Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Pulang


__ADS_3

Para hadirin yang hanya terdiri dari anggota keluarga itu pun, akhirnya pulang. Satu persatu mereka meninggalkan tempat pernikahan Putri dan juga Adnan, termasuk Anita.


Disaat-saat terakhir acara, Adnan sudah tidak bisa menemukan wanita itu. Sementara handphonenya tertinggal di salah satu kamar yang disewa untuk acara ini.


Kamar tersebut sejatinya untuk menaruh barang-barang keluarga Adnan dan juga barang milik Adnan sendiri. Sementara barang-barang Putri ada di mobil Shanin.


"Bapak, kenapa?" Putri bertanya ketika melihat suaminya itu tampak resah dan begitu cemas.


"Saya nggak apa-apa." jawab Adnan.


Ia berusaha menyembunyikan jika kini ia memikirkan Anita dan sangat khawatir pada istrinya itu. Takut kalau Anita merasa lemah dan akhirnya berada dalam situasi yang berbahaya. Ingin bunuh diri atau merasa depresi misalnya.


Ia bisa saja pergi dan mencari Anita saat ini, namun bagaimana dengan Putri dan lagipula mereka baru saja menikah.


"Put."


Shanin dan Tari menghampiri, lalu menarik Putri agak menjauh dari Adnan.


"Iya, Sha." jawab Putri.


"Gue pulang dulu ya. Lo nggak apa-apa kan, kita tinggal sama pak Adnan doang?. Soalnya nyokap gue minta anterin ceck up. Dia kan nggak tau kalau lo nikah dan gue kesini." ujar Shanin.


"Ya udah, makasih banyak ya Sha, Tar." tukas Putri.


"Iya Put." jawab keduanya secara serentak.


Mereka bertiga lalu saling berpelukan, dan tak lama Adnan pun mendekat.


"Kalian mau kemana?" tanya Adnan pada kedua gadis itu.


"Kami mau pulang pak." ujar Tari.


"Titip Putri ya, pak." timpal Shanin.


"Iya, kalian hati-hati ya di jalan." ujar Adnan lagi.


"Iya pak."


Kedua gadis itu pun pamit. Kini tinggallah Putri bersama Adnan dan sisa beberapa orang termasuk makeup artis. Ketika semua sudah pulang, Adnan dan Putri kembali ke kamar yang semula di sewa oleh Adnan untuk keluarganya.

__ADS_1


"Kamu mau istirahat dulu, apa langsung mau aku antar pulang ke apartemen?" tanya Adnan pada Putri.


"Terserah pak, pulang juga nggak apa-apa. Saya udah pengen mandi dan ganti baju." jawab Putri.


"Disini bisa kalau kamu mau mandi, kan ada kamar mandinya." ujar Adnan.


"Nggak enak aja pak, kalau di rumah kan bisa langsung ganti baju yang nyaman." tukas Putri lagi.


"Ya udah, saya beresin barang ini dulu." Adnan kembali berujar.


Tak lama mereka berdua pun pulang. Meski di kamar hotel tadi, sejatinya Adnan bisa saja berbuat sesuatu terhadap putri. Namun pikirannya tertuju pada Anita.


Di kamar tersebut ia lebih banyak berkutat dengan handphone dan menghubungi perempuan itu. Sama halnya dengan Putri yang sibuk mengirim pesan pada Aaron, meski tak dibalas.


Sebelum acara tersebut selesai, Aaron sudah pulang. Putri sempat melihat pria itu menjauh dari tempat acara dan ia merasa begitu bersalah.


"Aku nggak apa-apa, kamu baik-baik ya."


Itulah kata-kata yang sempat dikirim oleh Aaron sebagai balasan dari chat yang dikirim Putri. Dan itupun hanya sekali itu saja. Sisanya hanya Putri yang panjang lebar menjelaskan dan meminta Aaron untuk memaafkan dirinya.


Meski telah berulangkali, namun Putri selalu merasa permintaan maafnya tak pernah cukup. Sementara di lain pihak, Anita membalas pesan Adnan di waktu yang bersamaan. Ia mengatakan pada Adnan tidak akan berbuat hal yang macam-macam.


