Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Meminta Adil


__ADS_3

"Masih laper nggak?" tanya Adnan pada Putri. Ketika semua dessert yang mereka pesan telah habis.


"Saat ini kenyang mas, nggak tau nanti." ucap perempuan itu.


Adnan tersenyum.


"Ya udah nanti pesan lagi." ujarnya.


"Oh ya, aku mau kesana dulu bentar. Kamu tunggu disini ya." ujar Adnan.


Putri mengangguk. Adnan lalu meninggalkannya entah kemana. Mungkin ingin ke toilet atau merokok pikir Putri.


Perempuan itu tetap diam di tempat duduk, sebab ia agak kekenyangan. Ia kini mengambil handphone dan mencoba mengecek laman sosial media.


Beberapa menit berlalu, tiba-tiba Putri melihat sebuah buket bunga mawar merah di sodorkan ke arahnya dari samping. Putri terkejut menatap bunga itu, kemudian ia menoleh. Ternyata Adnan yang membawanya.


"Mas ini?"


"Buat kamu." ujar Adnan seraya menyerahkan buket bunga tersebut. Putri pun meraihnya, lalu ia tersenyum pada suaminya itu.


"Makasih ya mas."


"Aku yang terima kasih, karena kamu sudah mau mempertahankan anak kita. Aku nggak kebayang kalau sampai anak ini di gugurkan, mungkin aku akan menyalahkan diri sendiri seumur hidup."


Putri kembali tersenyum, lalu mengusap perutnya sendiri.


"Kamu tau kan, kalau banyak yang sayang sama kamu." ujar perempuan itu kemudian.


Adnan ikut tersenyum, dengan mata berkaca-kaca menahan haru.


"Abis ini nonton yuk!" ajak Adnan.


"Kita nggak balik-balik ke kantor nih?" tanya Putri.


"Hari ini aku mau menyenangkan hati kamu " ujar Adnan.


"Segini aja aku udah senang mas."


"Tapi aku yang merasa belum cukup." ucap pria itu.


"Ok, kita mau nonton dimana?" tanya Putri lagi.


"Aku yang menentukan atau kamu?" tanya Adnan.


"Ya udah aku aja ya." ucap Putri.


Adnan pun mengizinkan istri keduanya itu untuk memilih tempat. Putri segera menentukan, dalam hitungan menit mereka sudah tampak berada di mobil dan menyusuri jalan demi jalan.


Sesampainya disana, Adnan juga membiarkan Putri memilih film apa yang hendak ia tonton. Setelah sepakat, mereka membeli makanan dan minuman. Tak lama pintu teater pun dibuka dan mereka masuk kesana.


Putri menonton dengan antusias. Karena film itu bergenre drama komedi, keduanya lebih banyak tertawa. Adnan begitu bahagia melihat Putri bahagia. Apalagi dengan kebiasaan makan banyaknya itu. Adnan semakin suka melihatnya.

__ADS_1


Putri terus menonton, namun kemudian ia merasa haus dan hendak mengambil minuman. Tetapi yang ia pegang justru tangan Adnan. Adnan langsung menggenggam tangan Putri dan mengambil air minum lalu menyodorkannya ke bibir wanita itu. Sebuah perlakuan yang begitu manis dan hangat.


"Makasih mas." ucapnya pada Adnan.


Film terus berlanjut, hingga tanpa terasa akhirnya semua selesai. Keduanya keluar dari dalam bioskop dan menuju ke halaman parkir.


"Laper nggak?" tanya Adnan.


"Nggak mas, aku aja tadi ngabisin popcorn. Biasanya aku nggak gitu loh. Tiap habis nonton, pasti pop corn ku nyisa dan aku bawa pulang."


Adnan tertawa lalu membuka lock pintu mobil. Ia dan putri kemudian sama-sama masuk.


"Kita pulang ke kantor mas?"


"Ke apartemen kamu aja." ujar Adnan.


"Pengen istirahat aku." lanjutnya kemudian.


"Ok."


Untung saja tadi Putri membawa tas, hingga kunci apartemen dan segala barangnya pun terbawa.


***


Di lain pihak, teman-teman Anita sudah berhenti membahas ataupun bertanya perihal masalah rumah tangga perempuan itu.


