
Putri melangkah dengan gontai, seolah semua itu menyedot habis tenaga yang ia miliki. Ditambah lagi ini ia cuma sarapan segelas kental manis saschetan. Praktis tenaganya pun tak begitu banyak.
Ia terus melangkah dengan tatapan yang bengong dan kosong. Sampai kemudian,
"Tiiiin."
Sebuah klakson kencang terdengar dari sebuah mobil yang lumayan ngebut.
Putri kaget dan menyadari jika ia hampir berada di tengah jalan. Si pemilik mobil itu menepi lalu keluar. Dengan wajah penuh kekhawatiran ia menghampiri Putri.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya nya kemudian.
Putri menggeleng. Tampak wajah gadis itu sangat pucat. Si pria dapat melihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Kamu mau kemana?" tanya pria itu pada Putri.
"Ini bukan jalan yang lazim dilalui pejalan kaki loh." ujarnya lagi.
"Saya mau kerja, pak. Di seberang sana."
Putri menunjuk dimana minimarket tempatnya berkerja berada.
"Ya sudah saya antar." ucap pria berwajah tampan itu.
__ADS_1
"Nggak usah pak, terima kasih."
Putri tak bisa langsung saja mempercayai orang yang baru ia temui. Sebab di jaman sekarang banyak sekali modus penculikan, yang berujung pada perdagangan manusia.
Jika ia masuk ke dalam mobil pria itu, tak akan ada yang bisa menjamin. Perihal apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dan lagi Putri adalah perempuan yang tak memiliki power cukup untuk melawan tenaga laki-laki.
"Nggak apa-apa, saya bukan orang jahat. Daripada kamu jalan, muter nya masih jauh lagi. Mobil disini ngebut semua, bahaya."
Pria tersebut masih memaksa. Dengan penuh keraguan Putri pun akhirnya mengiyakan. Ia kemudian masuk ke dalam mobil pria itu dan mereka mulai berjalan.
"Nama saya Adnan, kalau kamu siapa?"
"Putri pak." jawab Putri.
"Kamu biasa lewat jalan itu tadi?. Setiap berangkat bekerja begitu?" tanya Adnan.
"Sebenarnya saya naik angkot pak. Stop di pertigaan bawah sana karena angkotnya nggak lewat sini. Biasanya saya sambung dengan ojek pangkalan atau ojek online." jawab Putri jujur.
"Kenapa tadi nggak naik ojek?" tanya Adnan lagi.
"Kan banyak disitu ojek pangkalan tadi saya lihat." lanjut pria itu.
__ADS_1
Putri tak dapat menghindar lagi. Tadinya ia ingin mengatakan jika ojeknya tengah tidak ada, makanya ia jalan kaki..
"Saya nggak punya cukup uang pak."
Putri terpaksa mengatakan hal tersebut. Ia bukan minta dikasihani, hanya saja ia bingung harus berbohong apa, untuk menutupi.
"Kamu tinggal sama orang tua?" tanya Adnan.
"Nggak pak, mereka di kampung." jawab Putri.
"Disini ngekos?" lagi-lagi Adnan bertanya.
"Iya pak." jawab Putri.
Putri hanya mesem-mesem, kemudian pergi ke atas untuk meletakkan tas di dalam loker. Kebetulan atas sepi, Putri menghitung jumlah uang yang tadi diberikan Adnan.
"Hah, dua juta?"
Putri benar-benar kaget. Karena tak mengira akan sebanyak itu jumlahnya. Ini lebih dari cukup untuk naik ojek, bahkan untuk makan sampai gaji bulan depan turun.
"Gila, baik banget itu orang. Udah ganteng, baik lagi. Untung gue ikut naik ke mobilnya tadi. Lumayan dapat rejeki segini." ucap Putri.
Tak lama terdengar langkah naik ke atas. Putri langsung memasukkan uang itu ke dalam tas. Kemudian tas tersebut ia masukkan ke dalam loker dan ia lalu mengunci loker tersebut.
__ADS_1
Sesaat setelahnya ia pun turun ke bawah dan mulai bekerja bersama shift yang berbarengan dengannya.