Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Menjenguk Putri


__ADS_3

Siang hari, saat jam makan siang. Adnan buru-buru menyelesaikan pekerjaan dan menyambangi Putri yang ada di rumah sakit. Ia benar-benar masih khawatir pada kondisi ibu dari anaknya tersebut.


"Pak, bapak kalau sibuk nggak usah maksa kesini sekarang. Kan pulang kerja nanti bisa. Jauh loh dari kantor ke sini." ujar Putri.


"Nggak apa-apa, saya kepikiran sama kamu soalnya." ujar Adnan.


Tak lama seroang petugas masuk dan mengantarkan makan siang bagi Putri. Adnan langsung menarik meja portable yang melekat pada ujung tempat tidur. Ia juga membantu Putri untuk mengubah posisi menjadi setengah duduk dan bersandar pada bantal.


Adnan menyiapkan makanan tersebut dan menyuapi Putri. Putri terdiam menatap pria itu.


"Ayo makan...!" ujar Adnan kemudian.


Putri pun menerimanya.


"Makan yang banyak, biar sehat."


Pria itu kembali berkata, dan sebuah perasaan hangat kembali memenuhi hati Putri. Setelah Putri selesai makan, Adnan masih menunggu kira-kira setengah jam. Waktu mereka isi dengan membicarakan banyak hal.


Setelah Putri mendapatkan suplemen dan obat dari dokter. Adnan pun berpamitan pulang pada wanita itu. Karena ia masih harus kembali ke kantor.


***


"Sorry Put, gue tuh bener-bener bingung harus minta tolong ke siapa. Kebetulan gue nggak sengaja ketemu pak Adnan dijalan. Gue mendadak aja langsung punya ide kayak begitu. Kan nggak mungkin juga gue minta tolong saudara nyokap atau bokap lo. Ke sepupu lo juga nggak mungkin, mereka aja jauh-jauh rumahnya. Tangerang lah, Bogor lah, Parung, Citayeum."


"Iya udah nggak apa-apa." jawab Putri.


"Hai gaes." Tiba-tiba Tari muncul di pintu sambil membawa kantong berisi makanan.


"Sorry, gue baru pulang jam segini. Nyebelin banget bos gue sumpah." ujarnya lalu masuk dan meletakkan apa yang dia bawa ke atas meja.


"Jadi rajin ya wak ke kantor." ledek Shanin.


"Emang rese tuh orang, pengen banget gue pindahin ke planet lain."


Shanin dan Putri tertawa.


"Gimana kondisi lo, Put?" tanya Tari.


"Ya kayak gini lah, udah lumayan. Tadi bangun tidur enak banget badan gue." jawab Putri.


"Pak Adnan nggak kesini?" tanya Tari lagi.


"Nggak tau deh, katanya tadi mau kesini kalau udah pulang kerja. Gue tuh sekarang khawatir." ujar Putri.


"Khawatir kenapa lagi?" tanya Shanin diikuti tatapan Tari.


"Gue khawatir jadi nyaman, Sha. Soalnya pak Adnan..."


"Tunggu, tunggu...!"


Shanin memperhatikan wajah Putri, begitupula dengan Tari.


"Lo tadi bilang takut jadi nyaman?" tanya nya kemudian.


Putri mengangguk.

__ADS_1


"Lo punya rasa sama pak Adnan?" Tari menimpali pertanyaan Shanin.


Sementara Putri menghela nafas dengan wajah yang bingung dan cemas.


"Ya gitu deh." ujarnya kemudian.


Shanin dan Tari sama-sama terkejut dengan bibir yang menganga. Otak mereka sempat lemot beberapa saat, sampai kemudian...


"What the f*ck."


"Serius lo?"


Shanin dan Tari berujar di waktu yang nyaris bersamaan. Mereka benar-benar tak menyangka hal semacam ini akan terjadi pada Putri.


"Gue juga nggak ngerti Sha, Tar. Makin gue berusaha tepis, makin jadi. Ini ulah anak ini." Putri melirik sejenak ke arah perutnya, lalu kembali menatap Shanin dan juga Tari.


"Lo, lo gimana sih kalau lagi berhadapan sama pak Adnan itu?" tanya Shanin.


"Iya perasaan lo tuh gimana?" timpal Tari.


"Ya, kayak seneng gitu." jawab Putri.


"Seneng aja apa gimana?" Shanin semakin kepo.


"Ya, seneng banget."


