
"Glek."
"Tak."
Anita meminum dan meletakkan gelas untuk yang kesekian kali ke atas table. Seperti sebelum-sebelumnya ia kini kembali menghabiskan waktu bersama dokter Matt di sebuah bar.
"Saya itu dari pertama kali jatuh cinta, udah cinta sama mas Adnan. Saya nggak pernah jatuh cinta lagi sama orang lain."
Anita mulai meracau sambil masih terus menuang minuman ke dalam gelas. Dan tentu saja ia menenggaknya.
"Saya nggak pernah ngerasain cemburu, dok. Seumur-umur kenal sama dia, dia nggak pernah selingkuh sekalipun dari saya. Sekarang kasusnya bukan selingkuh tapi menikah lagi. Bayangkan gimana kaget dan sakitnya hati saya sebenarnya, tanpa bisa saya menyalahkan siapa-siapa. Karena nggak ada yang salah dalam hal ini, kecuali dokter Fadly dan perawat itu. Tapi mereka juga sudah diampuni oleh saya, mas Adnan, dan Putri. Sekarang cinta diantara mas Adnan dan Putri mulai tumbuh, akibat perkara ini."
Anita tertawa, namun mengeluarkan air mata. Kemudian ia kembali menenggak minuman yang masih tersisa banyak di dalam botol. Sementara dokter Matt masih fokus mendengarkan.
"Sakit saya dok, dokter tau kenapa saya pake gaun ini?" tanya nya kemudian.
Dokter Matt menggeleng.
"Kami udah lama nggak bercinta. Karena adanya masalah ini, saya jadi nggak mood. Dan malam ini saya menginginkan itu semua. Tapi. mas Adnan bilang kalau dia pulang ke rumah Putri. Mereka pasti lagi begituan saat ini, saya yakin."
Anita menenggak minuman langsung dari dalam botol. Bahkan dokter Matt sampai harus menghalangi, saking kuatnya wanita tersebut minum.
"Saya mau di peluk, dok. Saya mau ditenangkan."
Anita memeluk dokter Matt, mau tidak mau pria itu pun akhirnya membalas. Ia juga kini terpikir pada ucapan Anita mengenai Putri dan Adnan. Tentang apa yang tengah mereka lakukan saat ini. Mendadak dokter Matt jadi memiliki kecemburuan yang lebih besar dari sebelumnya. Wajah Putri kini seolah menari-nari dalam benak pria itu.
***
London.
Aaron tengah berjalan di suatu tempat. Seperti hari-hari yang telah lalu, ia hidup namun tak terasa hidup. Raganya boleh jadi ada di negara itu. Namun hati dan pikirannya terus tertuju pada Putri.
Baginya wanita itu seperti candu, bahkan lebih mirip sebuah trauma. Selalu terngiang dan tak pernah hilang dalam ingatan.
"Buuuk."
Seorang gadis berwajah bule menjatuhkan banyak barang bawaan di dekat Aaron. Secara refleks Aaron pun membantu gadis itu membereskan barang-barangnya.
"Kim, aku duluan."
Seseorang lainnya berlari terburu-buru, namun sempat berkata pada si gadis bule.
"Iya, nanti aku menyusul." jawab gadis bule itu.
Aaron kaget, karena gadis bule itu tak menggunakan bahasa Inggris.
__ADS_1
"Kamu..?" Aaron bertanya, si gadis menyadari jika ia memiliki kesamaan dengan Aaron.
"Kamu juga dari sana?" tanya si gadis pada Aaron. Kini mereka telah berdiri dan barang-barang telah selesai dibereskan.
"Iya." jawab Aaron.
"Kamu sendiri?" tanya nya kemudian.
"Mama ku orang sana, tapi aku lahir dan besar disini." jawab gadis itu.
"Oh ya, Aaron."
Aaron mengulurkan tangannya.
"Kimberly." jawab gadis itu.
Mereka sama-sama tersenyum.
"Kopi?"
Aaron menawari tanpa basa-basi. Lalu Kimberly pun menyetujuinya tanpa banyak berbasa-basi pula. Dalam sekejap mereka sudah ada di sebuah coffee shop dan memesan dua cup kopi. Lalu mereka mencari tempat duduk dan kembali berbincang.
