Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Tersentuh


__ADS_3

"Sumpah Nit, kaget gue. Merinding nggak sih?" Ulfa berujar pada Rinda.


"Mau copot jantung gue." ujar Rinda seraya memegangi dadanya.


"Koq bisa gitu sih?" lanjut wanita itu kemudian.


"Tuntut Nit, dokternya. Ini merugikan banyak pihak, terutama elo. Rumah tangga lo jadi taruhannya."


Ulfa tampaknya begitu emosi. Hal yang sama juga terjadi pada Rinda.


"Kalau gue langsung mencak-mencak itu, asli. Gue amuk-amukin dokter sama rumah sakitnya, gue viralin di sosial media." ujar Rinda.


"Mau nuntut gimana coba, sekarang dokternya aja koma karena kecelakaan."


"Haaah?"


"Astaga."


Ulfa dan Rinda benar-benar tak menyangka, jika kejadiannya akan serumit itu.


"Jadi sekarang dia di rumah sakit?" tanya Ulfa.


"Iya." jawab Anita.


"Nggak bohong kan itu, Nit?" Rinda menimpali pertanyaan Ulfa.


"Iya jangan-jangan rekayasa doang, biar bebas dari jerat hukum." ujar Ulfa.


"Nggak emang kecelakaan parah. Ada saksi dan masuk berita juga. Mobilnya ancur di bagian belakang. Karena kan ditabrak dari belakang." Anita menjelaskan.


"Iya bisa jadi kecelakaannya bener, tapi soal koma nya patut dipertanyakan itu. Apalagi dia dokter, kali aja udah kerjasama dengan temannya." ujar Ulfa lagi.


"Iya, bisa jadi begitu." Rinda dengan penuh bersemangat mengompori.


Anita kini menghela nafas panjang.


"Duh kalau soal itu gue nggak tau deh. Beneran koma apa cuma pura-pura." jawab Anita kemudian.


Lalu percakapan itu pun menjadi semakin panjang.


***


Lo mau kemana abis ini?" tanya Tristan pada Adnan. Mereka berdua masih terlihat makan di kantor Tristan.


"Paling gue jenguk Putri lagi." jawab Adnan.


"Gue ikut boleh nggak, penasaran gue sama tuh cewek." Tristan kembali berujar.


"Ya udah, abis ini."


Maka keduanya pun melanjutkan makan. Usai makan mereka menyambangi rumah sakit, tempat dimana Putri dirawat.


Adnan mengenalkan Putri pada Tristan. Ketiganya lalu berbincang mengenai beberapa hal. Adnan mempertanyakan kondisi Putri, dan Putri menjawab jika saat ini dirinya merasa semakin baik. Adnan senang mendengar semua itu, ia berharap semakin hari Putri akan menjadi semakin baik."


"Lo ngerasa bersalah lagi?"


Tristan bertanya pada Adnan ketika mereka sudah berada di jalan pulang. Sekitar hampir dua jam mereka berada di rumah sakit, lalu Adnan menyuruh Putri untuk beristirahat. Ia berjanji esok harinya, ia akan datang lagi menunggui Putri hingga pagi.

__ADS_1


Meski awalnya Putri menolak karena merasa tak enak hati, dan lagi pula Adnan adalah suami orang. Namun Adnan berusaha meyakinkan Putri, bahwa tak apa dirinya menjaga perempuan itu hingga pagi. Putri pun mengiyakan, karena tak tega pada Adnan yang terus bersikukuh dengan keinginannya.


"Gue nggak ngerasa bersalah apa-apa. Karena gue percaya kata-kata lo ke gue. Bahwa gue itu bukan cinta sama Putri, tapi mikirin anak gue yang sedang dia kandung."


"Terus kenapa lo banyak diem dari tadi?" tanya Tristan lagi.


"Gue lagi mikirin alasan besok ke Anita. Gue kan tadi janji mau jagain Putri sampai pagi."


"Bilang aja lo lembur." ujar Tristan.


"Itu dia masalahnya. Gue sih bisa aja bohong gitu, tapi kalau dia tiba-tiba nyamperin kantor gimana?. Dia sering loh nyamperin ke kantor, kalau gue lagi lembur beneran."


Tristan menghela nafas.


