
"Jangan mabuk lagi, pulang ke rumah!."
Dokter Joe memberi perintah kepada anaknya dokter Matt, yang kini baru saja menyelesaikan jadwal praktek. Tadi ada sempat ia istirahat sejenak di rumah, sebelum akhirnya kembali bekerja.
Aturan jika ia tidak mabuk semalam, itu bisa menjadi waktu istirahat yang panjang untuknya. Tapi ia lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama Anita, ketimbang pulang dan beristirahat di rumah.
"Iya pa, Matt paling mampir ke kafe dan ngopi bentar." ujar Matt.
"Ngopi beneran ngopi, jangan bilang ngopi tapi beda yang diminum."
"Nggak koq pa."
"Ya udah, hati-hati di jalan." ujar dokter Joe lagi.
"Iya pa." jawab dokter Matt.
Dokter Joe menyudahi telponnya, dan kini dokter Matt melangkah menuju ke halaman parkir. Pria tampan itu kemudian masuk dan menghidupkan mesin mobil. Sesaat kemudian ia pun tancap gas, meninggalkan pelataran parkir rumah sakit.
Ia mulai membuka google map, dan mencari rute ke arah sebuah kafe yang tadi ia sempat cari di halaman yang sama.
Berdasarkan apa yang ia lihat, kafe tersebut memiliki rating yang tinggi yakni 4,9. Maka dokter Matt ingin mencoba minuman yang ada di sana.
Ia mulai mengikuti arahan google map dan dalam waktu hanya beberapa menit saja, ia telah sampai ke tempat yang di maksud.
Dokter Matt keluar dari dalam mobil yang kini sudah terparkir. Agak sulit memang mendapat lahan, mengingat parkiran kafe tersebut tidak terlalu luas dan pengunjungnya hari itu cukup banyak.
Tapi beruntung dokter Matt mendapat tempat meski agak jauh. Dokter itu kini berjalan masuk ke dalam kafe. Namun tiba-tiba matanya tertuju pada seorang wanita, yang kebetulan juga tanpa sengaja sedang melihat ke arahnya.
"Dokter Matt?"
"Mbak Anita?"
Keduanya sama-sama tersenyum. Dokter Matt mendekat.
"Mbak Anita sama siapa?" tanya nya kemudian.
"Sendiri, dokter?"
"Sendiri juga." jawab dokter Matt
"Mmm, boleh saya?"
"Oh silahkan." jawab Anita dengan pasti.
"Terima kasih."
Dokter Matt lalu duduk di hadapan wanita itu.
"Mbak Anita pulang kerja?" tanya nya lagi.
"Iya, dokter juga kan?" Anita balik bertanya.
"Iya." jawab dokter Matt.
__ADS_1
Jujur sejatinya mereka agak canggung pasca kejadian mabuk bersama malam lalu. Namun mereka juga sekarang sudah berteman, jadi semuanya tidak begitu jadi masalah.
"Selamat sore, mau pesan apa kak?"
Seorang pelayan mendekat.
"Oh iya."
Dokter Matt melihat menu dan memesan minuman yang ia inginkan.
"Mbak Anita ada yang mau di pesen lagi nggak?" tanya nya kemudian.
"Ee, nggak. Nanti aja, mau abisin ini dulu." jawab Anita.
"Ok, itu aja dulu mbak." ujar dokter Matt pada si pelayan. Kemudian pelayan itu pergi, dokter Matt dan Anita kembali terlihat perbincangan.
***
Menjelang jam 7 malam, Adnan menjemput Putri di apartemen. Mereka akan menyambangi kediaman orang tua Adnan. Untuk memenuhi undangan makan malam, yang sejatinya sangat malas bagi Adnan untuk di penuhi.
"Mas, aku gini aja nggak apa-apa ya?" ujar Putri dengan setelan kemeja, celana bahan namun body fit, serta dilapisi oleh blazer berbahan lembut. Ia terlihat sederhana dan manis.
"Iya, kayak gitu aja udah. Lagipula bukan dinner resmi, cuma acara makan keluarga."
Adnan memakaikan seat belt untuk Putri. Putri sempat tertegun beberapa detik demi melihat perlakuan suaminya tersebut. Aaron belum pernah melakukan hal itu padanya.
