Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Mempertahankan


__ADS_3

"Braaak."


Adnan menabrak mobil dokter Matt dari arah belakang. Dokter Matt yang kaget dan oleng tersebut lalu mematikan mesin mobil di bahu jalan. Adnan keluar, begitupun dengan dirinya.


"Pak Adnan?"


Dokter Matt kaget menyadari jika Adnan adalah orang yang dengan sengaja menabrak mobilnya. Dan secara serta merta Adnan memukul pria itu.


"Buuuk."


Dokter Matt kaget. Adnan kembali melayangkan pukulan, tanpa memberitahu ada apa sebenarnya. Sampai kemudian dokter Matt pun menyadari dan membalas perlakuan tersebut.


"Buuuk."


Adnan hampir terjatuh pula. Bahkan sudut bibir pria itu kini berdarah. Ia menatap dokter Matt dengan penuh dendam. Sementara dokter Matt menduga jika Adnan sudah tau, mengenai kepergiannya dengan Anita semalam.


"Anda membawa istri saya kemana semalaman?"


Adnan mulai melontarkan pertanyaan yang membuat titik permasalahan kian terang. Dokter Matt menarik sudut bibirnya.


"Anda sendiri dimana, istri sampai bisa pergi dengan orang lain."


"Tidak perlu memutar balikkan fakta. Jawab saya, kalian kemana semalam?"


"Menurut anda?"


"Brengsek."


"Buuuk."


"Buuuk."


"Buuuk."


Adnan kembali menghajar dokter Matt, sementara dokter itu hanya tersenyum meski tubuhnya terasa sakit.


"Ada yang panas rupanya." ujar pria itu penuh kemenangan.


"Anda membawa istri saya pergi, saya bisa melaporkan anda ke pihak yang berwajib."


"Oh ya?"


Dokter Matt menatap Adnan lekat-lekat.


"Apa saat ini anda merasa begitu super power. Sehingga mengira kalau anda lah yang memegang kendali atas segala hal?. Anda pikir anda hebat bisa menikahi dua wanita sekaligus?"


Adnan menangkap hal ganjil dalam ucapan dokter Matt.

__ADS_1


"Oh, jadi anda suka dengan istri kedua saya."


Adnan menebak..


"Anda marah pada saya karena saya menikahi Putri, dan sekarang ingin menghancurkan hubungan saya dengan istri pertama saya. Sebagai bentuk balas dendam?"


Dokter Matt kembali menarik salah satu sudut bibirnya.


"Anda meninggalkan istri dirumah sendirian, demi bercinta dengan Putri. Lalu sekarang anda marah ketika istri anda mencari pelampiasan di luar rumah."


"Jangan ikut campur urusan keluarga kami." ujar Adnan kemudian


"Istri anda yang membawa saya untuk masuk ke kehidupan kalian. Bukan saya yang meminta."


Adnan terdiam kali ini. Hatinya benar-benar sakit dan terbakar api.


"Apa yang sudah kalian lakukan?" tanya Adnan sekali lagi.


"Tanya istri anda."


Dokter Matt menjawab lalu berbalik arah menuju ke mobil. Namun kemudian terdengar sebuah suara, dokter Matt menghentikan langkah. Adnan menodongkan senjata api ke arahnya. Untuk kesekian kali dokter Matt menarik sudut bibir dan tersenyum. Dengan tenang pria pun pun berbalik.


"Anda seorang yang pengecut pak Adnan. Silahkan tembak, kalau itu bisa membuat anda merasa mampu mempertahankan rumah tangga anda. Baik itu dengan Putri maupun Anita. Tapi yang jelas, laki-laki yang dicintai oleh wanitanya tidak perlu sampai membunuh hanya karena rasa cemburu. Jika memang perempuannya mencintai anda, dia akan mempertahankan anda dan tidak akan berpaling dari anda."


Darah Adnan kian mendidih.


"Jika ada perempuan yang berpaling, itu artinya anda tidak cukup dicintai oleh mereka."


***


"Bilang sama aku, ada hubungan apa kamu sama dokter Matt?"


