
"Bikin aja tuh si istri baru suami lo nggak nyaman. Biar kita depak seluruh pelakor di dunia ini."
Salah satu rekan kerja Anita yang bernama Firza mengatakan hal tersebut. Saat ini mereka tengah berada di jam istirahat.
"Masalahnya gue nggak tega, Fir. Gue emang nggak suka pelakor dan orang-orang yang mendukung tindak pelakoran. Mau di dunia nyata, di dunia fiksi, gue nggak suka. Kan banyak tuh pendukung cerita fiksi yang isinya pelakor. Pelakornya dianggap baik, istri pertama di sudutkan dengan segala kejelekan. Kemudian perselingkuhan suaminya dibenarkan dengan adegan mesra lemah-lembut."
"Bener banget. Padahal pelakor emang sengaja lemah lembut, supaya si laki-laki pro ke dia. Kan dia merebut, ya harus sedemikian rupa. Namanya juga merebut, dia akan mencitrakan dirinya lebih baik dari istri pertama. Biar dipilih dan duit ngalir terus." timpal Firza.
"Nah iya. Tapi masalahnya disini, Putri itu bukan pelakor yang dengan sengaja menggoda laki gue. Dia hamil karena inseminasi buatan yang salah sasaran."
Firza dan rekan kerja Anita yang lainnya terus memperhatikan. Anita kemudian menjelaskan lebih rinci lagi, kronologi kejadian sebenarnya kepada mereka. Dan mereka pun speechless untuk waktu yang cukup lama.
"Ih serem juga ya, rumah sakitnya." ujar mereka.
"Iya, dan tadinya juga Putri nggak mau nikah sama mas Adnan. Tapi gue juga ikut maksain laki gue, supaya menikahi dia."
"What?. Lo yang maksain laki lo supaya nikahin si Putri?" timpal Dini yang sejak tadi diam mendengarkan.
"Iya, karena di desak mertua gue dan gue juga pengen anak yang dikandung Putri itu selamat. Tadinya Putri berencana menggugurkan anak itu. Tapi menurut gue ya, sayang. Belum tentu kalau misalkan nanti mas Adnan melakukan inseminasi lagi, terus gue bisa hamil."
"Iya sih." ujar rekan-rekan Anita secara serentak.
"Duh rumit ya Nit, gue pikir suami lo sengaja main pelakor." ujar Tika.
"Iya, gue pikir juga gitu. Udah emosi tingkah Zeus aja gue." ujar yang lainnya lagi.
"Nggak, kalau sengaja mah udah lama gue labrak. Pas mereka nikah aja gue datang."
"Hah?" Rekan-rekan kerja Anita makin terperangah.
"Gila lo, kuat banget ya." ujar Firza lagi.
"Kalau gue udah pingsan-pingsan itu kali." lanjutnya kemudian.
"Gue udah meraung-raung mungkin." timpal Dini.
Sementara yang lain diam dan lebih banyak menunduk. Mereka miris pada kisah hidup Anita yang seperti telah di setting pencipta alam.
Mereka lanjut berbincang.
***
Sementara siang itu Adnan menemani Putri periksa kandungan. Sebab jadwalnya siang. Dan untungnya bertepatan dengan jam istirahat.
Putri harusnya periksa dengan dokter Matt. Tapi ternyata dokter Matt sedang tidak masuk, maka diganti oleh dokter lain.
Adnan melihat anaknya dari layar komputer yang ada. Hatinya diliputi perasaan gembira sekaligus haru. Tanpa sadar ia membelai kepala dan rambut Putri yang kini masih berbaring.
"Bayi nya sehat, tapi tekanan darah ibunya sedikit tinggi. Coba lebih rileks ya bu, dan jangan banyak pikiran. Kalau ibunya stress, itu akan berdampak buruk bagi janin." ucap dokter tersebut membeberkan hasil pemeriksaan.
Putri tersenyum.
__ADS_1
"Iya dok." jawabnya kemudian.
Usai pemeriksaan, mereka kini kembali masuk ke dalam mobil. Adnan jadi lebih banyak tersenyum kali ini.
"Mas kenapa?" tanya Putri sambil tersenyum pula.
