Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Janji


__ADS_3

Esok hari sesuai janji, Adnan kembali mengunjungi Putri dan berniat bermalam di rumah sakit. Beberapa saat sebelumnya ia sudah berkata pada Anita jika ia akan segera berangkat ke luar kota. Bahkan dari semalam ia sudah berpamitan pada istrinya tersebut.


Tristan juga membantu kebohongan Adnan, dengan mengatakan pada Anita jika ia berada di dalam perjalanan bisnis yang sama dengan Adnan.


Anita pun percaya saja, lagipula saat ini Anita telah kembali dekat dengan Ulfa dan juga Rinda. Jadi Anita tak begitu merasa kesepian bila ditinggal oleh Adnan. Ia masih memiliki tempat bercerita.


"Saya bawain makanan, kamu makan ya Put. Saya tau kamu bosan sama makanan rumah sakit."


Putri tersenyum, dari awal kedatangan Adnan tadi ia sudah merasa gembira. Bahkan seperti ada getaran di dalam perutnya. Seolah bayi yang tengah ia kandung begitu semangat mendapati kedatangan sang ayah.


"Bapak bawa apa?" tanya Putri kemudian.


"Ini ada ayam bakar, sama aku bawain cake dan buah-buahan juga. Makan ya." ujar Adnan.


Putri mengangguk dengan penuh semangat. Adnan lalu menyiapkan makanan tersebut, menarik meja yang menempel di ujung tempat tidur, lalu mulai meletakkan makanan tersebut di sana.


"Saya suapin ya." ujarnya kemudian.


"Tapi pak."


"Udah nggak apa-apa."


Adnan mulai menyuapi Putri dengan tangannya.


"Saya udah cuci tangan koq."


Adnan kembali berujar ketika ia mengambil nasi dan ayam bakar tersebut dengan tangan telanjang, tanpa sendok. Putri sedikit terdiam, namun kemudian ia menerima suapan tersebut.


"Bapak nggak makan?" tanya Putri seraya mengunyah.


"Nanti, saya beli dua koq itu. Kamu dulu aja yang makan." jawab Adnan.


Putri kembali tersenyum, mendadak hatinya begitu riang gembira. Padahal hanya diperlakukan dengan cara yang sederhana. Bahkan Aaron pun pernah melakukan hal semacam ini padanya. Namun entah mengapa rasanya begitu berbeda, saat Adnan yang melakukan.


"Enak nggak?" tanya Adnan pada Putri. Wanita itu pun mengangguk.


"Enak koq." jawabnya kemudian.


Adnan lalu kembali menyuapi Putri, Putri makan dengan lahap. Karena ada si kecil yang ikut makan di dalam dirinya.


***


"Sha, si pak Adnan jadi jagain Putri hari ini?"


Tari bertanya pada Shanin di telpon.


"Jadi kata Putri, orang udah datang dari tadi." jawab Shanin.


"Berarti kita nggak usah kesana dulu kali ya?" ujar Tari lagi.


"Iya, biarin mereka berdua dulu. Takutnya banyak orang, si Putri malah runyam dan stress." tukas Shanin.


"Iya sih, lo dimana ini?" tanya Tari.


"Ini lagi di jalan, mau ke supermarket gue." jawab Shanin.


"Mau belanja?" Lagi-lagi Tari bertanya.

__ADS_1


"Iyalah, masa mau ketemu dokter Matt."


"Cie yang otaknya mulai keracunan dokter Matt."


"Hehehe, lo juga kan?" tanya Shanin.


"Iya sih, hehehe."


"Ya udah gue jalan dulu ya, Tar."


"Ok, hati-hati di jalan Sha."


"Sip."


Tari lalu menyudahi telponnya pada Shanin. Shanin sendiri akhirnya menyambangi sebuah supermarket. Ia berniat membeli banyak keperluan hari ini. Sebab apa-apa yang penting di kediamannya telah habis sejak kemarin.


Shanin memarkir mobil di basemen, ia masuk ke supermarket lalu mengambil troli. Tak lama, ia pun terlihat sudah berkeliling kesana-kemari sambil memilah-milah apa yang hendak ia beli.


"Sabun, shampo, sikat gigi."


Shanin melihat benda di dalam troli sambil mengira-ngira, barang apa yang belum ia ambil.


"Oh iya lulur." ujarnya kemudian.


Shanin ingat jika tadi ia sudah melewati barisan lulur. Maka gadis itu kemudian mundur ke belakang. Namun tiba-tiba,


"Braaak."


