
"An."
"Aku capek banget mas, mau mandi dan langsung tidur rasanya."
Anita yang baru pulang sedari melamar calon istri baru untuk suaminya itu berujar. Kemudian ia melepas hiasan rambut yang tadi dipakai untuk mendandaninya. Ia kini tak melihat ke arah sang suami.
"An." Adnan kembali memanggil namanya.
"Kamu juga langsung mandi mas, terus istirahat."
"Anita."
Tegas suara Adnan terdengar. Wanita itu menghentikan langkah, namun tetap membelakangi sang suami.
Adnan secara serta merta mendekat lalu membalikkan tubuh sang istri dan memeluknya. Tangis Anita pun pecah di dada pria itu.
"Maafin aku, An. Maafin aku." ujar Adnan seraya menitikkan air mata.
Anita makin terisak. Sejatinya sejak di dalam mobil tadi ia sudah sangat ingin menangis. Seberapapun kuatnya ia menjalani hidup ini, ia tetaplah seorang wanita yang memiliki sisi lemah dan rapuh.
Tadi ia sengaja beralasan ingin cepat-cepat mandi, agar ia segera bisa menangis di bawah terpaan air shower. Dengan begitu Adnan tak akan melihat kesedihannya. Meskipun mungkin nanti akan meninggalkan bekas seperti mata yang sembab.
"Aku dan keluarga aku udah menyakiti kamu, Anita. Maafin aku, maafin aku atas semua yang terjadi dalam hidup kamu."
Anita makin erat memeluk suaminya itu.
"Kamu nggak perlu minta maaf mas, ini bukan salah kamu. Bukan salah siapa-siapa, ini udah takdirnya. Kita diberi anak dengan cara seperti ini, melalui rahim perempuan lain. Kamu nggak selingkuh dari aku, jadi nggak perlu minta maaf."
Adnan menyeka air mata yang mengalir di pipinya, juga yang mengalir di pipi Anita. Kemudian mereka kembali berpelukan satu sama lain.
***
"Put, Adnan sudah melamar kamu. Setelah kamu sembuh nanti, kamu akan segera dinikahkan. Saat ini Adnan sudah mengurus segala berkas yang diperlukan."
Tante yang menjenguk Putri mengatakan semuanya pada perempuan itu. Putri hanya diam, perasaanya campur aduk. Antara mungkin senang tapi tidak terlalu jelas. Sedih, tapi tidak terlalu menusuk di hati.
Perasaan itu seperti bercampur begitu saja. dan sulit untuk diartikan lebih condong ke arah mana.
"Tadi tante lo ngapain kesini Put?" tanya Shanin ketika tante Putri sudah pulang. Tadi sempat Shanin dan Tari berpapasan dengan tante Putri tersebut di depan kamar.
"Dia ngabarin kalau gue udah di lamar pak Adnan." jawab Putri.
__ADS_1
"Lo udah dilamar?" tanya Tari dengan nada kaget. Hal tersebut diikuti tatapan Shanin.
Putri mengangguk.
"Bentar lagi gue bakal nikah sama dia."
Putri berujar dengan nada pelan. Seperti ada energi dalam ucapan itu, namun tak terlalu jelas. Tetapi tak pula terdengar datar. Putri mungkin bingung dalam mengekspresikan perasaannya saat ini.
"Terus Aaron gimana put?" tanya Tari lagi.
Shanin kini menatap sahabatnya itu, sementara Putri agak sedikit tertunduk.
"Ya mau gimana lagi, anak ini butuh bapaknya." jawab Putri.
"Dia terpaksa ngalah." lanjutnya lagi.
Shanin dan Tari lalu sama-sama menggenggam tangan Putri dan detik berikutnya mereka saling berpelukan.
***
Malam Hari.
Anita tertidur di pelukan Adnan, usai keduanya sama-sama menangis. Anita terlihat nyenyak sekali, karena sepertinya ia lelah secara fisik dan juga mental.
