Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Terasa Begitu Palsu


__ADS_3

"Nit, dibawah ada laki lo?"


Salah satu rekan kerja Anita memberitahu. Anita yang kaget kemudian berlari ke arah kaca. Ia menyaksikan Adnan yang berada di bawah, sambil membawa satu buket besar bunga mawar merah.


Dibelakang Adnan terdapat dua orang office boy yang bekerja di kantor tersebut. Mereka membentangkan sebuah baner bertuliskan, Happy Anniversary."


Para karyawan atau teman-teman kerja Anita yang menyaksikan hal tersebut, sontak bersorak sorai sambil bertepuk tangan.


"Dinner yuk...!"


Muncul baner satu lagi yang berisi ajakan. Bos Anita melihat semua itu. Para karyawan mendesak agar Anita dipulangkan cepat hari ini.


Bos Anita memberi izin, para karyawan kembali bersorak sorai. Mereka kegirangan dan menganggap jika ini adalah momen paling romantis yang pernah mereka saksikan. Anita berusaha tersenyum, para rekan kerjanya tak tahu perihal apa yang telah terjadi.


Bahwasannya Adnan telah melupakan hari pernikahan mereka, untuk pertama kali semenjak mereka mengikat janji 12 tahun yang lalu. Setelah Anita memposting di sosial media, barulah Adnan melakukan tindakan tersebut.


Semua orang tampak berbahagia untuk Anita, tapi tidak dengan Anita sendiri. Ia merasa Adnan kali ini begitu palsu dan terkesan memaksa diri.


Namun Anita adalah wanita yang mampu menyembunyikan permasalahan rumah tangganya dengan baik. Ia tak ingin ada yang tau kecuali dirinya, sang pencipta alam, dan juga Adnan sendiri.


***


Beberapa jam pun berlalu.


Anita memenuhi keinginan Adnan, yakni makan malam bersamanya. Setelah sebelum itu Adnan meminta ia untuk pergi ke salon yang sudah dibayari.


Anita menurut saja, ia tak ingin mencari ribut, meski hatinya masih terasa ada yang mengganjal. Anita pergi ke salon yang dimaksud, dan melakukan serangkaian perawatan selama beberapa jam disana.


Adnan sendiri sebenarnya merasa bingung, sebab Anita terlihat tak marah sedikitpun padanya. Jika pria lain mungkin akan tenang melihat hal tersebut, tapi tidak dengan dirinya. Justru ia makin dihantui perasaan bersalah.


Kini malam telah menyapa, Anita dengan dandanan yang begitu cantik duduk dihadapan Adnan. Ia tampak menikmati makanan, sedang Adnan memperhatikan wanita itu terus menerus. Sampai-sampai ia lupa untuk menyendok makanan yang ada di hadapannya sendiri.


Baru kali ini ia menyakiti Anita, selama menikah dengan wanita itu. Dan Adnan benar-benar menyalahkan dirinya sampai jauh.


"Nah ini restoran yang mami bilang. Di atas rooftop nya ini, bagus sekali kalau kamu sama Aaron mau mengadakan private wedding."


Tiba-tiba Adnan mendengar suara yang seperti ia kenal. Ia pun menoleh dan ternyata benar, itu adalah sosok ibu Aaron yang tampak berjalan bersama Putri.


"Degh."

__ADS_1


Batin Adnan bergemuruh, begitupula dengan Putri yang akhirnya tanpa sengaja menoleh ke arah Adnan dan juga Anita. Ibu Aaron sendiri tak melihat pada Adnan maupun istrinya.


Sedang Anita fokus pada apa yang ia makan. Ia tidak sadar akan kehadiran Putri. Putri kemudian berlalu bersama sang calon mertua, menuju ke lantai berikutnya.


"Sayang, aku ke toilet dulu ya." ujar Adnan.


Anita mengangguk, Adnan pun buru-buru pergi kesana. Sejatinya ia bukan hendak buang air kecil atau apapun itu. Ia hanya ingin menghubungi Putri.


"Hallo, Putri."


Telpon tersambung, Putri mengangkatnya di posisi yang agak jauh dari ibu Aaron.


"Iya pak." jawab Putri.