"Gini aja, lo pura-pura ada perjalanan bisnis sama gue. Ntar lo video call dia di dekat gue. Jadi biar si Anita juga yakin kalau lo nggak bohong."


Adnan diam dan berfikir sejenak.


"Apa menurut lo itu bakal berhasil?


"Tenang aja, Anita pasti percaya koq." jawab Tristan.


"Ok deh." ujar Adnan kemudian.


***


"Gimana nak, udah dapat tiketnya?"


Ibu Aaron bertanya pada sang putra di telpon


"Udah mi, tapi Aaron mau menyelesaikan urusan disini dulu."


"Iya, kamu selesaikan dulu aja. Nanti baru kamu pulang ke sini."


"Oh ya mi, si Putri kan di rawat sekarang." ujar Aaron lagi.


"Di rawat?. Di rumah sakit maksudnya?" tanya sang ibu tak mengerti.


"Iya, dia sakit. Udah ngabarin Aaron dari kemarin."


"Wah, mami beneran nggak tau. Di rawat di rumah sakit mana dia?" tanya Ibu Aaron pada sang putera.


Maka Aaron pun menjawab dan memberitahu, dimana kini Putri berada.


"Ya sudah, nanti mami ke sana buat cek keadaan dia."


"Dia sih bilang udah nggak apa-apa, mi. Tapi bisa aja kan dia bohong sama Aaron. Bilangnya udah baikan, cuma supaya Aaron nggak khawatir doang."


"Iya, nanti mami jenguk deh. Kamu baik-baik disana."


"Iya mi, papi mana mi?" tanya Aaron.


"Kerja." jawab ibunya kemudian.


"Oh iya, ini masih jam berapa ya disana."


Ibu Aaron tertawa.

__ADS_1


"Lupa kamu pasti kalau waktunya berbeda."


"Iya sih mi, hehe."


"Istirahat gih!" ujarnya wanita itu lagi.


"Iya, mi. Ini juga lagi sekalian mau packing baju. Biar pas hari H nanti nggak mager."


"Iya, ya sudah kalau begitu. Mami mau telpon teman arisan mami dulu. Ada yang mau dibicarakan."


"Arisan teros." seloroh Aaron sambil tertawa.


"Dari pada mami bengong, kan mending arisan." Ibunya membela diri.


"Iya deh mi, Aaron matiin ya mi."


"Iya."


"Dah mami."


"Dah sayang."


Aaron menyudahi telponnya, ia dan sang ibu kemudian sama-sama melanjutkan urusan masing-masing.


***


"Dia terpukul atas kejadian yang menimpa ayahnya."


Putri terbangun di tengah malam dan tak bisa tidur lagi. Secara tiba-tiba ia teringat pada Adnan. Lalu teringat pada ucapan dokter Matt mengenai Finn, putera dokter Fadly.


Tadi saat dokter Matt berkunjung, Putri sempat ada bertanya mengenai kondisi dokter Fadly. Dan dokter Matt pun menceritakan semuanya.


"Finn sangat dekat dengan ayahnya, bisa dibilang cuma dokter Fadly yang peka dan peduli terhadap Finn. Karena ibunya nggak pernah memperhatikan dia sejak kecil."


Dokter Matt menceritakan bagaimana sesungguhnya keadaan rumah tangga dokter Fadly. Hal tersebut cukup membuat Putri tersentuh.


Meski tindakan dokter Fadly tetap tidak bisa di benarkan. Sebab harusnya ia bekerja secara professional dan tidak mencampuradukkan antara masalah pribadi dan pekerjaan.


"Apa mbak Putri masih mau menuntut dokter Fadly?" tanya dokter Matt padanya.


"Dokter mau saya berhenti, hanya karena anaknya sedih sama kondisi dokter Fadly saat ini?"


"Oh nggak, bukan gitu. Saya ini cuma nanya, mbak Putri."


"Oh, maaf dok." ujar Putri.


Dokter Matt tersenyum.


"It's ok." ujarnya kemudian.


"Saya akan tetap menuntut, dok." Putri berkata dengan nada tegas, meski hatinya telah goyah.


"Karena disini saya yang di rugikan." lanjutnya lagi.


Dokter Matt menghela nafas, dan mengangguk-anggukan kepalanya. Ia mengerti jika hal semacam ini sangat sulit di maafkan.


"Iya mbak." jawabnya kemudian.

__ADS_1


__ADS_2