Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Lima Puluh


__ADS_3

Pagi itu Larina tetap berangkat ke kantor. Karena dirinya pun masih harus menyelesaikan pekerjaan yang diminta oleh kepala divisi yang menaunginya selama ini.


Kepala divisi itu sangat baik padanya dan apa yang tengah ia kerjakan ini sangatlah penting. Tak bisa ditunda-tunda lagi dengan alasan apapun. Jika ia melakukan hal yang demikian, maka sudah barang tentu sang kepala divisi yang akan di semprot oleh Xander.


Larina hanya merasa bertanggung jawab atas pekerjaannya. Meski saat ini hatinya hancur lebur dan muak jika teringat akan wajah sang CEO.


Larina berangkat di jam yang sama setiap hari, tetapi tidak kali ini. Ia datang sedikit lebih siang karena berusaha mencari apotek yang menjual obat kontrasepsi darurat.


Meski telah memakan nanas cukup banyak, tetapi ia merasa tak begitu yakin. Seperti dugaannya sebelum itu, hampir semua apotek yang ia datangi tak mau menjual obat tersebut secara bebas.


Alasannya tentu saja karena obat tersebut merupakan obat keras dan harus disertai dengan resep dokter. Lagipula mereka tak bisa sembarangan memberi kepada konsumen.


Sebab bisa saja di salah gunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Ingin menghabisi nyawa janin yang tengah dikandung misalnya. Tentu hal ini akan sangat beresiko sekali bagi konsumen.


"Hhhh, nggak ada lagi."


Larina menggerutu kesal. Ia kini menaiki taksi online yang ia pesan. Di sepanjang perjalanan dirinya lebih banyak diam, bahkan pikirannya melayang hingga jauh.


Ia terus kepikiran bagaimana kemarin Xander memasukkan benda tumpul miliknya dan memompa dengan penuh keperkasaan.


Larina juga teringat pada Kenzo, saat mereka sering bercinta. Sakit sekali rasanya mengingat dua kejadian tersebut. Pada Xander ia sangat membenci, dan teruntuk Kenzo ia sedih. Larina benar-benar berada di dalam dilema yang tak biasa.


Cerita tentang tindakan abusive dan pelecehan di dunia kerja, memang bukanlah hal baru bagi kaum perempuan. Isu ini sudah sangat lama sekali dibahas, namun tak pernah ada upaya yang benar-benar bisa dijadikan perlindungan.


Ketika hendak mensahkan undang-undang terkait saja misalnya. Masih banyak pertentangan bahkan oleh kaum perempuan itu sendiri. Banyak diantara mereka yang malah membela pelaku kejahatan seksual dan bersama-sama menyudutkan korban.


Apalagi jika pelaku memiliki power serta uang yang tidak sedikit. Akan lebih sulit lagi untuk dihadapi di muka hukum. Sebab hukum masih banyak yang bersifat keberpihakan.


Dimana yang lemah dan tak memiliki uang, yang selalu menjadi korban. Dan barang siapa yang memiliki kuasa, maka ia akan dengan mudah di loloskan.


"Pak, saya mau nanasnya dong tiga."


Larina berkata pada tukang buah potong yang selalu mangkal di dekat kantor. Maka penjual buah potong itu mengambil tiga nanas untuk Larina dan memberikannya.


Perempuan itu kemudian makan di tempat, sampai habis dua potong. Ia tak tau jika ada sepasang mata yang memperhatikan dirinya. Sepasang mata yang sama seperti kemarin.


Larina kemudian pergi makan siang, karena ini sudah masuk jam istirahat. Meski nafsu makannya sendiri tak begitu baik. Ia ingin terlihat seperti tak pernah terjadi apa-apa pada dirinya. Sebab ia takut mengundang pertanyaan sekitar.


***


"Pak."


Seorang kepercayaan Xander di kantor mengejutkan pria itu. Sontak saja Xander langsung menoleh.


"Ardi?. Ngapain kamu disini?" tanya Xander pada orang kepercayaannya tersebut.

__ADS_1


"Lah ini kan jam makan siang. Bapak ngapain berdiri disini?" Ardi balik bertanya.


Kemudian matanya menangkap Larina di kejauhan. Tampak perempuan itu duduk di hadapan seorang penjual gado-gado yang juga biasa mangkal di depan kantor.


