
"Dok, makasih ya udah nemenin saya." ujar Putri ketika ia akhirnya diantar pulang oleh dokter Matt.
"Sama-sama mbak Putri." jawab dokter Matt sambil tersenyum.
"Mbak Putri bisa naik sendiri kan?" tanya nya kemudian.
"Bisa koq, makasih ya sekali lagi."
"Sama-sama."
Putri menatap dokter Matt dan begitupun sebaliknya.
"Lock mobilnya, dok." ucap Putri.
"Eh, iya."
Dokter Matt baru sadar jika sedari tadi ia belum membuka lock di pintu mobilnya. Ia kemudian melakukan hal tersebut dengan kondisi yang salah tingkah.
"Silahkan mbak Putri." ujarnya kemudian.
Putri tersenyum, ia kini paham jika dokter Matt adalah orang yang sangat gampang larut ke dalam sebuah momen.
"Saya pulang, dok." ujar Putri seraya keluar.
"Iya hati-hati mbak Putri."
"Iya."
Putri lalu berjalan menuju ke lobi apartemen dan menghilang dibalik pintu otomatis. Sedang kini dokter Matt kembali menekan pedal gas mobilnya dan meninggalkan tempat itu.
Disepanjang perjalanan pulang, entah mengapa dokter Matt jadi terus teringat pada Putri. Tadi ada beberapa kali Putri melakukan tindakan yang cukup memorable.
Seperti membersihkan makanan yang menempel di sudut bibir dokter Matt dengan tissue, atau menggandeng lengan dokter Matt saat mereka tengah berjalan bersama.
"Ah."
Dokter Matt berusaha menepis semua pikiran itu, ia kini mengingat jika Putri sudah memiliki kekasih yakni Aaron. Ditambah lagi Putri tengah mengandung bayi dari Adnan.
__ADS_1
Dokter Matt terus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dan kini ia melintasi sebuah jalan yang mengarah ke rumah.
Tiba-tiba, saat kira-kira beberapa menit lagi sampai. Dokter Matt tanpa sengaja melihat seorang perempuan yang melambaikan tangan, seperti minta tolong.
Maka pria tampan dan baik hati itupun segera menghentikan mobil di bahu jalan dan menghampiri sang perempuan.
"Mbak, kalau nggak salah temannya mbak Putri kan ya?" tanya nya kemudian.
Perempuan itu tersenyum. Masih terlihat jelas raut kaget di wajahnya, karena tak menyangka akan bertemu dengan dokter Matt di sana.
"Iya dok, saya Shanin." jawab perempuan itu.
"Oh iya, mbak Shanin kenapa mobilnya?" tanya dokter Matt lagi.
"Mogok dok, nggak tau kenapa. Saya mau nelpon derek, tapi baterai handphone saya habis. Nggak bawa power bank juga karena buru-buru. Saya ini nyetop orang random aja, mau pinjem hp buat nelpon derek." jawab Shanin lagi.
"Oh ok, saya yang telponin deh." tukas dokter Matt.
Tak lama ia pun menelpon mobil derek, untuk bisa membawa mobil Shanin ke bengkel terdekat.
"Kalau ada tali, mending di sambung ke mobil saya aja. Saya tarik sampai bengkel." ujar dokter Matt setelah menelpon.
"Saya tungguin deh."
"Emang dokter nggak sibuk?. Kalau sibuk dan mau jalan nggak apa-apa, saya tunggu dereknya sampai aja."
"Jangan, ini jalanan cukup sepi dan mbaknya perempuan loh. Lagi pula saya udah pulang kerja koq." ujar pria itu lagi.
"Wah, saya nggak enak dok." tukas Shanin.
"Di enakin aja mbak."
Dokter Matt berseloroh, membuat wajah Shanin mendadak bersemu merah dan salah tingkah. Ia kini jadi senyum-senyum dihadapan dokter itu.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya derek yang dinantikan itu pun tiba, mobil Shanin kemudian dibawa. Sedang Shanin sendiri di tawari tumpangan oleh dokter Matt, untuk sampai ke bengkel terdekat. Dimana mobil tersebut akan dibawa.
Setelah sampai bahkan dokter Matt menunggu hingga mekanik selesai memeriksa kendaraan dan menghampiri Shanin. Mekanik tersebut mengatakan jika mobil Shanin baru bisa selesai diperbaiki pada keesokan harinya.
