Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Beristri Dua, Senang Atau Masalah?


__ADS_3

"An."


Adnan menelpon Anita.


"Iya mas." jawab Anita kemudian.


"Aku malam ini nginep di tempat Putri ya." ucap pria itu dengan nada penuh keragu-raguan.


"Ngi, nginep mas?" tanya Anita dengan suara yang sedikit kacau. Ia terkejut dengan jantung yang tiba-tiba berdegup kencang.


"Iya, kan aku udah beberapa hari di rumah. Nggak apa-apa ya, gantian?"


"Mmm."


Anita ragu, namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam.


"Iya mas, nggak apa-apa koq." ujarnya.


"Beneran nggak apa-apa?"


Adnan memastikan, sebab ia merasa ada kejanggalan dalam jawaban yang diberikan istri pertamanya tersebut.


"Iya mas, udah tenang aja."


Anita mencoba meyakinkan, dalam hati ia berusaha untuk ikhlas. Lagipula ada hak Putri sebagai seorang istri, untuk ditemani oleh suaminya.


"Maafin aku ya, An." ucap Adnan lagi. Ia dilanda oleh rasa bersalah yang besar.


"Nggak apa-apa mas, nggak usah minta maaf. Kamu itu suaminya dia juga. Kamu harus memenuhi haknya dia dan anak kamu."


"Makasih banyak ya." Lagi-lagi Adnan berujar.


"Sama-sama mas." jawab Anita.


Lalu Adnan pun berpamitan dan menyudahi telpon tersebut. Kini semuanya sama-sama terpaku di tempat. Adnan memikirkan Anita, dan Putri. Sedang Anita memikirkan Adnan lalu teringat pada Putri.


Sementara Putri sendiri yang mendengar percakapan Adnan di telpon dari balik tembok, tiba-tiba terdiam memikirkan suaminya dan juga si istri pertama.

__ADS_1


Entah sampai kapan situasi rumit ini akan berlangsung, dan entah dimana batas kesabaran dari ketiganya akan berakhir.


"Lo kenapa, Nit?"


Firza bertanya pada Anita. Saat ini mereka masih berada di kantor karena memang belum jam pulang. Adnan saja yang membolos bersama Putri.


"Laki gue minta nginep di rumahnya si Putri." jawab Anita jujur.


Firza dan rekan kerja Anita lainnya yang mengetahui perkara itu saling menatap satu sama lain. Padahal mereka sudah tak ingin membahas soal itu, demi menyenangkan hati Anita. Namun kali ini mau tidak mau mereka pun ikut bersuara.


"Laki lo sebenarnya ada rasa nggak sih sama perempuan itu." tanya Dini penasaran.


"Nggak tau, katanya sih sebelum nikah nggak ada rasa. Tapi mungkin aja itu cuma buat menyenangkan hati gue. Namanya mereka udah nikah, udah begituan, ceweknya lagi hamil pula. Mustahil nggak ada rasa walaupun sedikit." jawab Anita kemudian.


Para rekan kerja Anita serentak membuang pandangan ke bawah, sambil menarik nafas panjang. Mereka tak dapat membayangkan jika mereka ada di posisi Anita.


"Nit, sorry. Sorry banget." ujar Inka.


"Lo, kenapa nggak minta cerai aja dari suami lo?" ujarnya kemudian.


"Sorry banget sekali lagi. Gue cuma nanya dan heran, sama perempuan yang sakit di duakan tapi masih bertahan. Gue nggak bilang lo bodoh atau apa ya. Gue mau tanya aja, apa alasannya. Apa yang bikin lo berat buat ninggalin Adnan?"


Anita menghela nafas, dan membuang tatapannya jauh ke suatu sudut.


"Gue..."


Anita menghentikan ucapan sejenak karena ragu. Namun kemudian ia pun melanjutkan.


"Gue masih cinta dengan mas Adnan. Selama dua belas tahun pernikahan ini dia nggak pernah berpikir mau menceraikan gue atau menambah istri lagi, hanya karena gue nggak bisa punya anak." ujarnya.