Mereka kini hanya fokus untuk membawa segala tawa dan keceriaan. Mereka yang tadinya tak begitu sering mengobrol di jam-jam tertentu. Kini tampak lebih sering bercanda atau sekedar membeli makanan enak, agar menyenangkan hati Anita.


***


Adnan dan Putri tiba di apartemen. Putri membuka pintu unit, lalu mereka pun masuk ke dalam.


"Mas mau minum?" tanya Putri.


"Nanti aku ambil sendiri." jawab Adnan seraya melepaskan jas yang ia kenakan.


Putri ke kamar dan berganti pakaian, tak lama ia kembali ke dekat Adnan yang kini duduk di sofa. Ia duduk di samping pria itu. Adnan menariknya ke dalam pelukan, sambil mencium keningnya. Ada damai yang semakin merasuki batin Putri.


"Mas."


"Hmmm?"


Putri diam.


"Kenapa?" tanya Adnan sambil kembali mencium keningnya.


Putri berusaha keras menahan gejolak dalam dirinya yang sudah ia tahan sejak dua hari ini. Namun kemudian ia pun menyerah, ia menatap Adnan dengan nanar.


Seperti telah memahami betul keinginan seorang wanita, Adnan kemudian mencium bibir Putri. Putri membalas ciuman tersebut, sebab itulah yang ia inginkan.


"Hmmphcchh."

__ADS_1


"Hmmphcchh."


Kedua tangan Puteri mulai melingkar di leher sang suami. Adnan menarik Putri agar duduk di pangkuannya, sambil ia membuka kancing blouse wanita itu.


Tampak dua bongkahan kenyal menggantung di dada Putri. Sambil menatap mata perempuan itu, Adnan menghisap serta meremas salah satu bongkahan.


"Ah, maaas."


Putri menggoyang-goyangkan tubuhnya tanpa sadar. Sedang bagian sensitifnya kini menduduki bagian sensitif sang suami.


Pria itu kemudian membuka resleting celana yang ia kenakan, juga melucuti pakaian Putri. Hingga kini Putri benar-benar polos dan membuatnya kian bergairah.


Permainan pun berlanjut, Putri melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Yakni membuat sang suami semakin menegang dan mabuk kepayang.


Tak lama, rudal milik Adnan sudah menembus liang kenikmatan sang istri yang tengah hamil tersebut. Erangan dan racauan terdengar di segala penjuru.


Adnan dengan penuh keperkasaan dan tenaga yang besar, mendorong serta menghujam-hujamkan miliknya.


"Mas lebih dalam mas, masukin lagi."


"Nih kamu terima ini. Kamu mau ini kan, hmm?. Hmmh?


Permainan terus berlangsung, bahkan hingga waktu yang cukup lama. Setelah itu keduanya sama-sama mencapai ******* dan berteriak.


"Ah mas aku mau..


"Sama-sama sayang."


"Aaaaaaah."


Tubuh mereka menentang dan bergetar hebat seperti di setrum.


Adnan memeluk Putri dan begitupun sebaliknya. Sampai akhirnya mereka sama-sama berbaring di atas sofa.


"Mas, mas nginep sini kan?" tanya Putri kemudian.


Adnan diam dan menatap wanita itu.


"Aku pulang, Put." jawabnya kemudian.


"Kenapa nggak nginep, sehari aja mas."


Ucapan Putri tersebut terdengar penuh harap.


"Aku tau mas pasti mikirin mbak Anita, aku juga sadar posisi aku. Tapi aku juga istri mas, anak ini kan anak mas. Dia juga kangen, pengen di temani papanya. Pengen dijagain tidurnya sampai pagi."


Adnan memeluk dan mencium Putri.


"Iya, aku disini malam ini." ujarnya kemudian.


"Maafin aku ya, kalau aku belum bisa berlaku adil sama kalian berdua. Aku nggak pernah berfikir ataupun mengkhayal akan punya dua istri. Aku masih belum tau gimana caranya, supaya aku bisa adil antara kamu dan juga Anita. Aku harap kamu maklum, karena diantara kalian nggak ada yang aku benci. Kalau aku benci salah satu, mungkin aku akan berati disalah satu dari kalian. Tapi aku berat sama kalian dua-duanya."

__ADS_1


Putri menghela nafas sambil mengangguk. Adnan lalu memeluk istri keduanya itu dengan erat.


__ADS_2