Setelah memastikan Anita memang baik-baik saja, Adnan kemudian mengantar Putri untuk pulang. Putri tidak tinggal bersama Adnan, melainkan di apartemen miliknya sendiri. Untuk menghindari terjadinya salah paham maupun pertengkaran dengan Anita.


Anita memang orang baik, tetapi rumah tangga jika sudah dimasuki oleh orang ketiga. Pasti akan ada saja ributnya.


Lagipula memang Putri tidak mau tinggal bersama-sama, begitupula dengan Adnan dan Anita sendiri. Maka di sepakati bahwa Putri tetap tinggal di apartemen miliknya, sedang Anita di apartemen suaminya.


Untuk pembagian waktu bagaimana Adnan mengurus Putri nanti, semua akan segera dibicarakan.


***


"Sana kamu mandi dulu, dan ganti baju." ujar Adnan ketika mereka akhirnya sampai.


"Bapak kalau mau mandi juga, disitu kan ada kamar mandi satunya." ujar Putri menunjuk ke arah kamar mandi yang ada di depan.


"Iya, saya juga udah gerah." ujar Adnan.


Kemudian mereka sama-sama mandi, namun di dalam dua kamar mandi yang berbeda. Setelah mandi dan berganti pakaian, Putri merasa dirinya haus dan hendak mengambil air minum.

__ADS_1


Maka perempuan itu pergi ke keluar kamar dan menuju ke dapur. Namun di dapur ia melihat Adnan tengah menyiapkan segelas susu.


"Nih, kamu minum dulu!" ujar pria itu.


Putri sempat terdiam sejenak dan memperhatikan kotak susu yang ada di atas kitchen set. Itu adalah susu hamil miliknya, yang mulai dibelikan Adnan sejak ia memutuskan untuk menerima bayi di dalam perutnya.


"Makasih pak." ujar Putri lalu meraih susu tersebut.


"Duduk disana aja." ujar Adnan lagi.


Ia dan Putri melangkah lalu duduk di kursi meja makan. Keduanya duduk bersebelahan. Putri mulai meminum susu yang dibuat oleh sang suami, sebab itu tak begitu panas.


"Saya udah pesan makanan, karena kamu pasti laper lagi kan?" tanya Adnan.


Putri tersenyum dan mengangguk, lalu meminum kembali susu yang ada ditangannya. Tiba-tiba Adnan menyentuh perut perempuan itu dan mengusapnya dengan lembut. Putri terkejut tentu saja, namun dengan jantungnya yang berdegup kencang ia menerima saja perlakuan tersebut.


"Makasih ya, Put. Sudah mau menerima dan mempertahankan anak ini." Adnan berujar seraya menatap Putri.


"Iya pak, sama-sama." jawab Putri.


Adnan mencium kening Putri, dan Putri memejamkan kedua matanya. Entahlah, tiba-tiba saja ada damai yang menyeruak di hati keduanya.


"Mbak Anita nggak apa-apa pak?" tanya Putri pada Adnan kemudian.


"Dia, pastinya berat dengan semua ini. Tapi dia juga yang menguatkan saya." ujar Adnan.


Putri sedikit menunduk, tak lama kemudian makanan yang dipesan Adnan pun tiba.


"Kita makan dulu ya, abis itu kamu Istirahat." ujar Adnan ketika makanan tersebut telah ada di depan mata.


Putri mengangguk lalu bantu menyiapkannya. Kemudian mereka pun makan bersama-sama sambil berbincang.


***


"Lo kepikiran Putri nggak sih, Sha?" tanya Tari pada Putri. Saat ini mereka sedang menuju ke kediaman Tari, sebab akan mengantar Tari terlebih dahulu. Sebelum Shanin pulang ke rumah.


"Iya, gue kepikiran semuanya malah. Ya Putri, Aaron, mbak Anita. Kalau pak Adnan sendiri kayaknya kuat gitu menjalani semua ini. Tapi Aaron, Putri, mbak Anita?" jawab Shanin.


"Nggak bisa ngebayangin gue kalau ada di posisi mereka." ujar Tari lagi.

__ADS_1


"Apalagi gue." tukas Shanin.


__ADS_2