"Bapak ngeliatin Larin?" tanya nya sambil tertawa.


Ardi yang masih muda itu terkadang memang bersikap layaknya seorang anak kepada Xander. Ia tak segan menanyakan hal-hal yang terkadang segan ditanyakan oleh orang lain.


"Ya saya ngeliatin sekitar, pasti semua tertangkap oleh mata dong." Xander berkilah.


Ardi tertawa.


"Ya udah deh, saya izin mau makan siang dulu ya pak. Permisi!"


"Oke." jawab Xander.


Kemudian Ardi pun berlalu, dan Xander menerima telpon dari seseorang.


***


"Sayang, udah makan siang."


Sebuah pertanyaan masuk ke handphone Larina melalui WhatsApp. Nafsu makan Larina yang tak begitu baik menjadi semakin berantakan.


Sebab itu adalah pesan dari Kenzo. Dan setiap kali teringat akan kekasihnya tersebut, ia jadi teringat pula pada peristiwa memilukan kemarin. Ia kembali dilanda rasa bersalah yang begitu besar terhadap Kenzo.


"Kamu lagi apa?" lanjut perempuan itu.


"Biasa, lagi ngerjain tugas kantor. Biar besok udah kelar semua." balas Kenzo.


"Semangat ya." balas Larina masih dengan wajahnya yang nyaris tanpa ekspresi.


"Iya sayang, makasih. Kamu kerja?" tanya Kenzo.


"iya, ini aku kerja." jawab Larina.


"Gimana disana, enak kan?. Xander baik kan orangnya?"


Pertanyaan tersebut seolah menusuk batin Larina dengan pisau. Sebab Kenzo tak tau perihal apa yang telah diperbuat oleh temannya tersebut.


Tanpa terasa air mata Larina mengalir, namun buru-buru ia hapus. Mengingat ada cukup banyak karyawan yang saat ini juga tengah membeli gado-gado di tempat tersebut.


"Aku nggak salah menitipkan kamu disana. Xander itu salah satu teman yang nggak pernah ada masalah sama aku. Dia orangnya baik banget."


Lagi-lagi Kenzo memuji Xander dan itu sangat-sangat melukai hati Larina. Hingga terasa seperti tercabik-cabik dan nyaris hancur.

__ADS_1


"Oh ya, kamu udah makan?"


Larina mengalihkan topik pembicaraan.


"Udah." jawab Kenzo.


"Tadi aku masak." ujarnya lagi.


Larina berhasil mengalihkan perhatian sang kekasih.


"Kamu masak apa?. Sendiri?" tanya Larina lagi.


"Iya dong, sendiri lah pastinya. Kan nggak ada mbak disini." jawab Kenzo.


"Aku masak nasi sama tempe orek, sayur pok coy bawang putih." lanjutnya lagi.


"Emang bisa?" Lagi-lagi Larina bertanya.


"Bisa, liat di YouTube. Hehehe." balas Kenzo.


"Wah kamu semenjak tinggal sendiri jadi banyak bisanya." tulis Larina.


"Ular dong aku, kalau banyak bisanya." jawab Kenzo.


"Wkwkwk." tulis Larina lagi.


Ia agak sedikit lupa pada masalah yang tengah ia hadapi. Mereka kemudian lanjut berbincang hingga beberapa saat ke depan.


***


Waktu berlalu, suasana kantor kembali senyap. Semua orang telah kembali masuk dan fokus pada pekerjaan masing-masing.


Tak lama seorang perempuan beserta satu asisten dan satu orang seperti bodyguard memasuki kantor Xander. Mereka berjalan berdampingan hingga mengundang perhatian para karyawan.


"Itu tuh yang katanya bakal dijodohin sama pak Xander."


Amel nyeletuk pada Wina dan karyawan lain yang ada di dekatnya. Termasuklah Larina.


"Dari mana lo tau kalau itu ceweknya?" tanya Wina kemudian.


"Desas-desusnya sih gitu." ucap Amel.


"Tau bener apa nggak." lanjutnya lagi.


"Cantik sih, tapi judes banget kayak mak Lampir." seloroh Wina.

__ADS_1


"Hush."


Karyawan lain berujar serentak seraya tertawa. 


__ADS_2