
"Pak saya bakso urat sama telor. Bakso gede urat satu, bakso gede telor satu, sisanya bakso kecil-kecil." ujar Putri.
Dokter Matt masih bingung dan memperhatikan perempuan itu.
"Dokter mau apa dok?" tanya nya kemudian. Si penjual bakso juga tengah menunggu dokter Matt membuat pilihan.
"Ee, saya. Saya bakso urat aja, nggak pake mie kuning." ujarnya kemudian.
"Saya dua-dua mie nya pake, pake toge juga dan lain-lain pak." timpal Putri.
Perempuan itu mengambil tissue lalu menghapus sisa air mata, dan juga cairan yang mengalir di hidungnya.
"Mas sama mbaknya mau minum apa?"
Seorang pelayan lain mendekat dan bertanya pada Putri dan juga dokter Matt.
"Saya es teh manis, gulanya tiga sendok penuh." ujar Putri.
Dokter Matt terkejut mendengar semua itu. Ia ingin menjelaskan pada Putri bahwa minuman manis dengan gula yang banyak, tak baik untuk kesehatan ibu hamil. Namun lagi-lagi ini bukanlah waktu yang tepat.
"Mas nya?" tanya pelayan itu lagi.
"Ee, saya air mineral aja." jawab dokter Matt.
"Dingin?"
"Iya." lanjutnya kemudian.
Si pelayan itu kemudian pergi, sementara Putri terus membersihkan mata serta hidungnya.
"Mbak Putri kenapa?"
Akhirnya dokter Matt mendapatkan kesempatan untuk bertanya. Putri melempar pandangan ke atas meja.
"Bisa nggak dok, kita jangan membicarakan masalah saya dulu. Saya sedih kalau ingat itu semua, saya lagi laper parah sekarang."
"Ok." jawab dokter Matt.
Ia kemudian tak lagi bertanya perihal masalah yang menimpa Putri, sebab ia takut mengganggu kenyamanan pasiennya itu.
"Permisi, ini baksonya. Silahkan...!"
Bakso yang mereka pesan pun jadi, setelah beberapa saat menunggu. Sementara minuman sudah tiba sejak sebelum itu.
__ADS_1
"Hhhhh."
Putri membubuhkan sambal yang banyak ke mangkuknya. Hingga membuat dokter Matt yang tak tahan pedas jadi horor demi melihat hal tersebut.
"Mbak, itu bisa dimakan?" tanya dokter Matt seraya memperhatikan mangkuk Putri.
"Saya pusing dok, pengen makan pedes bawaannya. Aaron nyebelin." jawab Putri.
"Aaron?" Dokter Matt mengerutkan keningnya.
"Pacar saya, dok." jawab Putri lagi.
"Mantan." lanjutnya kemudian.
"Eh belum putus, ding. Masih koq."
Putri melahap bakso yang ada di mangkuknya.
"Kenapa jadi ngomongin Aaron sih dok?" tanya nya gusar.
Dokter Matt menarik nafas, lalu makan. Ia tak ingin berdebat dengan Putri mengenai hal tersebut. Padahal sedari tadi Putri sendirilah yang mulai duluan dalam membicarakan soal Aaron.
"Menurut dokter egois nggak sih?"
Dokter Matt menghentikan makan dan menoleh ke arah Putri. Sedang Putri menjeda ucapannya dengan menyedot es teh super manis yang ada di dalam gelas.
"Ya tergantung." jawab dokter Matt kemudian.
"Ini mau dipandang dari sudut mana dulu?" lanjutnya lagi.
"Maksud dokter?" tanya Putri tak mengerti.
"Aaron melakukan hal tersebut, bisa jadi karena dia memang sangat cinta terhadap mbak Putri. Tapi bisa juga dipandang sebagai sesuatu yang egois, sebab dia cuma memikirkan dirinya sendiri. Memikirkan kepuasan batinnya, keinginannya. Dan cinta tidak seperti itu harusnya."
Putri diam, dokter Matt melanjutkan makan.
"Menurut dokter, apa sikap Aaron itu benar?"
"Benar dan salah." jawab dokter Matt.
