
"Haduh."
"Hahaha."
Tristan tertawa ketika mendengar curhatan dari Adnan. Mengenai bagaimana bersikap adil dan membagi waktu pada kedua istrinya.
"Gue belum pernah punya istri dua, bro. Jadi gue nggak mau sotoy memberi saran. Tapi kalau lo mau ngeliat contoh, gue punya partner bisnis yang punya bini empat."
"Hah, bininya empat?" Adnan kaget.
"Iya, empat. Dua ada sama dia tinggal dalam satu atap, dua lagi misah." ujar Tristan kemudian.
Adnan diam sejenak.
"Gila, partner bisnis lo yang mana sih?" tanya pria itu penasaran.
"Ada, namanya Abdul Ganta. Pengusaha lumayan sukses juga dan istrinya empat. Anaknya banyak banget, sumpah. Soalnya istri-istrinya nggak boleh pakai kontrasepsi dan dilarang keras melahirkan dengan cara caecar." jawab pria itu.
"Wah makin gila." ujar Adnan.
"Kalau bayinya sungsang gimana itu, nggak boleh caecar?" lanjutnya lagi.
"Nggak boleh, gimana caranya harus lahir." ujar Tristan.
"Sakit jiwa." Adnan kembali berkata sambil tertawa.
"Iya sih, nggak mikirin keselamatan istri dan anaknya. Tapi ada aja orang tua yang datang nawari anak gadis perawannya sama si Bedul." ujar Tristan lagi.
"Serius?" Adnan begitu tercengang.
"Serius gue, waktu itu ada berapa kali gue ke rumah dia soal kerjaan. Ada bapak-bapak datang, gue pikir bertamu biasa. Tapi ternyata bermaksud nawarin anak gadisnya buat jadi istri kelima, keenam. Kan soak ya otaknya?"
"Itu beda-beda orang?" tanya Adnan.
"Iya, ada beberapa bapak-bapak. Sumpah, baru itu gue ngeliat bapak-bapak memperdagangkan anak perempuan secara murah. Enak kalau nawarin doang, sampe mohon-mohon." ujar Tristan.
Adnan masih tercengang dan belum bergeming sedikitpun.
"Ada bapak yang model begitu?" tanya Adnan lagi.
"Ada, kayaknya faktor ekonomi deh." ujar Tristan lagi.
"Ya ekonomi sih ekonomi. Seharusnya sebagai bapak, elo tanggung jawab atas ekonomi keluarga lo. Kenapa jadi jual anak?"
__ADS_1
"Tau sendiri lah SDM kita, bro. Nikah asal nikah, tanpa persiapan finansial. Dengan anggapan akan ada aja rejeki nantinya. Punya anak sebanyak-banyaknya, tapi nggak mikirin dan merincikan biaya hidup dan pendidikan mereka. Gede dikit, anaknya dituntut memperbaiki ekonomi keluarga. Salah satu ya dengan memaksa anak perempuan nikah sama orang kaya, biar kecipratan duitnya. Nggak peduli jadi istri kesembilan sekalipun, yang penting kaya." Tristan berujar panjang lebar.
Adnan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa. Sejatinya ia miris dengan hal tersebut, namun tak ada yang bisa ia lakukan.
"Kalau lo mau nih, kita mampir aja ke sono ntar. Kali aja lo mau tanya-tanya gimana caranya dia bagi waktu buat keempat bininya itu. Siapa tau tercerahkan."
Adnan kembali tertawa bahkan ngakak.
"Gue penasaran sih, sama kehidupannya dia. Meskipun agak aneh menurut gue."
"Ya udah ntar gue temenin ke sana." ujar Tristan.
"Kita ngabisin kopi dulu." lanjutnya kemudian.
***
Seusai menghabiskan kopi, Tristan menelpon Abdul Ganta. Ternyata pria sok casanova itu sedang ada dirumahnya. Tristan menyatakan niat ingin mampir, dan to the point soal ingin mempertanyakan perihal poligami padanya.
Dengan senang hati Ganta menyuruh mereka datang, sebab ia merasa akan memiliki teman. Mereka pergi kesana dengan mengendarai mobil Adnan.
Sedang mobil Tristan ia suruh supir yang membawa pulang. Sebab di rumah Ganta, lahan parkirnya hanya cukup sedikit mobil. Bukan karena sempit, tapi ia memiliki banyak koleksi kendaraan mewah.