Bukan karena Aaron cuek. Melainkan karena mereka berangkat dari sahabat, kemudian menjadi sepasang kekasih.
Bagi Putri apa yang dilakukan Adnan barusan cukup berlebihan, mengingat ia bisa memasang seat beltnya sendiri. Namun itu menjadi suatu hal yang manis terasa.
"Kita jalan ya." ujar Adnan.
"Iya mas." jawab Putri.
Maka mobil itu pun mulai merayap menyusuri jalan demi jalan.
***
Sementara di kafe.
"Mbak Anita udah makan belum?" tanya dokter Matt pada wanita itu.
"Belum dok, tadi pulang kantor langsung kesini."
Anita sedikit berdusta, padahal sejatinya tadi ia pergi dulu ke supermarket. Bermaksud ingin belanja namun gagal. Lantaran mendapat kabar dari sang suami, mengenai undangan makan malam dari sang ibu mertua. Namun tertuju khusus pada menantu baru dan bukan dirinya.
"Makan yuk!" ajak dokter Matt kemudian.
"Mmm, saya belum laper dok." ujar Anita.
"Belum laper atau cuma lagi kepikiran masalah aja?"
Dokter Matt membidik tepat sasaran. Sebab itulah yang menjadi penyebab Anita enggan mengisi perutnya dengan makanan saat ini. Hati wanita itu telah dilukai oleh keluarga Adnan untuk yang kesekian kali.
__ADS_1
Ia tidak menyalahkan Adnan serta Putri dalam hal ini. Hanya menyayangkan sikap keluarga dari suaminya itu, yang terkesan sangat membeda-bedakan.
"Makan ya." ajak dokter Matt lagi.
"Saya juga banyak pikiran koq saat ini. Tapi tubuh kita tetap butuh makan."
Pria itu kembali berkata. Anita sedikit menunduk dan menarik nafas dalam-dalam.
"Ok deh." ujarnya kemudian.
"Mau makan disini atau ditempat lain?" tanya dokter Matt.
"Tempat lain?" Anita balik bertanya.
"Iya, siapa tau mau ganti suasana." ujar pria tampan itu lagi.
"Emang dokter Matt punya rekomendasi tempat?" tanya Anita.
"Ada dong, cari di google." jawab dokter Matt.
Keduanya bersitatap, lalu tersenyum satu sama lain.
"Di tempat lain juga boleh." jawab Anita.
"Ok, saya yang cari tempat ya." ujar dokter Matt kemudian.
"Ok." Anita kembali menjawab.
Maka dokter Matt mulai mencari tempat makan yang memiliki rating tinggi di google. Ada banyak informasi yang ia dapatkan, namun hanya sedikit yang lokasinya benar-benar dekat.
"Kesini mau nggak?" tanya dokter Matt seraya memperlihatkan sebuah restoran yang ia pilih.
"Mmm, boleh ujar Anita.
"Ya udah, abisin dulu gih minumnya. Terus kita langsung jalan." ujar dokter tersebut.
Maka Anita mengabiskan minuman yang tadi ia pesan, begitupula dengan dokter Matt. Setelah itu mereka pun keluar dari tempat tersebut dan menuju ke tempat selanjutnya.
***
Suara air yang dituang dari botol ke dalam gelas, terdengar. Aaron yang melakukan hal tersebut langsung meminum sampai habis. Sementara Shanin yang ada di hadapan pria itu kini terdiam memperhatikan.
"Lo dari tadi udah minum banyak banget." ujar Shanin pada pria itu.
"Gue masih biasa aja koq, nggak ngerasa gimana-gimana." ujar Aaron.
Ia kembali membuang minuman beralkohol tersebut ke dalam gelas, lalu kembali menenggaknya.
"Lusa, gue balik ke London." ujarnya kemudian.
"Gue titip Putri, tolong jagain dia. Kasih kabar ke gue kalau dia ada apa-apa. Soalnya kalau gue hubungin dia terus, gue nggak enak sama suaminya." lanjut pria itu.
Shanin hanya diam, tidak mengiyakan, namun juga tak menolak permintaan tersebut. Ia hanya sedang kasihan pada Aaron saat ini.
__ADS_1