"Kalaupun sekarang dia menikah lagi, itu karena tuntutan keadaan. Dan ketika dia melakukan hubungan itu dengan Putri, itu adalah kewajiban dia sebagai seorang suami dan ayah bagi anaknya. Semua yang menikah itu punya kebutuhan, baik lahir maupun batin. Seandainya mas Adnan itu jahat dari dulu, selingkuh sana-sini. Mungkin udah lama gue tinggalin."


Rekan-rekan kerja Anita menatap perempuan itu dan mencoba mengerti. Meski bagi mereka itu semua masih sulit diterima akal sehat. Tapi cinta memang selalu tak bersyarat. Seperti cinta Adnan kepada Anita selama ini, dan seperti cinta Anita kepada Adnan saat ini.


***


Malam itu Anita tidur sendirian, namun seperti pesan teman-temannya sebelum mereka pulang kerja. Anita harus bersemangat dan tak boleh kalah oleh keadaan.

__ADS_1


Maka dari itu Anita tak ambil pusing. Ia mendengarkan irama sleep song dengan bantuan sebuah headphone. Sebelum itu ia memasang sleep patch di tangannya dan kemudian pergi tidur. Dalam sekejap ia sudah terlelap.


Sedang di kediaman Putri, sejak sebelum tidur kemesraan kembali terjadi. Meski sempat memikirkan Anita, namun baik Adnan maupun Putri tak bisa berbuat banyak selain menjalani malam ini dengan baik.


Sebab tak setiap hari Adnan bisa menginap, dan lagipula Putri tak berhak cemburu jika Adnan memikirkan istri pertamanya. Karena ia datang ketika laki-laki itu telah beristri.


"Mas, dingin."


Putri berujar malam itu. Padahal air conditioner sudah di matikan sejak tadi. Namun keadaan di luar memang sedang hujan deras, hingga udara memang terasa dingin sekali.


"Sini."


Adnan menarik Putri ke dalam pelukan. Kemudian menaikkan selimut hingga ke atas. Putri merasa cukup hangat dan memejamkan mata. Kemudian mereka tertidur.


Namun menjelang dini hari, udara terasa semakin menggigit tulang. Adnan dan Putri terbangun, dan saling mempererat pelukan.


Sedang Anita yang juga terbangun dan menghadap ke arah tempat biasa Adnan tertidur, harus menerima kenyataan jika malam itu sang suami sedang menginap di rumah madunya.


Anita dengan besar hati menarik selimut lalu memeluk bantal guling. Sementara Putri yang kedinginan malah dibuka seluruh bajunya oleh Adnan.


Usai membuka baju istri keduanya itu, Adnan melucuti pakaiannya sendiri. Kemudian mereka saling berpelukan di dalam selimut dan mendadak tubuh Putri terasa hangat.


Mengulang kejadian tadi sore, mereka pun melakukannya lagi. Hingga setelah mencapai *******, keduanya benar-benar tertidur lelap sampai pagi.


***


"Ya namanya juga cowok, Put. Kalau udah depan mata ya pasti di embat juga. Apalagi lo istri sahnya juga walau yang kedua, bukan selingkuhan. Soal cintanya dia yanng berat ke arah mana, ya belum akan ketahuan."


Shanin berujar pada Putri, Ketika Putri mengatakan pada sahabatnya itu jika ia sempat dua kali melakukan hubungan dengan Adnan.


Meski tak bercerita secara detail dan gamblang, tapi intinya ia bertanya pada Shanin dan juga Tari. Apakah itu artinya Adnan benar mencintai dirinya, atau hanya terbawa suasana.


"Menurut gue Put, asli nggak asli perasaan pak Adnan ke elo. Lo jangan pernah berharap banyak. Apalagi sampai berharap jahat, untuk menguasai dia seutuhnya. Ada mbak Anita yang akan lo sakiti."


Tari menimpali ucapan Shanin. Kemudian Putri pun mengangguk.


"Ya meskipun itu hak lo, tapi sebagai teman apa salahnya kalau gue dan Shanin mengingatkan." Tari melanjutkan perkataan dan lagi-lagi Putri mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2