Adnan membentak Anita yang kebetulan hendak berangkat kerja. Selama sang suami belum nampak batang hidungnya tadi, Anita bergegas mandi dan berdandan. Kini Adnan telah kembali dan berkata dengan nada keras pada dirinya.


"Jawab Anita!"


"Kamu sendiri ngapain dengan Putri?. Hah?"


Anita balas mencecar Adnan. Sedang Adnan berusaha keras mengendalikan emosi.


"An, dia istri aku bukan selingkuhan."


"Lalu aku siapa?"


Anita menatap tajam ke mata suaminya.


"Aku ini siapa dan apa mas?. Hah?"

__ADS_1


Adnan diam dan menarik nafas panjang.


"Aku memang nggak bisa hamil, tapi bukan berarti aku nggak butuh sama kamu. Nggak butuh kehangatan dari kamu."


"Kamu sendiri yang waktu itu nggak mau."


"Ya kamu pahami situasi aku dong mas. Kamu menikah lagi secara sah. Kalian memiliki malam pertama sebagai suami istri. Gimana gairah aku nggak hilang mendapati suami aku menikah lagi."


"Kenapa saat itu kamu mengizinkan aku menikah dan menginap di rumah Putri, kalau ujungnya kamu bakal cemburu seperti ini."


"Aku nggak pernah menghalangi, tapi bukan berarti semuanya untuk Putri. Aku mengizinkan kamu memberi nafkah batin ke dia, bukan berarti aku udah nggak mau lagi. Aku cuma butuh waktu, untuk bisa menerima semuanya dengan ikhlas."


"Ya mana aku tau kalau semalam kamu mau. Kamu nggak kasih tau aku sebelumnya."


"Harusnya kamu peka, mas. Bukan aku menghalangi kamu dengan Putri, tapi bagi waktu untuk aku."


Adnan kembali menarik nafas panjang, kini ia mengalihkan tatapannya kemana-mana. Nafas pria itu terdengar memburu dan naik turun.


"Aku ini sekarang istrinya dua, Anita. Kalau ada apa-apa itu ngomong. Mas aku butuh kamu malam ini. Apa susahnya ngomong kayak gitu dari pagi. Aku pikir kamu masih butuh banyak waktu untuk menerima semua ini. Butuh waktu lebih lama lagi untuk bisa kembali melayani aku di ranjang. Aku mana tau kalau kamu nggak ngomong."


Kali ini Anita yang terdiam, ia menyadari jika ia juga salah. Harusnya ia to the poin saja pada sang suami. Toh kejutan akan tetap jadi kejutan. Sebab itu hanyalah bumbu penikmat dari hubungan yang akan di jalani.


"Sekarang aku tanya, kamu ngapain aja sama dokter Matt?"


Adnan kembali menatap istrinya itu dengan tajam. Anita diam.


"Jawab Anita!"


Anita masih diam.


"Jawaaab!"


"Kamu tidur dengan dia kan?" teriak Adnan.


"Iya."


Tegas suara Anita seakan membuat paru-paru Adnan menyempit.


"Aku tidur sama dia, tapi kami tidak melakukan apa-apa. Aku ingat aku istri orang, meskipun saat itu aku sudah nyaris melupakannya."


Adnan kembali menarik nafas. Kali ini pria itu menghembuskan udaranya lewat mulut. Ia juga tampak mengusap wajah dan kepalanya kebelakang dengan menggunakan kedua tangan. Ia benar-benar tak menyangka jika selama belasan tahun mengenal Anita, mereka akan berujung seperti ini.


***


Di lain pihak dokter Matt mengemudikan mobilnya menuju ke rumah. Ia teringat pada pertemuannya tadi dengan Adnan, juga isi dari perdebatan yang terjadi diantara mereka.


Namun ia juga kini teringat pada Anita. Entah mengapa sosok Anita seakan menggeser Putri di dalam benaknya.

__ADS_1


Ia benar-benar kasihan pada perempuan itu. Sebab ia mendengar semua curahan isi hati Anita, saat Anita sedang mabuk. Wanita itu berkata jujur apa adanya, mengenai kesakitan yang ia rasakan.


Dokter Matt baru tau ada wanita yang lebih kuat dari Putri. Dan kini perempuan itu seakan terus menari-nari dalam ingatan.


__ADS_2