Bagian belakang tubuhnya bertabrakan dengan bagian belakang tubuh seseorang. Shanin dan orang tersebut kemudian refleks sama-sama menoleh.


"Dokter Matt?"


Lalu hening mendadak menyeruak. Shanin dan dokter Matt bersitatap dalam diam. Namun setelah itu keduanya sama-sama tersenyum.


"Lagi belanja?"


Keduanya mengeluarkan pertanyaan yang sama, di waktu yang nyaris bersamaan pula.


"Iya."


Keduanya memberikan jawaban yang persis pula, dan sambil tersenyum satu sama lain. Seketika suasana pun berubah menjadi canggung. Dokter Matt tampak mengatur nafas, sementara wajah Shanin bersemu merah.


"Mau bareng?" tanya dokter Matt kemudian.


Shanin terkejut mendengar pertanyaan tersebut, namun ia dengan cepat memberi jawaban.


"Bo, boleh."


Dokter Matt tersenyum, begitupula dengan Shanin. Tak lama setelah itu keduanya sudah terlihat mendorong troli ke arah yang sama, sambil berbincang.


***


"Mau kemana, Put?" tanya Adnan yang baru saja kembali dari luar. Pria itu buru-buru mendekat ke arah Putri yang berusaha bangun.


"Saya mau ke toilet pak." jawab Putri.


Adnan pun lalu membawa infus berikut holder, sambil memapah Putri ke arah kamar mandi. Sesampainya disana Adnan meninggalkan Putri lalu menutup pintu. Tak lama kemudian Putri selesai dan Adnan membantunya keluar dari tempat tersebut.

__ADS_1


"Bapak beneran mau di sini sampai pagi pak?" Putri mencoba memastikan, meski Adnan telah berkata padanya sejak kemarin.


"Iya, nggak masalah kan?" tanya Adnan kemudian.


"Ya nggak masalah sih, tapi gimana sama mbak Anita?" Putri kembali bertanya.


Mendadak Adnan jadi sedikit gelagapan.


"Dia, mmm. Dia baik-baik aja, saya udah izin koq." jawab Adnan.


"Oh ok, saya cuma nggak enak aja sih pak." ujar Putri lagi.


"Anita nggak masalah, kamu tenang aja ya."


"Ok." jawab Putri sambil tersenyum.


Adnan membantu Putri untuk kembali berbaring di atas tempat tidurnya.


"Kamu ada yang mau di makan lagi nggak?. Biar saya beliin di luar." ujar Adnan.


"Nggak ada pak, saya masih kenyang banget ini." jawab Putri.


"Ok." Adnan tersenyum pada perempuan itu dan begitupula sebaliknya.


***


"Ini, ini, ini dan ini."


Ibu Aaron tampak memilih buah-buahan yang hendak ia beli.


"Banyak amat mi." ujar Aline seraya memperhatikan.


"Ini besok mau mami bawa ke si Putri, kan dia sakit." jawab ibu Aaron.


"Putri sakit?"


"Iya, dia di rawat di rumah sakit. Kata Aaron sih udah membaik, tapi mami mau jenguk dia besok. Soalnya kalau hari ini sudah terlalu sore."


"Sakit apa dia, mi?" tanya Aline lagi.


"Katanya sih kecapean sama anemia. Ya biasalah, permasalahan kebanyakan perempuan hamil."


"Oh." jawab Aline singkat.


"Mi, mami serius masih mau menerima Putri?" Tiba-tiba Aline melontarkan pertanyaan yang membuat sang ibu tersentak.


"Ya serius dong, kan Putri nggak salah apa-apa." jawab ibu Aaron.


"Itu anak kan nantinya bisa di gugurkan." lanjut perempuan itu lagi.


"Kalau misalkan anak itu nggak bisa digugurkan, atau nggak mendapat izin dari pihak yang berwajib gimana mi?"


Ibu Aaron terdiam.


"Ini Aline cuma nanya koq, mi. Bukan sedang berusaha menyuruh mami untuk menolak Putri. Aline nggak ada masalah soal itu. Aline cuma mau tanya nasib anak yang dikandung Putri itu nanti gimana."


Kali ini ibu Aaron menghela nafas.

__ADS_1


"Kita liat aja keputusannya nanti, Lin. Biar bagaimanapun, kembalikan ke Aaron saja. Kalau mami sih nggak masalah, misalkan anak itu harus lahir dan dibesarkan oleh Aaron atau keluarga kita. Yang jelas itu biarkan jadi keputusan Aaron dan juga Putri." jawab ibunya kemudian.


__ADS_2