Hatinya tak terlalu kehilangan getar itu, semua masih sama seperti semula. Hanya saja semua kesakitan ini harus terjadi. Budaya dalam keluarganya yang masih menganggap jika pernikahan itu harus menghasilkan keturunan. Hal tersebutlah yang membuat mereka semua kini terjebak di dalam kusutnya jaring permasalahan.
"Mas, jangan kemana-mana." ujar Anita ketika ia setengah terbangun.
"Aku disini." ujar Adnan lalu mencium kening istrinya itu.
Anita kembali memejamkan mata, dan Adnan terus memeluk istrinya itu.
***
Di waktu yang sama.
Aaron tengah mempacking barang-barang miliknya. Dalam waktu dekat ia akan segera kembali ke London. Dan ketika tengah membereskan lemari, ia menemukan album foto dirinya dan juga Putri. Di mulai pada saat mereka masih sama-sama remaja dan masih mengenakan pakaian sekolah.
Aaron tersenyum, ia merasa bernostalgia sekaligus miris. Tak ada yang menyangka pada perjalanan hidup seseorang. Bahwa waktu yang sekejap saja bisa merubah segalanya.
Ia menjalani hubungan dengan Putri dengan baik dan penuh kebahagiaan. Hampir tak ada pertengkaran yang mewarnai hari-hari mereka. Tak pernah terbersit di benak Aaron bahwa ia dan Putri ternyata bisa terpisah.
__ADS_1
Bahkan oleh sebab yang mungkin tak terpikirkan oleh siapapun. Siapa yang mengira jika peristiwa semacam ini akan terjadi. Belum pernah satu kasus pun terjadi dalam belasan tahun terakhir. Seorang dokter dan perawat yang begitu ceroboh. Membuat seorang pasien mengandung anak dari orang yang tak dikenal.
Tapi itulah permainan takdir. Semua bisa saja terjadi dan menimpa siapapun itu, tanpa di sangka-sangka. Kadang sang pencipta alam terlihat seperti terlalu kreatif dalam menentukan jalan hidup seseorang.
"Lo udah nyadar, kalau si Putri itu udah nggak bisa lo pertahankan?"
Aline tiba-tiba melintas di depan pintu kamar Aaron yang sedikit terbuka. Aaron yang agak malas meladeni sang kakak, kini menyibukkan dirinya dengan memasukkan baju ke dalam koper.
"Lagian udah jelas hamil sama cowok lain, masih aja lo bertahan."
"Lin, udalah. Nggak ada hubungannya juga sama lo. Gue lagi nggak mau ngebahas hal itu." jawab Aaron.
"Hhhh." Aline menghela nafas.
"Gue cuma pengen lo cari kebahagiaan lain. Bukan maksa sama cewek yang rela memberikan rahimnya buat suami orang."
"Ya tapi kan dia nggak salah."
"I know." Aline menatap Aaron dalam-dalam.
"Tapi dia bisa memilih kalau mau." lanjut wanita itu.
Aaron kini yang terlihat menghela nafas panjang.
"Gue satu-satunya orang yang peduli terhadap perasaan lo." Lagi-lagi Aline berujar.
Aaron memejamkan matanya sejenak, lalu menjatuhkan pandangan ke lain sudut.
"Gue mau lo segera move on, lupain Putri. Gue sayang sama lo, gue mau lo bahagia."
Aaron terdiam, Aline kini pergi meninggalkan tempat itu.
***
"Nggak nyangka ya Sha, si Putri nikahnya sama pak Adnan." ujar Tari pada Shanin. Ketika mereka telah keluar dari rumah sakit, dan saat ini baru saja masuk ke dalam mobil Shanin.
"Ya, takdir siapa tau Tar." jawab Shanin.
"Iya sih, masih nggak nyangka aja. Bakalan begini jadinya. Padahal cuma dari niat menjalani tes kesuburan. Malah hamil anak orang. Sekarang mau nikah sama bapak dari si bayi yang dia kandung." ujar Tari lagi.
"Semoga, Putri kedepannya bisa bahagia. Apapun yang akan terjadi nantinya."
__ADS_1
Shanin menghidupkan mesin mobil, lalu menginjak pedal gas. Mereka kini mulai merayap meninggalkan pelataran rumah sakit.