"Boleh peluk nggak sih, aku seneng tau." ujar pria itu.
Putri mengangguk, lalu Adnan pun memeluk istri keduanya itu.
"Sayang kalian." Adnan mencium kening Putri, lalu mencium perutnya.
Mendadak hati wanita itu makin di penuhi rasa cinta.
"Oh ya, aku mau ajak kamu ke suatu tempat." ujar Adnan.
"Sekarang mas?" tanya Putri.
"Iya."
"Kemana?"
"Ada deh."
Adnan tersenyum lalu menghidupkan mesin mobil dan menginjak pedal gas. Putri tidak tahu kemana suaminya itu akan membawanya. Mereka menyusuri jalan demi jalan, hingga sampailah mereka pada suatu titik.
"Kamu udah pernah belum kesini?" tanya Adnan pada Putri.
"Iya emang."
Putri melihat-lihat ke sekitar. Itu adalah kawasan wisata kuliner yang tempatnya begitu aesthetic. Serasa tengah berjalan di Perancis jika melewati kawasan itu. Bangun-bangunnya meniru arsitektur bergaya Eropa. Serta mengusung konsep tempat semi outdoor yang rata-rata terlihat romantis.
"Yuk!" ajak Adnan kemudian.
"Tapi mas, kerjaan kantor?"
"Udah tenang aja, kan kamu jalan sama bos nya." ujar Adnan.
Putri tersenyum untuk yang kesekian kali. Kemudian ia pun keluar dari mobil lalu berjalan bersama Adnan.
"Kamu mau makan berat atau dessert." tanya Adnan.
"Dessert, mas."
Putri nyengir, Adnan pun menyetujuinya. Ia mengajak perempuan itu ke sebuah kafe yang memang menjual berbagai macam dessert.
"Kita duduk di luar aja ya." ujar Adnan.
"Ok."
Maka mereka pun duduk di luar, lalu pelayan mendekat dan memberikan buku menu. Aroma dari roti dan dessert menyeruak dengan kuat di sekitar tempat itu. Membuat bayi yang ada di perut Putri bereaksi dengan penuh semangat.
__ADS_1
"Duh wanginya. Pengen buru-buru makan mas."
"Ya udah pilih gih, mau yang mana." ujar Adnan.
Putri lalu menentukan pilihan, tak lama seorang pelayan datang. Putri memesan cukup banyak dessert, namun Adnan hanya memesan satu dan juga kopi. Sebab pria itu tak terlalu suka makanan manis dalam jumlah yang banyak.
"Wah, gila sih ini. Pasti enak."
Putri berujar ketika apa yang ia pesan itu tiba.
"Makan yang banyak." ujar Adnan.
Putri tersenyum lalu menyendok dessert berlapis coklat tersebut.
"Hmmh, enak banget mas. Sumpah."
Putri menyendok untuk yang kedua kali. Seperti kemarin ia makan banyak sekali, hingga membuat Adnan tertawa.
"Mas koq dessertnya cuma puding doang sama kopi. Disini mahal ya?. Terus mas mau ngirit gitu?" tanya Putri dengan sotoynya.
Adnan nyaris tersedak karena tertawa.
"Nggak disini murah-murah koq. Tadi di menunya ada harganya. 35, 40. Segitu-gitu."
"Kali aja 35 itu artinya 350ribu, 40 itu 400 ribu."
"Kalau dessert semahal itu, orang juga males belinya Put."
"Iya sih, terus kenapa mas cuma makan itu doang."
"Aku tuh nggak terlalu suka manis." jawab Adnan.
"Coklat gini nggak suka?. Enak loh mas."
"Iya, tau. Tapi kalau nggak suka gimana?"
Putri kembali menyendok dan,
"Aaa'k."
Ia mencoba menyuapi Adnan. Pria itu kemudian diam.
"Put, aku."
"Ayolah mas, ini permintaan anak kita loh."
Adnan menghela nafas, sambil tersenyum. Tak lama ia pun menerima suapan tersebut. Putri senang, Adnan berusaha keras menekan apa yang ia makan. Kemudian buru-buru meminum kopi pahitnya.
"Udah ya, jangan lagi." ujar pria itu.
Putri tertawa lalu lanjut makan.
__ADS_1