"Tapi kamu bahasanya cukup fasih." ujar Aaron pada Kim, usai menyeruput kopinya.
"Iya, karena dibiasakan di rumah. Sampai sekarang mamaku kalau ngoceh pasti nggak pernah pakai bahasa Inggris. Katanya nggak puas."
"Kamu mahasiswa?" tanya Kimberly pada Aaron.
"Ya." jawab Aaron seraya kembali tersenyum.
Dan mereka pun kemudian melanjutkan obrolan.
***
Kembali ke Bar.
Musik terdengar kian gegap gempita. Namun Anita merasa tak begitu bisa menikmati keadaan. Maka dokter Matt membawa wanita itu keluar dan berjalan-jalan di pinggir sebuah pantai.
Malam telah sedemikian larut. Putri berada dalam pelukan Adnan dengan tubuh polos tanpa sehelai benang pun menutupi. Hanya ada bed cover dan tubuh Adnan yang memberinya kehangatan.
"Hidup tuh emang brengseeeek."
Anita berteriak di lepas pantai. Tepat pada saat debur ombak bergerak dan menghempas ke arahnya.
"Haaaaaah." teriak lagi.
__ADS_1
Hati perempuan itu kemudian merasa begitu puas. Dokter Matt mendekat, mereka lalu mengobrol banyak hal di bibir pantai.
"Dok."
"Hmm?"
"Apa dokter pernah jatuh cinta?" Anita melontarkan pertanyaan.
Dokter Matt menggeleng.
"Nggak." jawabnya kemudian.
"Putri?"
Dokter Matt terdiam dan tak bisa memberikan jawaban lagi. Ia sendiri tak mengetahui secara pasti, apakah hal tersebut cinta atau hanya obsesi semata.
Anita menatap ke langit luas, secara serta merta dia menempelkan kepalanya di bahu dokter Matt. Dokter itu tak menolak dan lebih memilih diam. Namun tak lama ia merangkul bahu Anita. Anita mendongak menatap wajah dokter Matt dan begitupun sebaliknya.
Lalu, suasana dingin membuat mereka lupa akan segala hal. Matt mendekatkan bibirnya ke bibir Anita, dan Anita pun tak memberi perlawanan. Keduanya lalu larut dalam kecupan yang kian lama kian bertambah panas.
***
Hujan turun dengan deras, kebetulan air conditioner masih hidup dan memberikan sensasi dingin tersendiri di tubuh Putri.
"Hmmh."
Wanita hamil itu bersuara dan makin memeluk tubuh sang suami.
"Dingin ya?" Adnan yang terbangun bertanya pada istrinya tersebut.
"Iya mas." jawab Putri.
Adnan mematikan air conditioner, lalu menaikkan bed cover hingga menutupi seluruh tubuh Putri dan juga tubuhnya.
Putri bisa merasakan hangatnya tubuh sang suami, sebab mereka berpelukan cukup erat meski terhalang kehamilan.
Adnan mencium kening Putri, lalu mencium bibir perempuan itu cukup lama. Putri merasakan ada yang tegang di bawah sana, yang menempel di area sensitif miliknya.
Cuaca makin dingin, dan keduanya kian tak sanggup menahan hasrat. Padahal sore hari mereka sudah melakukannya. Kini mereka malah menginginkannya kembali.
Sementara di sebuah kamar hotel, Anita dan dokter Matt juga tampak tak bisa menahan lagi semuanya. Anita sudah tak terlalu mabuk seperti semalam, kini ia dilanda gairah yang teramat besar.
Sedang dokter Matt hanyalah seorang laki-laki, yang telah lama tidak bersenang-senang. Ditambah ia tengah cemburu dan sakit hati pada Adnan atas diri Putri.
"Mas Adnan, nggak tahan mas."
__ADS_1
Putri membuka kedua kakinya sendiri di hadapan sang suami. Adnan sangat menyukai hal yang begitu panas seperti ini. Putri benar-benar telah berubah menjadi wanita penggoda yang sayang untuk di lewatkan.
Maka sambil masih memberikan ciuman, Adnan mulai menghantam istri keduanya itu dengan hujaman kenikmatan.