
Matahari menjulang tinggi di langit, memancarkan sinarnya hingga menembus kaca ruangan sepasang manusia yang tengah terlelap
Cahaya mentari pagi menyilaukan pandangan Denna yang tengah tertidur, sedikit demi sedikit ia mengerjapkan matanya berusaha untuk mengumpulkan nyawa
Hembusan nafas seorang lelaki yang berada di kedua gundukan kenyal miliknya membuatnya sedikit heran, nafas itu terasa lebih hangat
Denna menundukkan kepalanya melihat seorang pemuda dengan bulu mata lentiknya tengah tertidur damai diantara squishy miliknya
" Bendefidh ayo bangunlah " ucapnya lembut dengan mengelus rambut pria pemilik mata biru itu
Denna sedikit terkejut saat menatap kening Bende yang terasa panas
" Bendefidh ayo bangunlah kenapa badanmu panas " ucap Denna sedikit panik
" Kepalaku terasa berat, biarkan seperti ini dulu sayang " ucap Bende dengan lemah dan memperdalam menyembunyikan wajahnya pada squishy Denna
Kali ini tak ada suara bariton, tak ada ucapan menyebalkan ataupun perkataan vulgar. Pria di hadapannya ini terlihat lebih lesu
" Kau demam? Berbaringlah aku akan mengompresmu dan memanggil dokter " ujarnya dengan mencoba membaringkan tubuh Bende
" Tidak mau, biarkan seperti ini. Aku nyaman " lirihnya dengan lemah dan mempererat pelukannya
" Ayolah Bendefidh kau sakit jangan seperti ini, jika kau tak mau menurut aku akan pergi dari sini "
__ADS_1
Sontak hal itu membuat Bende mengangkat kepala dan membuka matanya menatap Denna
Dengan mata yang sedikit sayu ia menatap lekat wajah gadis yang di cintainya
" Kenapa kau selalu membuatku takut, tidak bisakah kau mengancam hal lain? Jangan pernah katakan lagi jika kau ingin pergi, aku tak menyukainya " ucapnya lemah dengan mata sedikit memerah
Denna merasa bersalah atas ucapannya, sejujurnya tak ada niat begitu. Ia mengatakan hal itu agar Bende mau berbaring dan ia akan mengompresnya
" Kau tahu aku takut akan hal itu, hanya kau yang ku punya Denna " ucapnya lagi
" Maaf, aku tidak bermaksud begitu. Ku mohon berbaringlah sebentar aku akan mengambil air hangat " ucap Denna lirih
Bende menurut, ia berbaring dengan terlentang menuruti kemauan Denna, kemudian dengan sekejap mata gadis itu hilang dari pandangannya
" Aku menuang air dingin, Bendefidh sepertinya demam badannya sangat panas tante " jawab Denna sopan
" Bende demam? " tanya Mama Wina kaget yang di balas anggukan dari Denna
" Siapa yang demam? " tanya Bendi yang datang bersama Papa Elson dan Lexi
" Bendefidh kak, bisakah kakak menelepon dokter? Aku tak punya nomornya " pinta Denna pada Bendi
" Hah? Gunung es itu bisa demam? Sungguh aku sangat terkejut " ucap Lexi
__ADS_1
" Denna airnya sudah cukup, kembalilah ke kamar tante akan membuatkan bubur untuk Bende " ucap Mama Wina
" Ya, kembalilah ke kamarnya, aku akan menghubungi Willy " ucap Bendi yang dibalas anggukan oleh Denna
" Gadis itu terlihat panik saat ia tahu Bende demam " ucap Lexi sambil menatap kepergian Denna
" Ya kau benar, ia terlihat sangat khawatir " balas Bendi
" Saat pertama bertemu dengannya, aura positif dari gadis itu sudah dapat terlihat Bend. Aku dapat melihat ia gadis yang baik dan tulus " tambah Lexi lagi
" Hmm.. Itulah sebabnya Bende sangat mencintainya "
Sedangkan Papa Elson hanya diam menyaksikan obrolan mereka tanpa ikut bicara
" Dia adalah wanita beruntung, ia bahkan lebih dekat dengan Bende di bandingkan Mama " tambah Mama Wina mengikuti pembicaraan Bendi dan Lexi
" Mama Benar, bahkan Denna lebih tau banyak hal tentang Bende dari pada kita " ujar Bendi
" Kau tahu dude, ia tak akan menghindar jika seseorang tidak menyakitinya " balas Lexi
" Apa kau baru saja menyindir Papa, Lex? " ungkap Papa Elson
" Ah tidak " ucap Lexi menggaruk tengkuknya yang tak gatal
__ADS_1
Hallo readers, jangan lupa tinggalkan jejak yaa :)