Putri menjawab dengan nada ragu-ragu, namun apa yang ia ucapkan tersebut memanglah jujur apa adanya.


"Lo berbunga-bunga gitu?" tanya Tari.


Putri menarik nafas demi mengakui itu semua. Terlihat ia berat untuk jujur, namun ia merasa jika Shanin dan Tari harus tau. Sebab ia pun merasa berat menanggung beban rasa sendirian.


"Kreeek."


Terdengar suara pintu dibuka, ternyata Adnan yang datang. Putri, Shanin, dan Tari langsung merubah sikap menjadi biasa saja. Seolah mereka tak terlibat obrolan apapun sebelum itu.


"Hei, ada kalian ternyata."


Adnan menyapa seraya tersenyum. Pria itu kemudian meletakkan buah-buahan yang ia bawa ke atas meja, lalu duduk di pinggir tempat tidur Putri.


"Kita ganggu ya pak?" tanya Tari.


Putri kaget sekaligus tak mengerti, mengapa Tari sampai bertanya seperti itu pada Adnan.


"Ah nggak, ngapain saya terganggu. Gimana Putri, udah baikan?" Adnan bertanya pada Putri.


"Agak bandel pak kalau soal makan." Shanin bicara jujur.


"Sha." Putri mengingatkan temannya itu untuk tidak mengadu apa-apa.


"Jangan kayak gitu, makan biar cepet sehat." ujar Adnan.


"Oh ya Put, gue sama Tari mau makan dulu ya." ujar Shanin kemudian.


"Pesen aja nih." ujar Adnan mengeluarkan handphone.

__ADS_1


"Nggak usah pak." Shanin menghalangi.


"Di kantin tadi ada yang jual mie ayam. Saya sama Tari udah ngincer dari pas pertama datang tadi. Soalnya wangi banget." ujar Shanin.


"Jadi kalian mau makan disana aja?" tanya Adnan.


"Iya pak, hehe."


"Ya udah makan aja, nanti saya yang bayar." ujar pria itu.


"Jangan pak, nggak usah!. Put kita kantin yak." ujar Tari.


"Iya, jahat lo pada. Gue kan pengen mie ayam juga jadinya."


"Makanya jangan sakit." seloroh Shanin.


Adnan tertawa, Putri cemberut. Shanin dan Tari segera keluar meninggalkan ruangan tersebut.


***


"Wajar aja sih, si Putri jadi punya rasa sama pak Adnan."


Tari berujar ketika mie ayam yang ia dan Shanin pesan sudah jadi.


"Iya lo liat aja visualnya pak Adnan. Hot anjir, kayak aktor luar. Gue aja ngiler ngeliatnya, pengen gue habisin."


Shanin berujar sambil membubuhkan saos dan juga sambal yang banyak. Keduanya lalu sama-sama tertawa.


"Udalah tinggi, badannya jadi, cakep pula." ujar Tari lagi.


"Ditambah si Putri lagi hamil anaknya dia. Udah pasti hormon kehamilan bikin dia jadi terbawa perasaan." Shanin menimpali.


"Tapi sayang pak Adnan udah punya istri ya, Sha."


"Iya, coba belum ada ya. Sebenarnya dia cocok tuh sama si Putri." ujar Shanin.


"Tapi kasihan Aaron juga sih." lanjutnya kemudian.


"Iya, Aaron juga nggak kalah cakep. Keluarganya open minded dan baik lagi sama Putri. Gue kalau jadi Putri, bakalan bingung banget tuh." ujar Tari.


"Sama, gue malah berfikir menikahi keduanya. Hahaha." Shanin mengeluarkan khayalan gila dari otaknya.


"Bener-bener lu ya." ujar Tari pada Shanin.


"Loh iya dong, lo juga pasti bingung kan kalau ada di posisi Putri." tanya Shanin.


"Banget, bisa guling-guling di rerumputan sambil nyanyi India gue. Saking bingungnya milih yang mana."


Keduanya kemudian makan, dan tak lama setelah itu seorang dokter tampan pun melintas.


"Sha, itu dokter Matt kan?. Yang waktu itu mendiagnosa kalau Putri hamil." Tari melirik ke suatu arah, Shanin ikut-ikutan melirik.


"Eh iya, si cakep." ujarnya kemudian.


Tari pun jadi senyum-senyum sendiri. Padahal dokter Matt hanya sekedar melintas dan tak melihat ke arah mereka.

__ADS_1


__ADS_2