Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Masih Bersama


__ADS_3

"Kita makan aja yuk, belum makan kan?" tanya Adnan pada Putri.


Putri pun menggelengkan kepalanya.


"Mau makan apa?" tanya Adnan lagi.


"Nggak tau." jawab Putri.


"Sate ayam mau?"


"Boleh."


"Oke, saya tau tempat yang enak." ujar Adnan.


Tak lama berselang, mereka sudah terlihat naik ke dalam mobil Adnan dan mobil itu perlahan merayap. Mereka menyusuri jalan demi jalan hingga sampailah pada tempat yang di maksud.


"Koq ada sate yang buka dari jam segini?" tanya Putri heran.


"Biasanya kan malem." lanjut gadis itu kemudian.


"Ada, ini buktinya." Seloroh Adnan.


"Ini buka bahkan dari jam sepuluh pagi." ujar pria itu lagi.


"Oh."


Putri melihat-lihat sekitar, lalu mereka duduk di sebuah meja dan dihampiri oleh pelayan. Pelayan itu langsung memberikan daftar menu.


"Kalau suka kambing, disini sate kambingnya enak banget."


Adnan merekomendasikan.


"Yah, saya nggak suka kambing." ujar Putri.

__ADS_1


"Ya udah, kan ada ayam dan sate lemak sama kulit." tukas Adnan.


Maka Putri pun lalu memilih. Ia memilih sate ayam campur dengan kulit dan lemak. Sedang Adnan memilih sate kambing bumbu kecap.


"Mbaknya bumbu kacang?" tanya si pelayan pada Putri.


"Iya mas." jawab Putri.


Kemudian pelayan itu pergi dan menyiapkan pesanan.


"Oh ya mau minum apa mas?" tanya pelayan yang lain.


"Saya air mineral dingin." ujar Adnan.


"Saya es teh manis." ucap Putri.


"Bapak sering kesini?" tanya Putri pada Adnan di sela-sela menunggu.


"Iya, rekan-rekan di kantor juga suka makan disini." ujar Adnan.


"Lewat jalan lurus ini, mentok sampe pertigaan, terus belok ke kanan." ujar pria itu.


"Oh dekat dong berarti." tukas Putri.


"Iya, makanya suka makan disini." ujar Adnan.


"Tadi kamu dari mana?. Koq jauh banget ke tempat itu."


"Nggak dari mana-mana sih pak. Saya naik bus jurusan random aja. Kalau lagi banyak pikiran saya emang suka gitu." jawab Putri..


"Kamu harus hati-hati. Ketemu orang jahat semisal diajak kemana, bisa aja kan." ujar Adnan.


"Ini aja saya nggak tau bapak mau baik apa jahat ke saya." tukas Putri.

__ADS_1


Adnan tertawa.


"Sialan!" ujarnya kemudian.


"Koq saya yang kena." lanjutnya lagi.


Putri terkekeh-kekeh.


Tak lama sate mereka matang dan  mereka pun mulai makan.


"Kamu ngekos dimana sih?" tanya Adnan.


"Kenapa pak, mau bayarin?" canda Putri.


"Tapi kamu buncit sembilan bulan, mau?''


Putri tertawa kecil, Adnan lalu menyesali candaan yang ia buat.


"Sorry, sorry. Maaf banget, sorry." ujarnya.


"Saya terbiasa bercanda sama orang kantor. Bukan maksud melecehkan kamu, maaf sekali lagi."


"Nggak apa-apa koq pak. Lagian saya udah dewasa, bukan anak SD. Kalau anak SD mungkin bapak gila ngomong kayak gitu." ujar Putri.


"Tapi saya benar-benar nggak sengaja Put, maaf ya!"


Adnan agaknya memang bersungguh-sungguh.


"Udah kita ganti topik aja." ujar pria itu.


Seketika momen pun berubah awkward. Adnan benar-benar malu atas sikapnya barusan. Tapi Putri jadi menyadari betapa tampan dan manisnya pria itu.


Setelah makan mereka berbincang sejenak dan Adnan memesan kopi.  Setelah kopi dan rokoknya habis, ia mengantar Putri pulang.

__ADS_1


Ia pun jadi tau kosan gadis itu dimana dan seperti apa. Tak beda jauh dengan. Kos kosan pada umumnya. Setelah putri berterimakasih, ia pun turun dari mobil dan Adnan lalu berpamitan.


__ADS_2