Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Menikah


__ADS_3

Hari itu akhirnya tiba. Putri yang ditemani oleh Shanin dan juga Tari, kini tampak tengah didandani oleh seorang wedding makeup artis. Putri diam, sedang Tari dan Shanin yang sudah selesai didandani terlebih dahulu kini memperhatikan Putri.


Tak ada yang istimewa disana. Putri hanya mengenakan setelan kebaya pernikahan sederhana. Sama halnya dengan Shanin dan juga Tari. Tak ada baju bridesmaids seperti yang telah mereka rencanakan selama ini.


Sebab pernikahan Putri sangat jauh dari ekspektasi. Ia kini menikahi suami orang, dan melukai dua hati. Maka tak patut pernikahan itu diadakan bermewah-mewah. Sementara ada banyak pihak yang menderita karenanya.


Ini semua dilakukan demi menyelamatkan sebuah nyawa, yang kini ada di kandungan Putri. Buah dari keteledoran dokter Fadly dan perawat Elke. Serta sebuah sentuhan takdir, jika dilihat dari sisi kepercayaan.


Hari itu suara Adnan menggema mengucap janji pernikahan. Dihadapan saudara laki-laki kandung ayah Putri yang ditunjuk sebagai wali. Dari tempat dimana ia didandani, Putri bisa mendengar suara pria itu yang kini telah sah menjadi suaminya.


Jantung Putri berdetak sangat kencang, sama halnya seperti Shanin dan juga Tari yang masih setia mendampingi. Dari sebuah sudut, Anita dengan tegar menyaksikan semua itu. Meski bulir bening sudah merebak di pelupuk matanya sejak tadi, namun ia masih berusaha keras untuk tidak menangis.


Disisi kanan dan kiri wanita itu, terdapat salah satu kakak Adnan dan istrinya yang menguatkan. Pasangan suami istri itu memang dari dulu selalu membela Anita dari kekejaman seluruh keluarganya. Ada pula beberapa keponakan yang memang menyayangi Anita, mereka juga sama menguatkan wanita itu.


"Putri, sudah siap?"


Seseorang datang ke ruangan makeup dan bertanya.


"Sudah nih, sudah cantik."


Sang makeup artis berujar sambil tersenyum. Dengan didampingi Shanin dan juga Tari, Putri dibawa menuju ke tempat dimana Adnan kini berada.


Putri melangkah perlahan sambil tertunduk. Keluarga Adnan menyambutnya penuh senyuman. Seketika Anita yang melihat kejadian itu teringat, pada saat dulu ia dibawa ke hadapan Adnan.


Tepat sesaat setelah ia dinikahi oleh pria itu. Sungguh itu merupakan sebuah momen terindah dan tak terlupakan dalam hidupnya.

__ADS_1


Kini sebuah kejadian yang sama berlangsung, Adnan kembali menunggu seorang mempelai. Tapi itu bukan dirinya, melainkan perempuan lain.


Putri di dudukkan di sisi Adnan. Ia menandatangani berbagai surat disana. Sebab pernikahan tersebut adalah pernikahan resmi secara hukum. Dan telah mendapatkan izin tertulis dari Anita, yang ditandatangani di atas materai.


Keluarga Putri yang meminta agar Putri dinikahi secara resmi oleh Adnan. Sebab jika tidak, Putri dan anaknya nanti akan kehilangan hak atas apapun. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada Adnan. Dan lagi Adnan bisa dengan mudah melepaskan tanggung jawab, sebab pernikahan itu tidak terikat degan hukum.


Sejatinya dalam sebuah agama tertentu, tidak mengapa jika laki-laki ingin menikah lagi tanpa sepengetahuan istri pertama. Tetapi pernikahan itu hanya bisa dilangsungkan secara siri dan tidak bisa dilindungi hukum. Sebab pernikahan kedua yang dilandaskan hukum, harus terlebih dahulu mendapat izin dari istri pertama.


Istri kedua yang dinikahi secara siri, boleh merasa jumawa sudah bisa menikah dengan suami orang. Tetapi ketika si suaminya ini misalkan meninggal dunia. Maka istri siri dan anak yang dilahirkan istri siri tak berhak apa-apa secara hukum, atas harta dan peninggalan yang ditinggalkan sang suami. Kecuali bila sang suami memberikan hibah.


