Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Pesan


__ADS_3

Dira dan Adnan tertidur lelap, usai mereka berdua memperdebatkan masalah siapa yang dahulunya duluan terpesona. Ketika mereka pertama kali bertemu di kampus.


Sejatinya itu bukanlah sebuah masalah. Sebab siapapun yang terpesona duluan, tetap pada akhirnya mereka saling mencintai satu sama lain.


Adnan senang, karena setelah sekian tahun akhirnya kemesraan diantara mereka telah kembali.


Dulu-dulu, saat mereka fokus untuk memiliki anak. Mereka bahkan jadi sangat jarang berkomunikasi. Lantaran Dira yang selalu di rundung kesedihan.


Hampir setiap hari ia mengadukan omongan orang tentang dirinya sambil menangis. Ia selalu disindir terutama di dalam keluarganya sendiri.


"Mereka bilang, suami bakalan cari perempuan lain di luar sana mas. Kalau kita sebagai perempuan nggak bisa melahirkan anak."


Adnan masih ingat kala itu. Dira baru saja pulang dari kumpul keluarga, dan tante serta sepupu-sepupu nya banyak yang menekan dengan mengatakan hal tersebut.


Adnan juga ingat betapa sedihnya Dira saat itu. Bahkan ia mengutuk dirinya sendiri yang ia anggap tak berguna.


"Kamu nggak boleh ngomong kayak gitu." ucap Adnan waktu itu pada Dira.

__ADS_1


"Aku nggak ada selingkuh dimanapun. Aku tetap setia sama kamu. Aku sayang sama kamu, Dira. Jangan pernah kamu mengatakan hal buruk lagi tentang diri kamu sendiri. Aku nggak pernah menyesal menikahi kamu."


Dira menangis tersedu-sedu, kemudian Adnan memeluknya dengan erat. Kini semua itu telah berlalu, tetapi Adnan tetap memeluknya dengan erat.


Hanya saja bedanya kini, mereka berpelukan dalam tidur yang lelap. Sebab tadi mereka baru sana bercinta dan saling memuaskan satu sama lain.


***


Di lain pihak.


Putri masih kepikiran saat si bapak-bapak mencaci maki dirinya di muka para pengunjung minimarket. Ia malu sekali rasanya dan ingin menangis saat itu juga.


Sama seperti yang dikatakan oleh perempuan yang membela dirinya. Ia hanyalah pegawai rendahan dengan gaji yang tak seberapa. Ia bekerja menuruti sistem dan perintah atasan saja.


Kalau pun si bapak tersebut ingin protes bukanlah kepadanya, melainkan kepada management perusahaan.


"Pindah aja, Put. Kalau ada kerjaan yang gajinya lebih baik, mah. Gue aja mau pindah kalau ada yang nawarin kerja."

__ADS_1


Elsa teman putri yang sama bekerja di minimarket tersebut berbicara pada Putri di telpon.


"Emang banyak yang songong tau, pembeli mah. Merasa dia punya duit." ucap Elsa lagi.


Maka sejak percakapan mereka kemudian berakhir, Putri kini jadi berpikir.


Tak dal salahnya mencari pekerjaan yang lebih baik." pikir gadis itu.


Ia muak menjadi bahan olok-olok ataupun bully-membully. Hanya karena ia miskin dan tak punya apa-apa. Ia kerapkali mendapat perlakuan kasar dari sekitar.


Putri lalu ingat pada pria yang mengantarnya kemarin. Ia juga ingat pria itu memberikan kartu nama padanya.


Putri berjalan ke arah tas miliknya dan mencari kartu nama tersebut. Awalnya ia ragu dan malu, namun akhirnya gadis muda itu memberanikan diri untuk mengirim sebuah pesan singkat.


Tentu saja keada kontak nomor handphone yang tersedia di kartu nama tersebut.


"Selamat malam pak, ini saya Putri yang tempo hari bapak tolong. Mohon maaf menggangu waktu malamnya. Saya cuma minta info semisal di kantor bapak masih ada lowongan, saya mau pak." tulisnya.

__ADS_1


Kemudian Putri pun mengklik pesan tersebut dan mengirimkannya. Ia menunggu balasan dengan harap-harap cemas. Tetapi sampai matanya diserang kantuk pun, balasan itu belum juga ia terima.


__ADS_2