"Bro Tristan."
"Kenalin ini temen gue." ujar Tristan memperkenalkan Adnan pada Ganta.
"Ini yang punya istri dua?" tanya Ganta sambil tertawa. Tristan dan Adnan pun balas tertawa.
"Ayo mari-mari, duduk!"
Ganta mempersilahkan Tristan dan Adnan untuk duduk.
"Eh tapi mau di dalam apa disini?" tanya nya pada kedua orang itu.
"Disini ajalah." jawab Tristan.
Mereka memilih kursi yang ada di sebuah gazebo. Kebetulan rumah itu memiliki beberapa spot untuk duduk di luar.
"Mau minum apa?" tanya Ganta pada keduanya.
"Panas atau dingin?" Lanjutnya kemudian.
"Ah, dingin aja." ujar Tristan.
__ADS_1
"Adnan?" Ganta bertanya pada Adnan.
"Sama aja jawab Adnan.
Ganta memanggil salah seroang pembantunya. Ternyata pembantunya itu masih muda dan juga lumayan cantik.
"Lagi di prospek." ujar Ganta seraya melirik pembantunya itu, ketika telah jauh dan ketika pesanan minuman sudah di sebutkan.
Adnan dan Tristan hanya tertawa. Mereka lalu berbasa-basi sejenak. Sampai kemudian Tristan memasukkan obrolan yang intinya bertanya. Bagaimana membagi waktu untuk para istri.
"Kalau gue sih ya, seminggu-seminggu." ujar Ganta.
"Tapi lihat-lihat juga, datang bulan apa nggak. Kalau lagi datang bulan, ngapain kesana. Nggak bisa maju-mundur enak nanti."
Ganta berujar sambil tertawa-tawa. Sementara Adnan dan Tristan ikut tertawa hanya sebagai tanda menghargai. Apa yang dikatakan Ganta tak masuk dalam pikiran mereka. Sebab hal tersebut terkesan mau enaknya saja terhadap perempuan.
"Kalau masalah yang tinggal serumah ini gimana, bro?" tanya Tristan kepo.
Adnan sendiri masih fokus mendengarkan. Ia tak enak asal memberi pertanyaan, sebab belum kenal betul pada Ganta.
"Oh ya mereka dua-duanya melayani saya. Coba aja kalau bro Adnan mau merasakan seatap dua istri, enaknya double." jawabnya dengan nada penuh kemenangan.
"Sorry, kalau masalah begituan?" Tristan kembali bertanya.
"Ya saya gilir. Malam ini si pertama misalnya, malam ketiga yang kedua. Kalau saya lagi pengen saya ajak aja keduanya, toh dua-duanya istri saya."
"Mereka mau?" Kali ini Adnan bersuara.
"Ya harus mau apapun yang suami minta, kalau tidak nurut suami kan dosa."
"Tapi kalau misalkan istrinya tersiksa batin terus merasa nggak puas. Bukannya dosa juga ya?. Berarti suami dalam hal ini mendzalimi istri dan gagal dalam memenuhi nafkah batin istri." Adnan mulai berani mengemukakan pendapat.
"Oh dalam rumah tangga, istri itu mutlak dan wajib mengikuti segala keinginan suami. Suami mau salah atau apa, istri wajib ikhlas menerima." Ganta mempertahankan argumennya.
Adnan ingin menjawab, namun takut terjadi pertengkaran. Akhirnya pria itu hanya mendengarkan segala pendapat sotoy bin songong yang di kemukakan oleh Ganta.
Tak lama minuman datang, bertepatan dengan tibanya dua minibus di depan rumah. Ternyata itu adalah mobil yang membawa kedua istri serta anak-anak Ganta.
"Itu istri sama anak-anak gue." ujar Ganta bangga.
Adnan melihat mereka semua turun dari mobil. Mereka berjumlah sembilan orang dan masih kecil-kecil."
"Dari dua istri gue yang lain, ada lagi enam anak." Ganta kembali berujar.
__ADS_1
Anak-anaknya mulai menghampiri, ada yang pecicilan dan berlarian kesana-kemari. Membuat kepala Adnan seraya berputar-putar. Melihat kondisi Adnan yang seperti mau pingsan, akhirnya tak lama dari situ Tristan berpamitan pada Ganta.