Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Gejolak Emosional


__ADS_3

"Pak, nggak usah."


Putri menghalangi Adnan yang kini tengah membersihkan apartemennya. Sudah sejak beberapa hari lalu apartemen tersebut tinggal dan keadaanya kini kotor.


"Udah nggak apa-apa." jawab Adnan.


"Kamu butuh ruangan yang steril." lanjutnya kemudian.


Putri tak bisa menghalangi pria itu, juga tidak bisa membantu. Sebab dari tadi Adnan melarangnya kemana-mana, selain duduk di sofa. Adnan tak mau jika Putri mengalami kelelahan lagi. Maka Putri pun hanya bisa menonton dari tempat dimana ia kini berada.


Adnan membereskan debu dan kotoran di setiap sudut. Putri sendiri kaget ada laki-laki yang begitu pembersih seperti Adnan. Ia pikir itu cuma ada di film-film. Aaron sendiri saja jika disuruh beres-beres, pasti sudah bersin duluan berkali-kali.


Tapi pria ini lain, mendadak Putri merasakan getaran di perutnya. Seolah sang anak tau jika saat ini hati Putri sedang terkagum-kagum pada Adnan.


"Kamu kenapa ngeliatin saya kayak gitu?" tanya Adnan pada Putri, ketika ia menyadari jika dirinya tengah diperhatikan.


"Nggak apa-apa, lucu aja." jawab Putri lalu tertawa.


Itu adalah tawa terlepas yang pernah dilihat Adnan dari Putri, sejak mereka saling mengenal.


"Lucu kenapa?. Emangnya muka aku kayak komedian?" seloroh Adnan sambil terus mengelap debu, bahkan pada vas bunga sekalipun.


Putri kembali tertawa.


"Ya, jarang-jarang aja gitu pak. Cowok bisa beres-beres rumah." ujarnya kemudian.


"Ah banyak koq cowok yang bisa beresin rumah, masak, dan lain-lain. Kamu aja mungkin yang nggak pernah ketemu." ujar Adnan.


"Iya kali ya." jawab Putri.


Adnan lanjut beres-beres, sedang Putri terus mengagumi ayah dari bayinya tersebut.


***


Beberapa saat berlalu, Adnan telah menyelesaikan semuanya. Bahkan tadi ia meminta izin untuk membersihkan kamar Putri. Putri pun mau tidak mau harus menyetujui hal tersebut. Sebab ia masih ingin melihat ayah dari bayinya itu berlama-lama di apartemennya.


Entah mengapa perasaan itu muncul begitu saja. Sebab melihat Adnan, kini menjadi sumber energi tersendiri bagi putri.


Kamar Putri tersebut akhirnya beres. Seprai serta sarung bantal dan bedcover nya pun sudah diganti. Kini Putri tengah beristirahat disana, sebab Adnan yang memintanya.


"Putri."


Adnan menongolkan kepalanya di pintu kamar Putri.


"Iya pak." jawab Putri.


"Itu saya ada beli makanan. Kalau kamu laper lagi, kamu bisa makan."


"Oh, bapak beliin saya?"


"Iya, itu di meja makan. Saya mau pulang dulu." ujar Adnan.

__ADS_1


"Pu, pulang pak?"


"Iya, saya ada janji sama Anita soalnya."


"Oh." jawab Putri dengan kekecewaan yang tertahan.


Entah mengapa rasa itu mendadak muncul dan menguasai hatinya.


"Ok pak." Putri kembali berujar.


Suaranya sudah tidak bersemangat seperti sebelumnya. Adnan bersiap, ia kembali memakai jas yang tadi sempat ia lepaskan. Lantaran harus membereskan apartemen Putri.


"Saya jalan ya, Put."


Adnan pamit.


"Iya pak." jawab Putri.


Adnan berbalik dan melangkah.


"Pak, anak bapak mau di sayang ayahnya dulu."


Adnan tersentak, sementara Putri kini mencoba mengambil nafas. Ia tak menyangka jika telah berani mengatakan hal tersebut.


Dengan tubuh masih gemetar lantaran mendadak begitu emosional, Adnan berbalik dan segera menghampiri Putri. Pria itu kemudian secara serta merta mencium bayinya yang ada di perut Putri.