__ADS_1
Maka dokter Matt kembali memberikan tumpangan bagi perempuan itu. Shanin pun tak menolak. Meski merasa tidak enak, namun bersama dokter Matt adalah salah satu hal yang paling ia khayalkan selama ini.
Ia minta diantar ke kediaman Tari. Dan seusai diantar oleh dokter Matt itulah, Shanin dan Tari bertemu dengan Putri. Putri menceritakan apa yang telah terjadi antara dirinya dan Aaron dirumah sakit. Disitulah kedua sahabat itu menjadi sangat marah atas sikap Aaron.
***
"Elo gimana sih, jadi cowok?"
Shanin dan Tari duduk di sisi kanan serta kiri Aaron di rumah sakit. Ini terjadi sehari setelah Putri curhat dan Shanin ditolong oleh dokter Matt. Mereka kini tengah mencecar Aaron atas sikapnya terhadap Putri kemarin.
"Katanya lo cinta sama Putri, malah kelakuan lo ngadi-ngadi."
Tari menimpali ucapan Shanin. Sementara Aaron hanya diam dan membuang pandangannya ke depan.
"Denger ya, Laron. Putri tuh terpukul banget loh, waktu tau dia hamil. Dia mikirin hubungan kalian nanti gimana, hampir setiap hari." Shanin kembali berujar.
"Iya, sampe jarang tidur, jarang makan, bengong mulu, dikit-dikit nangis. Saking takutnya elo menganggap dia gimana-gimana. Dia takut hubungan kalian berakhir, takut kehilangan elo." lagi-lagi Tari menimpali.
"Ya sekarang kalau emang dia cinta sama gue, takut kehilangan gue. Kenapa dia nggak memilih gue dan malah mempertahankan anak itu?"
Aaron menatap Shanin dan Tari secara pergantian. Kedua gadis itu sama-sama menghela nafas.
"Aaron, kita nih kaum cewek. Apalagi yang peka dan cenderung perasa kayak Putri. Kita tuh selalu bertindak berdasarkan perasaan. Dan walaupun lo cowok, gue yakin lo paham. Kalau cewek hamil itu hormonnya bisa aja berubah. Hal tersebut juga berpengaruh terhadap perasaan yang dia miliki." ujar Shanin.
"Bisa aja dia tiba-tiba memiliki rasa sayang terhadap bayinya. Dan perasaan itu mungkin kuat menguasai batin Putri. Mungkin dia jadi nggak tega menyingkirkan anak itu." lanjutnya kemudian.
"Iya, bener tuh kaya Shanin. Masalahnya yang dikandung Putri itu manusia, bukan orek tempe atau sambel tahu yang nggak punya ikatan batin. Jelas Putri akan dilema, sebab yang dia kandung memiliki nyawa. Dan nggak segampang itu untuk menghilangkan sebuah nyawa. Bunuh hewan aja kadang kita nggak tega."
Lagi dan lagi Tari menimpali. Meski dengan perumpamaan yang membuat Shanin nyaris terbahak-bahak.
"Terus gue harus gimana dong?. Menerima gitu?. Kalian mikirin perasaan Putri, apa kabar perasaan gue?"
"Lah elo cuma mikirin perasaan lo doang, apa kabar perasaan Putri?"
Shanin memutar balik omongan Aaron, hingga laki-laki itu kini merasa sedikit terpojok dan terdiam.
"Putri bilang, dia nggak apa-apa lo ninggalin dia. Karena dia sadar diri, bahwa dia sudah berbuat salah sama lo. Even itu bukan salah dia sepenuhnya. Dia hamil bukan berdasarkan keinginan dia. Sekarang dia rela kehilangan lo, demi supaya lo bisa bahagia sama orang lain nantinya. Yang nggak mengandung anak orang lain kayak dia." Shanin berujar seraya menatap Aaron.
__ADS_1
"Putri udah berkorban buat lo, sekarang lo mau berkorban nggak untuk Putri?. Katanya lo cinta, cinta itu harusnya tanpa syarat loh." Tari ikut-ikutan menatap pria itu.
Aaron pun semakin diam, namun hati dan pikirannya kini jelas berkecamuk.