Hal tersebutlah yang dijaga oleh keluarga Putri. Putri sendiri tak berminat pada harta Adnan. Dia merupakan wanita mandiri yang cukup kaya. Memiliki cukup banyak tabungan serta beberapa aset berharga. Namun seperti kata keluarganya, ia menikah resmi dengan Adnan semata untuk menjaga hak anaknya kelak.


Sementara Anita, ia bukanlah seorang wanita yang serakah akan harta suaminya. Ia tau anak yang dikandung Putri juga memiliki hak atas harta yang dimiliki sang ayah. Maka dari itu, Anita memberikan izin agar suaminya bisa menikah resmi dengan Putri. Supaya hak-hak anak putri dan Adnan dapat terpenuhi.


Ia pun memakaikan cincin tersebut. Putri mencium tangan Adnan, namun Adnan tak balas mencium kening Putri. Sebagaimana dilakukan pria yang menikah pada umumnya.


Adnan menjaga perasaan Anita, juga Aaron yang kini berdiri di muka pintu ruangan tersebut. Aaron ditemani seorang sahabat dekat dan juga ibunya. Hati pria itu hancur, namun ia berusaha untuk menerima dan mengikhlaskan apa yang telah terjadi.


Kemudian acara dilanjutkan dengan penyampaian pesan-pesan, dari kedua belah pihak keluarga masing-masing mempelai.


Tak banyak harapan keluarga Putri. Melainkan mereka meminta Adnan bertanggung jawab dan memperlakukan Putri dengan baik. Sekalipun akhirnya nanti mungkin mereka akan bercerai.


Sedang dari pihak keluarga Adnan, mereka terlihat sangat bahagia. Mereka terus memberikan pujian pada Putri dan seperti membandingkan Putri dengan Anita. Meski mereka tak menyebut nama Anita secara gamblang.


Adnan sendiri tak enak hatinya, namun ia tak mungkin marah di acara tersebut. Anita sendiri begitu kuat mendengarkan sindiran. Ia sejatinya bisa saja pergi, namun ia tak mau kalah pada keluarga Adnan. Ia tetap menunggu hingga acara selesai. Kemudian ia menghampiri Putri dan tersenyum pada perempuan itu.

__ADS_1


Jantung Putri seperti mau lepas tatkala menatap Anita. Ia bingung harus bersikap apa, pada perempuan yang suaminya ia nikahi tersebut.


"Put, anggap saya saudara kamu. Kalau ada apa-apa dan kamu perlu apa, jangan ragu untuk menghubungi saya. Saya akan bantu sebisa saya."


Gemetar tubuh Putri mendengar perempuan itu berbicara. Dan terasa Anita memang tulus, tak ada sedikitpun kebencian dalam nada suaranya. Juga di dalam hatinya demikian. Meski sedih, namun ia tak membenci Putri sama sekali.


"Iya mbak." jawab Putri.


Lalu kedua perempuan yang sedang dipermainkan oleh kehidupan itu, saling berpelukan dan menangis. Adnan sendiri tak bisa berbuat apa-apa, kecuali berusaha menenangkan keduanya.


"Aku pulang sama kamu." ujar Adnan pada Anita. Ketika tinggal mereka berdua saja, sementara Putri kini bersama Shanin dan juga Tari.


"Jangan mas, kamu baru menikah. Apa kata keluarga Putri nanti, kalau kamu langsung pergi-pergi aja. Nggak enak, nanti keluarga kita yang malu. Terutama ibu, mas-mas dan mbak-mbak yang lain." ujar Anita.


"Tapi, An."


"Aku nggak apa-apa, temani Putri saja dulu. Nanti kalau semuanya sudah bubar, sudah Istirahat, baru pulang ke rumah."


Adnan menghela nafas lalu mengangguk. Tak banyak yang bisa ia lakukan saat ini.


"Maafin aku, An."


"Udah mas, cukup!. Kita harus melalui semua ini dengan baik. Jangan terus menyalahkan diri sendiri."


Adnan menarik Anita ke dalam pelukannya, lalu mereka sama-sama menitikkan air mata.

__ADS_1


__ADS_2