Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Lega


__ADS_3

Dokter Matt mengangguk, ketika Finn menatap dirinya seolah meminta sebuah persetujuan. Remaja itu pun lalu mendekat ke arah Putri, yang sejak tadi menunggunya.


Dokter Matt mengatakan sebelum itu pada Putri, jika Finn ingin bertemu dengannya. Kini dihadapan wanita itu, Finn berdiri.


"Duduk." ujar Putri sambil coba tersenyum tipis pada Finn.


Finn pun lalu duduk dihadapan wanita itu, sementara dokter Matt meninggalkan ruangan.


"Dokter Matt bilang, katanya kamu mencari saya." ujar Putri pada remaja itu.


"Iya, saya mau minta maaf atas nama ayah saya." ujar Finn pada Putri.


Wanita itu kini menatap Finn.


"Kamu...?" ujarnya kemudian.


"Saya tau apa yang terjadi terhadap anda, adalah kesalahan ayah saya. Tapi saya mau meminta maaf mewakilkan dia. Saya takut ayah saya nggak tertolong, dan pergi dengan membawa kesalahan."


Finn menunduk saat mengatakan itu semua. Ia terlihat sangat tegar, bahkan melampaui usianya sendiri. Namun Putri bisa melihat kesedihan yang berusaha keras disembunyikan oleh remaja itu.


"Finn, saya pribadi sudah memaafkan semua itu."


Putri membuat Finn mengangkat kepala dan menatapnya.


"Kamu nggak usah takut, saya juga akan mencabut semua tuntutan saya." lanjut Putri kemudian.


"I, ini serius mbak?" tanya Finn dengan mata berkaca-kaca menahan tangis. Putri mengangguk sambil coba tersenyum.


"Saya sudah pikirkan itu matang-matang. Dan lagi pula nggak ada gunanya kalau kasus ini saya bikin jadi panjang. Saya dan ayah bayi yang sedang saya kandung, kami mau menerima bayi ini."


Finn bernafas lega, kedua sudut mata remaja tampan itu tampak basah.


"Saya nggak tau harus ngomong apa lagi mbak, saya..."


Finn sedikit terisak. Putri memegang tangah remaja itu dengan erat.


"Kamu nggak usah takut, saya nggak akan berubah pikiran. Saya akan segera membicarakan hal ini kepada pengacara saya." ujar Putri lagi.


"Saya benar-benar berterima kasih mbak, terima kasih banyak atas kebaikan mbak kepada ayah saya. Kalaupun ayah saya akhirnya nggak bisa tertolong, paling tidak dia bisa pergi tanpa membawa beban."


Putri mengangguk.


"Kamu nggak usah pikirin lagi ya. Kamu sekarang tinggal sama siapa?" tanya Putri.


"Sama om Matt dan keluarganya." jawab Finn.


Putri tersenyum dan terus memegang tangan pemuda itu.


***


"Saya mewakili dokter Fadly, mengucapkan terima kasih atas kebaikan mbak Putri."

__ADS_1


Dokter Matt berujar, ketika ia akhirnya kembali dan berbicara pada Putri. Sementara Finn sudah disuruh pulang olehnya. Sebab remaja itu belum sembuh benar dan harus banyak istirahat.


"Sama-sama, dok. Saya rasa udah nggak penting lagi tuntutan itu. Saya nggak mau memperpanjang masalah."


"Terus, soal bayi ini?" tanya dokter Matt pada Putri.


"Saya dan pak Adnan mau merawat bayi ini."


Dokter Matt bernafas lega.


"Syukurlah kalau begitu mbak. Soalnya saya..."


Dokter Matt menarik nafas.


"Saya jadi nggak menyimpan beban lagi." ujar pria itu kemudian.


"Maksud dokter?" tanya Putri tak mengerti.


"Kalau menurut hukum dan medis. Di usia kandungan mbak Putri yang sekarang, sudah tidak memungkinkan lagi untuk di aborsi."


Kali ini Putri yang menghela nafas.


"Saya sudah tau soal itu koq, dok. Pengacara saya sudah memberitahu saya. Awalnya saya sempat agak kecewa, karena belum tau arah mana yang akan saya ambil. Tapi sekarang semua sudah jelas, saya mau anak ini tetap hidup." ujar wanita itu.


