ada Bendi. Ia percaya kakaknya itu dapat diandalkan
" Aku harus kembali ke kamar melihat Denna " ucap Bende lalu berlalu meninggalkan Bendi sendirian disana
Sementara di ruang keluarga, semua keluarga tengah berkumpul, sebelum kembali ke kediaman masing-masing mereka menghabiskan sisa waktu untuk berbincang bersama
__ADS_1
Semua keluarga yang melihat Bendi yang datang sendirian lantas bertanya keberadaan Bende " Dimana Bende, Bend? " tanya Papa Luke
" Kembali ke kamarnya Pa " jawabnya
" Kita hanya memiliki waktu sedikit untuk berkumpul seperti ini, panggil dia kemari " perintah Papa Luke lagi
" Bende juga harus bersiap, ia juga akan kembali ke Italia lusa nanti " ucapnya lalu duduk di samping istrinya yang tengah menidurkan babby Gio
" Kenapa buru-buru sekali, bukankah kata adikmu dia akan kembali bulan depan Bend? " tanya Mama Wina kaget atas penuturan Bendi
" Ada hal yang harus ia selesaikan Ma, itulah mengapa ia harus kembali " jawab Bendi lagi
" Mansion akan semakin sepi saat Bende dan Denna juga kembali ke Italy " tambah Oma Queena
" Tidak bisakah adikmu menunda kepergiannya lusa Bend? " timpal Mama Wina
" Tidak bisa Ma, hal itu harus ia yang menanganinya sendiri. Dan ya Oma, Bende pergi bersama Dava untuk sementara Denna akan tinggal disini dulu bersama kita " jawab Bendi
" Hahaha tidak mungkin Denna tak ikut dude " tambah Lexi
" Yaah! Sean dan Lexi benar " Peter menimpali
" Namun kenyataannya memang seperti itu " jawab Bendi tak mau ambil pusing
Tak ada yang tahu tentang apa yang akan Bende lakukan disana, hanya dirinya yang tahu tentang hal itu.
" Kenapa gadis itu tinggal? Bukankah Bende selalu membawanya? " tanya Papa Elson mengikuti pembicaraan anak-anaknya
" Denna harus tinggal Pa, Bende tak bisa membawanya dulu. Ia akan kembali menjemput Denna jika urusannya selesai disana
" Memengnya urusan apa yang Bende lakukan Bend? " Papa Luke ikut penasaran
__ADS_1
" Entahlah, sebaiknya jangan memperpanjang ini. Jangan seperti wartawan begini " ucap Bendi sedikit kesal
...***...
Hari yang ditunggu pun tiba, semua keluarga telah berada di Bandara dengan jadwal penerbangan masing-masing kecuali Bende, ia mengambil rute penerbangan malam hari
Sepeninggal mereka, Bende masih terus mencoba membujuk gadisnya
" Bicara saja jika kau bosan denganku, bukankah sejak dulu aku hanyalah tawananmu? Kau bermaksud membebaskan ku bukan? " ucapan Denna lantas membuat Bende mengepal tangannya erat sedang Denna mencoba menahan tangisnya
" Apa yang kau katakan? " tanya Bende dengan sorot mata mengintimidasi
" Apa ini waktunya aku bebas dan pergi darimu? " tanya Denna perlahan dengan mata yang hampir menangis
" SUDAH BERAPA KALI KU KATAKAN JANGAN UCAPKAN KATA ITU DENNASTASYA YURA!! " Bende sangat sensitif terhadap kata yang membuatnya takut, terlebih itu keluar dari mulut wanita yang dicintainya
Luruh sudah pertahanan nya, air mata Denna mengalir sederas air terjun yang turun tanpa henti
" AKU TAKUT BENDEFIDH! " Balasan Denna tak kalah membentak
Dengan tubuh yang gemetar, air mata yang terus meluruh Denna menumpahkan semua ketakutannya hari itu
" JIKA KAU INGIN PERGI MAKA PERGILAH! TAPI BERIKAN AKU KEPASTIAN APA INI ADALAH CARAMU MENJAUH SETELAH LAMA KAU MENGIKATKU HIKSS.. " Denna berucap begitu lantang, bahkan sangat terdengar jelas di telinga Bende
" Hentikan! " ucapnya memeluk tubuh gemetar Denna, ia tak mau Denna melanjutkan ucapannya lagi
" Lepaskan aku huhu.. menyingkirlah! " ia terus berontak dalam dekapan Bende namun tenaganya tentu tak sebanding dengan tubuh kekar Bende
" Ku mohon jangan berfikiran sangat jauh " ucapnya lembut mencoba memberikan ketenangan untuk Denna
Cerita berlanjut dibawah ini 👇🏻
__ADS_1