Putri terdiam dengan jantung yang berdegup kencang. Ia melihat Adnan mencium bagian perutnya cukup lama. Dan itu berlangsung lebih dari satu kali.


"Ayah sayang kamu." ujar Adnan sakan berbicara dengan bayinya.


Lantaran Putri teringat pada nasib Aaron dan hubungan mereka kelak. Tetapi ia juga memiliki rasa untuk tidak mau mengugurkan bayi itu, karena kini ia mulai memiliki rasa sayang.


Tapi bila tidak digugurkan bagaimana, hal besar apa yang akan terjadi kemudian. Di gugurkan pun nantinya juga akan bagaimana. Semua serba salah.


Adnan menghela nafas, kini pria itu menatap Putri. Dengan salah satu tangan yang masih mengusap-usap bayinya.


"Makasih ya, Put." ujarnya kemudian.


Putri pun mau tidak mau mengangguk, sebab ialah yang memulai perkara ini. Adnan tersenyum, lalu kembali mencium bayinya dan berkata.


"Ayah pulang dulu ya, nanti ayah kesini lagi."


Adnan menyudahi hal tersebut meski masih sangat ingin berada disana. Pria itu lalu beranjak, namun matanya dan mata Putri masih saling menatap satu sama lain. Keduanya pun masih tenggelam kedalam rasa yang campur aduk dan juga emosional.


"Saya, pulang." ujar Adnan kemudian.


Putri mengangguk.


Adnan kini benar-benar berlalu. Tinggallah Putri yang masih terpaku dengan perasaan nano-nano yang ia miliki.


***

__ADS_1


Setibanya di halaman parkir dan masuk ke mobil, Adnan sempat memejamkan matanya sejenak. Dengan tangan yang memegang setir kemudi.


Pria itu mengingat akan peristiwa barusan yang begitu memorable baginya. Ia bisa mengelus dan mencium bayinya sendiri tanpa harus takut-takut ataupun sembunyi-sembunyi. Putri sendiri yang memberikan izin padanya.


Adnan pun tersenyum, lalu pria itu mulai menghidupkan mesin mobil. Di sepanjang perjalanan pulang, Adnan terus mengingat kejadian tersebut. Setiap kali teringat, setiap itu juga ia merasa bahagia. Seakan tak ada lagi sumber kebahagiaan yang lebih besar dari pada itu..


"Dert."


"Dert."


"Dert."


Tiba-tiba terdengar notifikasi panggilan di handphonenya, ternyata dari Tristan. Adnan lalu mengangkat panggilan tersebut.


"Ya, bro." ujar Adnan.


"Bro dimana?" tanya Tristan padanya.


"Di jalan gue." jawab Adnan.


"Ke Choice, bro."


Tristan menyebutkan nama salah satu tempat favorit mereka untuk nongkrong selama ini. Adnan agak berpikir sejenak.


"Ayolah...!" ujar Tristan sekali lagi.


"Ok." jawab Adnan seraya tertawa kecil.


Ia tengah berbahagia hari ini, jadi apa salahnya membagi perasaan tersebut pada Tristan. Dengan memenuhi permintaannya.


***


"Si Putri bilang begitu ke elo?"


Tristan sedikit kaget, sekaligus terlihat senang. Ketika Adnan menceritakan perihal kejadian terakhir di apartemen Putri.


"Iya, dia kayaknya udah mulai ada perasaan terhadap anak kami."


Adnan mereguk minuman beralkohol yang baru saja ia tuang. Ia dan Tristan pergi ke bar Choice dan minum bersama.


"Baguslah kalau kayak gitu, gue ikut seneng dengernya." ujar Tristan.


Adnan tersenyum, lalu kembali menenggak minumannya.


"Semoga Putri nggak berubah pikiran." tukasnya.


Tristan tampak menghabiskan minuman di gelas, lalu pria itu kembali bicara pada Adnan.


"Gue rasa sih, dia makin lama bakal lebih sayang lagi sama anak kalian. Cewek hamil kan sensitif dan peka banget terhadap sesuatu."


"Iya sih, semoga aja." jawab Adnan.

__ADS_1


"Gue berharap hati Putri bakal benar-benar pure sayang terhadap anak kami." lanjutnya lagi.


***


__ADS_2