Dokter Matt mengangguk-anggukan kepalanya. Ia merasa benar-benar lega dan seperti mendapatkan udara yang sama sekali baru. Ia bersyukur dua masalah sudah terselesaikan hari ini dengan baik.


***


"Hei, kenapa nangis?" tanya nya pada sesosok bayi mungil yang lucu.


Namun bayi itu tetap saja histeris. Adnan lalu meraih dan menggendongnya, hingga kemudian bayi itu diam.


"Pak."


Sekretaris Adnan masuk ke ruangan, dan membuyarkan lamunan serta khayalan pria itu. Namun ia kini jadi senyum-senyum sendiri. Sebab betapa menyenangkannya mengkhayalkan bercengkrama dengan anak sendiri.


"Iya ada apa?" tanya Adnan pada sekretarisnya itu.


Sang sekretaris pun menjelaskan maksud kedatangannya. Yakni meminta sebuah tanda tangan pada Adnan. Adnan pun memberikan hal tersebut dan kemudian berkata pada sekretarisnya itu.


"Kamu pesenin makanan ya, di ayam bakar depan. Untuk semua karyawan yang kerja disini." ujar Adnan.


Sekretaris itu pun terkejut.


"Seriusan pak?" tanya nya tak percaya.


"Iya serius." jawab Adnan.


"Seluruhnya, sebanyak ini?. Di ruangan kita ini?"


"Iya, pesan sana!. Boleh campur-campur sama makanan dari tempat lain koq. Kalau mereka nggak sanggup memenuhi kuota permintaan kita."

__ADS_1


"Serius pak?" tanya sekretaris itu sekali lagi.


"Iya serius, masa saya bercanda." ujar Adnan.


"Nanti bayarnya gimana pak?"


"Pake dana pribadi saya, bukan pake uang kantor." ujar Adnan.


"O, ok pak."


"Agak di buru ya. Biar nanti pas makan siang, semua sudah sampai."


"Baik pak, siap laksanakan."


Sekretaris tersebut berucap dengan penuh semangat. Tak lama ia pun kembali ke meja tempat dimana ia bekerja dan segera melaksanakan perintah Adnan. Ia memesan makan siang untuk seluruh karyawan yang ada.


***


"Pak Adnan tumben traktir kita."


Bisik salah seorang karyawan pada temannya, ketika makanan tersebut telah tiba dan mereka makan siang bersama.


"Mungkin ini sebagai tanda perkenalan dia ke kita, kan selama dia masuk kesini belum pernah berinteraksi banyak juga sama kita-kita." jawab karyawan yang lain.


Mereka semua terus berbincang soal Adnan, sedang Putri kini makan di meja kerjanya dengan lahap.


"Put, suka nggak makanannya?" Adnan bertanya di WhatsApp pada Putri. Putri pun lalu menjawab.


"Iya pak, suka koq. Yang lain juga pada suka, makasih ya pak."


"Iya, sama-sama. Kalau kurang nambah aja." Soalnya tadi pesen nya lebih dari jumlah karyawan yang ada disini."


"Iya pak, siap. Makasih ya pak."


"Sama-sama. Dia baik-baik aja kan?" tanya Adnan lagi.


"Baik, hari ini dia nggak rewel koq. Nggak bikin pusing." jawab Putri.


Adnan tersenyum membaca chat tersebut. Dalam hati ingin rasanya ia menghampiri Putri dan bertanya langsung perihal bayi nya itu. Namun hal tersebut sangat tidak mungkin untuk dilakukan. Mengingat ada banyaknya karyawan yang berada di gedung tersebut.


Bisa-bisa akan timbul pertanyaan, mengapa dirinya begitu dekat dengan Putri. Sedang ia sendiri baru menjadi bos di tempat tersebut.


"Titip dia ya, Put. Kalau ada apay tolong kabari saya segera. Kamu butuh apapun, tolong kasih tau saya. Biar saya carikan."


"Iya pak, tenang aja. Saya jaga dia dengan baik koq." jawab Putri lagi.


Adnan kembali tersenyum, lalu kembali mengirimkan sebuah balasan.


"Terima kasih ya, Put."


"Sama-sama pak." jawab Putri.

__ADS_1


__ADS_2