"Kamu kenapa udah keluar rumah lagi?. Bukannya istirahat dulu. Kamu itu belum bener-bener pulih loh."


Adnan berujar dengan nada seperti marah namun terlihat begitu khawatir.


"Pak, saya ini udah nggak apa-apa." jawab Putri Lagi.


"Dan saya keluar karena saya memang lagi pengen makan sesuatu. Kebetulan mamanya Aaron tadi ngajakin kesini." lanjutnya kemudian.


"Kan kamu bisa bilang ke saya kalau mau makan sesuatu, nanti saya kirim ke apartemen kamu."


Adnan menghela nafas, ia mencoba menahan segala keegoisan yang ia miliki. Ia juga mengingatkan dirinya jika saat ini ia dan Putri tak memiliki hubungan apa-apa. Hingga ia pun sejatinya tak berhak mengatur-atur hidup Putri.


"Ok, kalau ada apa-apa kabari saya." ujar Adnan lagi.


"Iy pak."


Adnan menyudahi panggilan tersebut, lalu kemudian ia kembali pada Anita. Sedang kini Putri kembali duduk di hadapan ibu Aaron.


"Siapa Putri?. Aaron?" tanya ibu Aaron pada calon menantunya itu.


"Bukan mi, Shanin." dusta Putri.


"Oh, kenapa dia?"


"Nanyain Putri lagi dimana." Lagi-lagi Putri berdusta.

__ADS_1


"Oh, ayo pilih menunya. Kamu mau makan apa saja, ambil nggak usah ragu. Mami yang traktir." ujar wanita itu.


"Iya mi." jawab Putri Kemudian.


***


"Udah mas?" tanya Anita pada Adnan.


"Udah." jawab Adnan lalu duduk dan melanjutkan makan.


Adnan tak tahu jika Anita tadi sempat hendak ke toilet. Ia melihat Adnan yang sibuk entah menelpon siapa. Adnan kemudian berbalik setelah itu, tanpa ke toilet terlebih dahulu. Melihat Adnan yang bergerak, Anita buru-buru kembali dan menunda dulu keinginannya.


Anita tau jika saat ini Adnan tengah menyembunyikan sesuatu darinya. Meski ia tak tau itu apa. Ia hanya berharap, jika Adnan tak terus membohongi dirinya seperti hari ini. Sebab begitu sakit menyaksikan orang yang kita sayangi berbohong pada kita.


***


Esok hari.


"Put kemana aja lo, baru keliatan."


Rekan kerja Putri mengerubungi dirinya, ketika akhirnya ia kembali masuk ke kantor. Putri sendiri tak ada memberitahu teman-temannya perihal ia masuk rumah sakit selama beberapa waktu belakangan ini. Ia tidak mau rahasia kehamilannya terbongkar di hadapan mereka semua.


"Enak ya lo, udah dapat tugas luar kota dari pak Adnan."


Salah satu karyawan yang lain ikut nyeletuk. Putri diam, ia kini sadar jika Adnan telah menjadi tameng bagi dirinya. Dengan mengatakan jika Putri mendapat tugas untuk ke luar kota.


Putri menjadi sedikit lega. Lantaran ia tak harus mencari alasan untuk menjawab pertanyaan seperti kemana, dimana, dan mengapa.


"Iya kebetulan aja gue dikasih tugas. Buat gantiin kesalahan gue yang kemarin-kemarin." Putri berkilah sambil tersenyum.


"Ada oleh-oleh apa, Put?" tanya temannya lagi.


Putri mendadak sedikit gelagapan.


"Mmm, besok ya." ujarnya kemudian.


"Soalnya hari ini mau buru-buru ngantor, takut dimarahin lagi sama pak Adnan. Jadi lupa deh gue bawa oleh-olehnya." ujar Putri.


"Ya udah besok ya Put, ditunggu." ujar yang lainnya lagi."

__ADS_1


"Ok." jawab Putri.


Padahal tak ada oleh-oleh apapun, sebab dirinya juga tidak pergi kemanapun dan tidak belanja barang satupun. Namun setidaknya ia bisa memesan secara online dan berpura-pura itu adalah oleh-oleh yang ia bawa.


__ADS_2