"Benar untuk cintanya, salah dalam menentukan sikapnya. Sebab cinta itu ya menerima. Apalagi kan di posisi ini mbak Putri nggak salah. Mbak Putri hamil pun bukan dari hasil perselingkuhan. Tapi karena unsur kesalahan di bidang medis. Gejolak keibuan yang muncul, rasa ingin mempertahankan, kasihan terhadap bayi ini. Itu semua adalah hal alami, yang seharusnya dipahami oleh Aaron."
"Tuh kan dok, kita jadi ngomongin Aaron lagi. Dokter sih mancing, saya kan kesel jadinya."
__ADS_1
Putri sewot.
Dokter Matt ingin rasanya menyiram kepala perempuan itu dengan kuah bakso yang masih mendidih di dalam panci. Baru kali ini ia berhadapan dengan ibu hamil yang suka playing victim dalam obrolan.
"Kan dari tadi mbak Putri yang duluan ngomongin soal Aaron. Saya cuma mengimbangi dan memberikan tanggapan loh mbak." Dokter Matt membela diri.
"Tuh kan jadi nyalahin saya." Putri ngambek.
"Iya nggak, saya yang salah."
Dokter Matt buru-buru berujar, sebab Putri sudah nyaris menangis. Ia tak ingin acara makan ini berakhir dengan drama Korea, ataupun serial India. Dokter Matt pun lalu menghabiskan makannya sebelum terjadi huru-hara lebih lanjut, begitupula dengan Putri.
***
Usai makan, dokter Matt berniat mengantar Putri pulang. Namun perempuan itu mengatakan jika ia masih ingin menenangkan pikiran. Karena takut terjadi apa-apa, maka dokter Matt memutuskan untuk menemani perempuan itu.
Putri meminta di ajak jalan-jalan ke tempat ramai. Dokter Matt memutuskan untuk membawa perempuan itu ke alun-alun kota peninggalan zaman kolonial.
Disana Putri tertawa-tawa, melihat ada banyak sekali pekerja seni yang menampilkan karya mereka di tengah keramaian. Ada pantomim, musik, cosplay, badut, maskot sebuah daerah dan lain-lain.
Dokter Matt dengan setia mendampinginya, meskipun hari tersebut sedikit terik. Putri melangkah kesana-kemari, mengajak dokter Matt jajan dipinggir jalan. Bahkan dokter Matt memakan makanan yang tak pernah ia makan sebelumya.
Tampak Putri begitu antusias terhadap segala hal. Karena memang seperti itulah dirinya, sebelum masalah malpraktek ini muncul dalam hidupnya.
"Dok, dokter nggak sibuk kan hari ini?" tanya Putri kepada dokter Matt, ketika mereka tengah berjalan-jalan ke arah para penjual souvernir.
"Mmm nggak, saya kan udah pulang dari rumah sakit." jawab pria itu.
"Bagus deh." ujar Putri seraya tersenyum.
"Soalnya saya masih mau lama-lama disini. Tapi kalau dokter udah capek dan pengen pulang, saya nggak apa-apa di tinggalin." lanjutnya lagi.
"Nggak koq, saya masih ok untuk jalan-jalan lebih lama lagi." ujar pria itu.
Putri kemudian melihat ada seseorang yang menjual gelang dari bahan tali. Putri menghampiri lalu membeli dua gelang. Dokter Matt hendak membayar namun Putri menolak. Sebab ditempat makan bakso tadi, dan di beberapa jajanan yang Putri beli ditempat tersebut. Semuanya sudah dibayar oleh dokter Matt.
Kali ini Putri ingin ia yang membayar, lalu kemudian ia meraih tangan dokter Matt dan memakaikan salah salah satu gelang itu disana.
Dokter Matt tersenyum melihat hal tersebut. Tak lama Putri kembali menggandeng tangannya, untuk menuju ke sebuah pertunjukkan musik.
Disana mereka mendekat ke arah band yang tidak terkenal, namun suara mereka sangat bagus sekali. Mereka menyanyikan lagu-lagu yang hits di kalangan anak muda.
***
__ADS_1
Instagram @p_devyara.